Pemangku Masa Lalu

Dua puluh delapan usiamu. Berpuluh peluh warna-warna kelabu di matamu. Berjuta puisi kautulis di lembar-lembar ingatan. Kutemukan diriku menangis dalam masa lalumu.

Dua puluh sembilan usiamu. Entah pura-pura. Entah terlalu rapuh. Entah begitu jauh atau memang tak pernah dekat. Jarak panjang menuju kita seperti takdir yang tak meminta apa-apa.

Tiga puluh usiamu. Dua pasang pelukan tak ke mana-mana. Kita- menjadi tanda tanya di beberapa kata yang tak nyata.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.