Bintang yang dingin dan suara-suara musim yang panjang di pekarangan 
Seperti kejauhan yang semakin jauh saat matamu pejam 
Kau pun sama seperti cerita laut yang esok akan pergi diam-diam. 
Dan lidahku peluh di KUNCI kesunyian demi kesunyian

aku tak ingin kau ditemukan oleh siapa-siapa 
Ku biarkan JAM dinding yang kusam mengurung namamu di bunyi tik tok yang semakin layu.

Nanti, kau akhirnya akan hilang dan menemukanku menulis sesuatu yang kau rindukan 
Mungkin; tentang seseorang yang kau sebut kekasih atau perempuan baik hati yang berambut putih

Hari itu semua JALAN senyap dan ceritamu tertinggal di daun berembun yang kemayu 
pada ruang tanpa suara aku membujuk fajar yang samar, mencatat desis angin dan ingin bertanya
bisakah kita hanya seperti SEMUT yang saling sambut?


F
Like what you read? Give Dhila Paruki a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.