#Jumatcerita ; Anxietas
Ada dua syarat sehat yang dijelaskan oleh dokter kepada saya ketika dirawat di rumah sakit beberapa pekan kemarin yaitu sehat secara fisik dan psikis. Sakit fisik akan memengaruhi psikis, begitu pun sebaliknya. Kita mengenal begitu banyak penyakit yang menyerang fisik kita ketika kekebalan tubuh kurang baik, mulai dari kanker sampai flu ringan (bagi saya flu bukanlah hal remeh karena saya adalah tipe anak mama banget ketika sakit, manja kretek kretek di ketiak mamah). Kemudian ada yang namanya penyakit psikis yang berhubungan dengan mental atau kejiwaan kita. Kali ini saya mau cerita pengalaman saya sebagai penderita gangguan psikis. Ya, tidak semua gangguan kejiwaan diartikan sebagai “gila” tetapi barangkali “akan gila” kalau tidak diatasi dengan cara tepat dan terkontrol.
Ah, Temans. Pernahkah kalian merasakan keluhan cemas berlebih, sesak napas, sering pegal, keluhan kedutan berpindah-pindah di bagian tubuh, tenggorokan yang terasa tercekik, merasa badan melayang-layang atau seperti akan jatuh padahal sedang berbaring, lemas, susah tidur, dan paling parah adalah sulit untuk berpikir positif kalau soal kesehatan?
Tenang, jangan panik dan tetap berpikir positif (walaupun sulit), mungkin saja Manteman terkena gangguan psikis si Psikosomatis. Saya mengalaminya dan sudah pernah dirawat di semua rumah sakit di kota ini, kecuali rumah sakit jiwa, padahal barangkali layaknya saya dirawat di sana. Ehm rumah sakit bersalin juga. 😄😄
Psikosomatis adalah gangguan mental atau penyakit kejiwaan yang menyebabkan timbulnya keluhan fisik. Gangguan psikosomatis juga tidak merujuk pada satu penyakit. Jadi, setiap orang dengan penyakit fisik yang berbeda bisa saja punya keluhan yang sama dalam hal psikosomatis (ini menurut pengamatan saya sendiri). Beberapa kondisi terkait psikosomatis adalah cemas yang berlebihan (anxietas). Keluhan tersebut akan memperburuk keadaan si penderita. Nah, anxietas ini yang sudah lama menemani saya.
Sebagai penderita anxietas, saya menyadari bahwa keluhan-keluhan yang saya rasakan sudah seharusnya saya atasi sendiri. Tetapi sungguh, tidak mudah melakukannya.
Sudah bertahun-tahun saya merasakan ini, sensasi aneh pada tubuh ketika si anxietas datang begitu saja, di mana pun saya berada tanpa kenal waktu entah itu siang atau pun malam. Baik saya sedang di rumah atau sedang berkendara. Seringkali saya sudah merencanakan akan ke sana-sini tetapi belum sampai setengah perjalanan si anxietas menyerang dan terpaksa saya memutuskan pulang ke rumah. Uh, pengen nyinyir tapi kepada siapa.
Pasalnya, penderita anxietas terlalu berlebihan menanggapi segala keluhan yang dirasakan. Misalkan yang terjadi pada diri saya, saya sakit kepala, dengan mudahnya saya berprasangka bahwa kemungkinan saya terkena kanker otak. Atau kadang siklus menstruasai saya tidak teratur, saya langsung berpikir bahwa saya kanker rahim. Baru-baru ini di wajah saja muncul bercak hitam karena sebelumnya saya memakai bedak mamak, saya menduga itu adalah tanda penuaan dini *yailaaaaah saya langsung cemas, jantung seperti mau copot. (Atau hal lain ketika tidak mendapat kabar seharian dari kamu, saya menduga kamu sedang bersama si mantan pacar ketawa cengengesan tanpa mengingat saya sedikit pun). *nyengir. Berlebihan kan?
Iya, serius. Pikiran-pikiran itu susah diubah kecuali ada Pak Dokter yang menjelaskan bahwa semua akan baik-baik saja. Atau seseorang yang mampu menenangkan.
Mungkin terdengar biasa saja bagi yang tidak mengalaminya langsung, tetapi keluhan-keluhan fisik seperti sesak napas, keliyengan, lemas, dan lain-lain itu benar-benar dirasakan. Saya pernah mendengar mamak mertua seseorang yang mengeluhkan anak mantunya (penderita anxietas seperti saya) yang katanya hanya pura-pura sakit. Oh Tante, sungguh menderitanya kami penderita anxietas karena terkadang memang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, dan itu tidak bisa kami kontrol. Kalau saya sih, sangat butuh kamu di samping.
Jadi, menurut saya alah satu hal yang menjadi faktor kambuhnya anxietas adalah pikiran-pikiran negatif yang tidak terkontrol, tetapi kalau kita mampu mengalihkan pikiran yang tak jelas itu, semua akan segera teratasi (tetapi ini sering gagal).
lalu apa yang saya lakukan ketika kambuh?
Saya mencari teman bercerita untuk mengalihkan kecemasan saya. Saya sering meminta mamak untuk ngobrolin apa saja yang menyenangkan mulai dari pertemuan pertama mamak dengan bapak saya sampai ke pernikahan. Dan cerita itu sudah berulang-ulang mamak ceritakan. Kalau semua tidak bisa terkontrol disebabkan oleh keluhan fisik yang sudah keterlaluan, saya dilarikan ke rumah sakit dan setelah ketemu dokter yang asyik, saya akan kembali membaik. Hanya begitu-begitu saja, tetapi tidak semudah “baputar-putar batang leher.”
Oiya, dokter pernah bilang, bahwa saya seperti ini mungkin karena sewaktu kecil sering ditakut-takuti oleh mamak ketika saya hendak melalukan sesuatu yang tidak disetujui oleh mamak, sehingga banyak ketakutan yang tertanam di alam bawah sadar saya. Ah, hati-hati Buk, pola asuh bisa berpengaruh pada mental anak.
Salam sehat, tetap berpikir positif (terutama bagi orang seperti saya). Jangan lupa, sering-seringlah makan ikan kalau tak ingin ditenggelamkan. Hihihi
Sampai jumpa di cerita jumat pekan berikutnya.
