Kepada Kau dan Harapan-harapan

Berapa banyak harapan yang kau tanam? Barangkali angan-angan yang akan disemai lebih banyak dari itu. Setiap kali senja meninggalkan hari, kita melepaskan segala penat pada ruang yang hangat juga di bibir kekasih yang sedih. Katamu, hanya butuh doa-doa untuk sampai pada tempat di mana hatimu menetap dan tertutup rapat.

Kepada kau dan harapan-harapan. Beberapa bagian dari kehidupan memang seperti hujan, tak ada yang dapat menghitung jumlah rintik yang jatuh pada pusaran kenangan yang menganga di dasar ingatan seseorang. Ketakutan-ketakutan itu datang dengan mudah, berbisik pelan, sungguh kepada siapa sesungguhnya kau sedang menapaki langkah.

Kepada kau dan harapan-harapan. Kubayangkan seseorang kembali memelukmu dengan erat. Segala kata dan ingin yang terpenjara meluap ke muara, laut, dan ombak yang juga mulai menguasai pikiran-pikiran dan kesibukan baru untuk menakar banyak kemungkinan. Aku bayangkan pula kau menjadikan kesendirian menemani aku di tengah-tengah kepergian.

Kepada kau dan harapan-harapan. Akan kau namakan apa sebuah jarak dan waktu yang tak henti memberi kesunyian? Setiap hari akan menyenangkan bila melihat kau tak pernah jauh, aku diam-diam menumpahkan segala yang menggelisahkan di mata siapa pun yang kutemui. Jika esok kau menemuinya, akan kau lihat apa saja yang kutitipkan di mata itu.

Cinta, selalu sempurna bahkan saat kau berjalan tidak dengan jejak yang sama dan dalam harapan ia adalah pintu berbahaya sekaligus menjadi doa yang tak memiliki batas bagi hati yang sedang terbuka dan bagi ingatan yang terluka.

Kepada kau, bagaimana jika sesuatu yang dekat menjadi hal yang paling jauh untuk kau raih? Bagaimana kalau nanti kau tinggal sebagai perihal paling sedih? Dan dalam kalimat-kalimat tanya yang lain, kau menjadi kunci untuk pintu-pintu berbahaya; harapan dan kebahagiaan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated DE’s story.