#CatatanMaret ; Saat Kekasih tak Punya Apa-apa Selain Cinta

Kekasih. Kau adalah bangku tempat malam-malam usai dan bersandar. Aku kekata yang kau tulis entah pernah atau ada dalam daftar ingatan hal yang jangan diingat.

Setelah purnama tenggelam. Pagi tersenyum di bibirmu. Embun-embun merebah ke telapak tangan dan sepanjang pandangan. Daun jatuh melewati dan menyentuh ujung mata dengan lembut.

Senyumku memanjang. Di antara kejora dan masa silam. Kau setahun lalu adalah letak antara kepergian dan bunyi dari ruang tunggu dengan nada-nada tak berarti.

Tertawa adalah keanehan. Malam ini aku tertawa di hadapan gerimis yang menikmati suara tubuhnya sendiri. Aku tahu, kau ingin bersamaku saat kesunyian hanya datang sebagai isi kepala manusia yang kehilangan ingatan.

Kekasih. Kau melewati banyak kelokan. Jalan-jalan, bulan di atas kepala, tanda-tanda kepergian atau di dalam tangis ini. Semesta adalah kasih sayang. Dia diam tetapi kau menikmati segala yang nampak, segala yang tak nampak darinya; Kasih dan kisah-kisah. Di sisimu aku adalah pelukan hangat dalam gagal dan gigilmu.

Setelah pagi tiba. Anak-anak sungai mengulang hentakan air yang mengguyur kepalamu. Ibu tersenyum, aku melihat kecilmu dulu dan cerita-cerita di matanya.

Senyummu pendek. Dalam segala kesesakan. Kau menggenggam betapa, harapan, dan pelangi-pelangi yang melengkung di atap rumah. Kekasih, setelah hujan, langit adalah warna-warni yang kita sukai di masa kecil. Setelah jauh perjalanan, saat tak ada harapan selain cinta. Kita adalah bumi, menyimpan aku dan cinta sebagai ringan yang bernapas di pundakmu .

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.