Ode Terpilih Untuk Pemakaman

Berikut ini adalah puisi terjemahan karya Ezra Pound yang berjudul Hugh Selwyn Mauberley, puisi ini adalah puisi terpanjangnya, sekaligus titik balik dalam karir kepenyairannya. Diterjemahkan oleh Muhammad Nurthariq.

I

ODE TERPILIH UNTUK PEMAKAMAN

TIGA tahun lamanya, kehilangan kunci waktu,

Ia berusaha membangkitkan mayat

puisi; untuk mempertahankan “keagungan”

yang kuno. Salah sedari awal —

tidak sepenuhnya salah, tapi, ia lahir

di negeri setengah biadab, ketinggalan zaman;

yang membungkuk memerah bakung dari bijinya;

Capaneus; cacing untuk dijadikan umpan

kita tahu semuanya yang milik Troy

Terperangkap di denging telinga yang tak henti;

Memberi celah pada batu karang kecil

Laut yang tercacah menahannya, disitu, di tahun itu.

Penelope sejatinya ialah Flaubert

Ia memancing di atas pulau yang gigih;

Mengamati keanggunan rambut Circe

daripada sebaris semboyan pada jam matahari

tak terpengaruh oleh “rangkaian peristiwa,”

ia berjalan dari ingatan tahun ke-tiga belas

dari usianya; pada peristiwa hari ini

tak ada hiasan pada tiara Muses

II

Zaman menuntut suatu imaji

Perihal seringai yang selalu memburu,

Sebuah ihwal untuk panggung abad modern,

Yang, bagaimanapun juga, bukanlah belas kasih Attic

bukanlah, tentunya, lamunan yang tersembunyi

dari pandangan mata batin;

kebohongan lebih baik

daripada kata bijak kuno yang selalu diulang!

Sungguh “zaman menuntut” jamur pada perban

Yang terbuat oleh nir-waktu,

Sebuah cerita kinema, yang bukan, pualam

Atau suatu pahatan rima

III

Kebun mawar, gaun rumah dan lain-lain

Merebut derajat gaun mousseline dari Cos,

Pianola mengganti

Barbitosnya Sappho

Kristus mengikuti jejak Dionysus,

Phallus dan jamuan dewa

Menuntun pada rasa letih

Caliban mengusir Ariel.

“Semua benda mengalir,”

Ujar si bijak Heraklitus;

Tapi semua rongsokan

Akan memenuhi hari-hari

Bahkan kecantikan Kristiani

berpindah — ke Samothraki;

kita melihat kebajikan

diputuskan di pasar-pasar

kita tak bertubuh Faun

pun berpenglihatan santo

kita punya media untuk sebatang wafer;

waralaba untuk ritual sunat

semua manusia sama di hadapan hukum.

Lepas dari belenggu Peisistratus,

kita bebas memilih penjahat atau kasim

sebagai raja

O Apollo Yang Bijak,

Tuhan apa, manusia apa, pahlawan apa?

Tuhan mana, manusia mana, atau pahlawan mana

Yang lehernya harus ku kalungkan timah!

IV

Peperangan ini, sebagian percaya, untuk kepentingan kelompok. .

sebagian untuk perang itu sendiri

sebagian demi petualangan,

sebagian karena rasa takut akan kelemahan,

sebagian kengerian akan kecaman,

sebagian hasrat atas pembantaian, dalam imajinasi, untuk dipelajari kemudian. . .

sebagian lainnya takut, mencintai pembantaian

matilah mereka yang “rela mati demi negerinya”. .

mata menatap ke kedalaman neraka

percaya dusta orang-orang tua, lalu berpaling

pulanglah mereka, pulang pada dusta,

pulang pada tipu daya,

pulang ke kebohongan lama dan kehinaan baru;

rente yang mengabad

dan para penipu yang berkeliaran di muka publik

lebih berani dari sebelumnya,

lebih menganggur dari sebelumnya

darah muda dan panas,

rahang tajam dan tubuh yang sempurna;

lebih sabar dari sebelumnya

lebih terbuka dari biasanya, waras tak seperti pendahulunya

histeria, komunitas pengakuan,

tawa yang keluar dari perut yang mati

V

Jutaan mati,

Dan orang-orang hebat ada diantara mereka,

Hanya demi pelacur yang ompong,

Hanya demi peradaban yang gagal,

Mempesona, senyum dari mulutnya yang bersih,

Matanya mengerdip dan hilang di balik kelopak bumi

Demi dua grosir arca yang rapuh

Demi berapa ribu buku yang lapuk

MATA ZAMRUD

Gladstone masih dihormati,

Saat Jhon Ruskin mengurus

“harta kerajaan”; Swinburne

Dan Rossetti masih dipasung

Foetid Buchanan mengangkat suaranya

Saat kepalanya yang berbentuk faun itu

Menjadi objek untuk

Para pelukis dan pezinah

Kartun-kartun Burne-jones

Mengawetkan matanya;

Pada saat yang sama, di Tate, mereka mengajarkan

Rapsodi tentang Cophetua

Tipis seperti anak sungai,

Dengan tatapan yang kosong.

Rubaiyat berbahasa inggris baru lahir

Hari-hari itu

Pandangannya masih kosong dan tipis

Sedang panah melesat seperti faun dari reruntuhan

Bertanya dalam diam…

“Ah, Jenny yang malang”…

Bertanya-tanya mengapa dunia

Tak menunjukkan keheranan

atas perzinahannya

di Machaerus

“SIENA MELAHIRKANKU, MAREMMA MEMBUNUHKU”

Diantara acar janin dan botol dari belulang,

Terlibat dalam penyusunan katalog,

Aku menemukan satu-satunya keturunan dari

Keluarga senator Strasbourg, Tuan Verog

Dua jam ia berbicara tentang Gallifet;

Tentang Dowson; tentang klub Rhymer;

Ia bercerita perihal Johnson yang mati

Karena terjatuh dari kursi di sebuah pub…

Tapi tak ada jejak alkohol

Saat autopsi dilakukan diam-diam —

Organ tertentu diawetkan­ — pikirannya yang jernih

Terhidang di hadapan Newman sebagai wiski hangat

Dowson melihat pelacur lebih murah dari sewa hotel

Headlam untuk dimajukan; imaji perlahan diilhamkan

Dengan gairah terhadap Bacchus, Terpsichore dan gereja

Demikian pengarang “The Dorian Mood” berbicara,

Tuan Verog melangkah dari dekade itu,

Melepaskan dirinya dari zaman,

Diabaikan oleh anak-anak muda,

Lantaran lamun-khayal itu

BRENNBAUM

Mata jernih yang langit,

Muka bayi yang melingkar,

Lipatan kerah yang kaku

Tak pernah membiarkan diri dalam pelukan rahmat;

Ingatan Horeb yang berat, Sinai dan masa empat puluh tahun,

Hanya muncul saat siang jatuh

Berhadap-hadapan dengan muka

Brennbaum “Si Orang Suci”

MR. NIXON

Pada Yachtnya yang berlapis emas

Tuan Nixon memberi saran padaku, untuk bersiap atas sedikit keterlambatan. “Pertimbangkanlah

“Waspadalah terhadap para peninjau

“aku pernah miskin sepertimu;

“tentu, pertama-tama aku dapat,

“royalty di muka, separuh dulu”, kata tuan Nixon,

“ikutlah, tulislah kolom,

“meski kamu harus kerja gratis.

“peninjau tukang jilat. Dari lima puluh sampai tiga ratus

“aku kaya dalam delapan belas bulan;

“orang yang paling kepala batu

“adalah Dr. Dundas

“aku tidak pernah bercerita tetang seseorang kecuali “dengan sedikit keuntungan menjual karyaku.

“nasehatku sangat menguntungkan, karena sastra

“dasarnya tidak bisa memberi nafkah.”

Tak ada yang tahu nilai suatu karya

Berhentilah bersyair, nak

Tak ada untungnya buatmu.

* * *

Saban kali kawan lain dari Bloughram pernah bersaran:

Jangan melawan bajingan,

Terimalah pendapat. Orang-orang tahun 90-an sudah mencobanya

dan mati. Sia-sia.

X

Dibawah atap yang bercelah

Seniman gaya berteduh,

Tak tergaji, tak terjamah

Dari hiruk-pikuk dunia

Alam memberkatinya,

Dengan pendamping yang sabar namun pander

Ia melatih bakatnya

Dan bumi mendapati keresahannya

Surga tata karma dan perselisihan

Tembus lewat ilalang;

Ada, terkadang, makanan lezat;

Dan pintu yang senantiasa berderit

XI

“Konserfator perempuan dari Milesien”

Pikiran dan perasaan yang rutin,

Mungkin. Tapi di Ealing

Di Bank inggris paling terpelajar?

Tidak, “Milesien”itu berlebihan

Insting tidak akan bertahan lama di dalamnya

Neneknya yang sudah tua

Memastikan ia akan cocok di posnya

XII

“Daphne yang pahjanya menantang

Tangannya yang daun menjuntai ke arahku” , —

Dengan intim. Di studio gambar yang dipenuhi satin

Aku menunggu perintah Dewi Valentine,

Mantelku memang tak pernah

Mengikuti fashion terbaru

Mampu meniupkan dalam sukmanya

Gairah yang baka;

Kiranya dapat sangat meragukan

Nilai dari sebuah gaun

Nilai dari sebuah karya

Tapi tidak pernah panggilan Dewi Valentine:

Puisi, batas-batas pikirannya,

Tepinya, keraguan, tapi ialah percampuran dari

segala strata

Dimana tinggi-rendah memiliki akhir

Sebuah kail yang menarik perhatian Jane

Sebuah rencana menuju teater

Juga, saat masa revolusi,

Seorang teman dan penghibur

* * *

Mengiringi, pada sisi yang lain, suatu jiwa

“dimana kebudayaan tumbuh subur”

Menuju jalan Fleet tempat

Dr, Johnson tumbuh hidup

Disamping jalan

Toko pipa tergusur

Diganti oleh budidaya

Mawar-mawar Pierian

ENVOY (1919)

Pergilah, akta lahir tak berguna

pergilah padanya yang suatu kali menyanyikanku lagu Lawes;

lagu satu-satunya

seperti yang kau tahu

maka ada sebab yang mesti dimaafkan

bahkan kesalahan berat yang dibebankan padaku

dan usia yang menopang kemuliaannya

katakan padanya bahwa ia membuahi

harta yang akhirnya hanya menguap di udara,

kebejatan yang menyia-nyiakan kasih sayangnya

yang ia beri pada suatu kehidupan,

aku bertaruh mereka akan hidup

sebagaimana mawar, dalam kamar penuh magis,

merah yang diliputi jingga dan semuanya

membentuk satu inti, satu warna

melawan waktu

katakan pada ia yang

menyanyikan lagu pada bibirnya

namun tak menyanyikan lagu, bukan pula pengetahuan

pengarangnya adalah lisan lain,

yang mungkin sama sepertinya,

akan menemukan pemuja pada zaman baru,

saat debu-debu kita berjatuhan dengan Waller,

bergantian

hingga arus waktu merapuhkannya

semata menjaga keindahan

1920

II

(MAUBERLEY)

I

Dari cetakan

Jaquemart

ke kepala sempit

Mcssalina

“Penelope sejatinya

ialah Flaubert”,

dan instrumennya

ialah alat pahat

Kaku,

senyum yang tak penuh,

seninya, ialah seni

dalam riwayat

nir-warna

tiang Fransesca,

Pisanello kurang keahlian

untuk memahat Achaia

II

“Apa yang mereka ketahui tentang cinta, apa pula yang mereka mengerti? Jika mereka tak memahami puisi, jika mereka tak merasakan lagu, bilakah mereka mengerti gairah ini dibanding mawar yang kering dan aroma awan petir yang ungu?” CAID ALI

Tiga tahun lamanya, sopan santun dalam pantauan,

ia minum anggur dewa,

semua berlalu, ANANGKE berkuasa,

datang terakhir, menuju Arcadia

ia ketengahkan phantasmagorianya

galaksinya

NUKTIS AGALMA

hanyut…hanyut dalam endapan,

meminta dilenyapkan

kegundahannya, untuk menuju satu arah

anggreknya yang baru

agar yakin…yakin…

(ketengahkan bunga hawa)..waktunya upacara —

melayang

ke puncak pengasingan;

tidak mampu mengisi kekosongan

menyisihkan TO AGATHON dari sekam

sampai ia temukan plastik

seismografnya:

— dorongannya terberi

untuk menegaskan hubungan

antara kelopak mata dan tulang pipi

dengan perwujudan kata-kata;

untuk mempersembahkan serangakaian

kepala-kepala yang aneh pada medali —

ia pingsan, tak sadar, namun terbelalak,

dengan iris mata terbuka lebar

dan sedikit sentuhan Botticellian

dan diastasis;

anestesia yang diakui tahun belakangan,

lalu diukur, tersingkaplah kecenderungannya,

(Anggrek) mandat

dari Eros, sebuah retrospeksi

mulut mengunyah kehampaan,

anjing-ajing membatu,

terprangkap dalam metamorfosis,

mencampakkannya sebagai epilog

PERMINTAAN ZAMAN

PUISI HAMPA II

kesempatan baginya untuk bisa lincah

sangat kecil

seperti tunggangan berparuh merah

dari Cytheraean

kilau keramik

tak menyhiratkan apa-apa

pada indra persepsinya

tentang ketidak seimbangan sosial

karenanya, bilamana warna

menghantam tatapannya,

dengan keras seperti

menembus suatu lapisan yang sempurna

ia tak terburu-buru memutuskan

hubungan negara

dengan tiap individu, bulan lebih keras lagi

karena keindahan lebih lagi

kepulauan berkarang, pasir berwarna singa

melebur ke angan dalam porselen:

mengganggu tanpa henti

imajinya

lembut, di tengah-tengah kicauan neo-Nietzchean,

indranya yang dewasa,

keluar dari kerumunan

menahan segala kemuakan

undangan, semata undangan untuk mencerna

perlahan menuntunnya pada keterasingan

suatu ruang yang berada

dibawah pengujian yang biasa

dengan penyisihan yang ajek

semesta mewujud

menciptakan baja

melawan munajat-munajat kekhawatiran

ombak Minoan,

terlihat menyuguhkan elixir dewa

menegarkannya melawan

doktrin ihwal kesempatan yang nihil

dan kehendaknya untuk bertahan,

lunglai oleh suasana hati yang kacau

menjadi Aphatein di bukit Olimpus

di haribaan wawasan terpilih.

emas pucat, di sekian pola

telapak yang hadir tiba-tiba

mengeruk hasrat seniman,

hanya menyisakannya seonggok imajinasi

di tengah ombak lautan khayal yang berkejaran,

cacat mengucap bahkan mengarang

menyusun tradisi yang “lebih baik”,

perbaikan yang tak pernah sempurna, penghapusan yang hiperbol

ketertarikan August dan konsentrasi

hanya pengakuan yang picis

mandul terhadap penjajahan manusia,

mencurahkan gerismis, menghujankan manna

mengangkat memar susurrus

dari hosannah miliknya

penghinaan bagi kemanusiaan;

tak ada ruang untuk penghormatan

mengantarkannya, seperti yang ia sadari,

pada gerbang terakhir

pengusirannya dari dunia kata

IV

Maluku yang berpulau-pulau

semakin samar, hari demi hari,

pada akhir hari pertama, di pada esok siang;

air yang tenang

diganggu oleh Simoon;

dedaunan tebal

damai dalam balutan hangat matahari,

Tawn menuju pantai

berendam dalam kobalt kehampaan;

atau melalui kabut fajar

mendung dan mawar

daerah

Flamingoes;

kesadaran terpisah,

menjadi plot yang bertumpuk

menjadi serangkaian jeda

sampan mengarung di pasifik,

laut yang belum dikenal:

lalu pada dayung

bacalah:

“aku

tiada lagi;

disini tersesat

seorang hedonis”

MEDALLION

Luini dalam porselen!

grand piano

meneriakkan caci

berprotes dengan suara sopranonya yang jernih

kepala mengkilap muncul

dari gaun kuning keemasan

seperti Anadyomene pada pendahuluan

lembaran Reinach

madu merah, membalut wajah oval

keranjang berpita yang seolah

berputar di aula Raja Minos

dari logam, atau batu amber;

wajah oval dibawah lapisan,

bersinar di garis lengkungnya, seperti

di bawah cahaya setengah watt

mata berganti topaz