ANTOLOGI AKU : PUISIMU

Sejak semalam aku sudah berdiam diri di depan buku puisimu yang kau kirim lewat bunga-bunga kemarau yang menjadi temanmu. Kau menulis semua pertemuan. Memuisikan setiap air mataku yang kau lihat dari kotamu. Apa yang bisa ku tolak dari sempurnamu berpuisi, aku luluh.

Pagi kemudian: kau duduk di pelupuk mata. Mengusap semua sembab yang muram. Bunga matahari dan kata hati yang tidak bisa berbohong. Kulit jarimu mengusap ubun yang malu-malu pada rindu yang kosong. Kau bercerita lagi pada langit dan awan tentang doa yang inginmu diijabah Tuhan ketika Hujan.

Ku temukan dalam tiap bait. Tidak ada yang bukan aku. Ingatanku pulang lagi padamu. September ke tujuh pada kalender besok adalah kita yang utuh katamu. Aku selamanya mawar yang menghiasi meja pada ruang segalamu.
Like what you read? Give Dhila Paruki a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.