MATI

Sumber gambar

Kadang-kadang malam menyerupai matamu yang menolak untuk dilihat. Semua tempat terasa sesak. Sunyi menjadi keramaian yang tak (lagi) mengingat kau. Setiap waktu kau tak ada. Mengunjungi teras rumahmu seolah sedang menziarahi makam dan berbisik dengan nisan yang tertulis namamu. Kau mati di dalam ingatanku dan hidup berkali-kali di tempat-tempat yang ku datangi.

Cinta, begitu terasa ketika dia diam di dalam dadamu. Mengatup di jantung dan mengutip segala yang tak kau sebut dalam doa.

Kadang-kadang hujan datang sebagai pelukan yang sengaja lepas. Percakapan panjang persis seperti sisa puisi yang tak ingin ada diksi seperti kau. Aku menggenggam tanganku sendiri dan memastikan ujung-ujung jariku tak ada bekas angin yang pernah meniup jendela kamarmu. Udara beku yang mencintaimu bernama lara dan suara buku yang ada di ruang ini tak mau menanggalkan marah kepada siapa saja yang menyimpan ingatan tentangnya dengan sangat sedikit.

Rindu, begitu menggebu saat pertemuan tak lagi (terasa) dekat. Melupakan banyak cuaca dan meluapkan sedikit resah menjadi rahasia.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.