Perihal Kau
Kau menyimpan doa-doa itu di sini; gedung-gedung yang menjulang, langit mendung, sepucuk surat, dan riuh kota yang penuh dengan keresahan orang-orang.
Aku ingat pertama kali kita bertemu kembali setelah sekian tahun, setelah menoreh kisah kasih yang lain. Hari itu langit mendung, di sebuah bukit yang tak jauh dari rumahku, kau melukis gedung-gedung tinggi yang nampak dari sana. Sesekali kita bertemu pandang, sesekali kita menunduk, sesekali kau tersenyum ketika tahu aku memperhatikanmu.
Aku suka segala hal tentang kau, aku suka tulisan tanganmu di lipatan-lipatan surat itu; rapi dan bikin deg-degan. Barangkali kau diciptakan Tuhan dari bulir-bulir bahagia atau dari dasar pikiranku sendiri atau dari kabar baik dan kemungkinan paling mungkin yaitu dari puisi lama yang tak pernah kau tahu siapa yang menulisnya.
Harapan-harapan tumbuh subur seperti riuh kota dan keresahan yang penuh amarah, cinta, dan satu perihal tentang kau yang tak pernah (lagi) kusebut.
