Pilihan..

“Fadilah, kamu pernah saya kasih nilai jelek? Kenapa tidak program mata kuliah Jurnalistik atau drama?”

Hmmm, disiang yang setengah terik dengan angin yang ragu-ragu ini, saya tiba-tiba teringat dengan salah satu dosen yang pernah bertanya seperti itu pada saya yang membuat saya bertanya kembali pada diri sendiri saat ini, kenapa dulu tidak program mata kuliah jurnalistik atau drama yak. Sebenarnya saya sedikit trauma bertemu dengan beliau, mulai dari mata kuliah penulisan kreatif sastra sampai mata kuliah penulisan karya ilmiah, saya tidak pernah bisa hadir tepat waktu untuk mengikuti mata kuliah dari beliau. Itu seperti jalan takdir yang tidak bisa diubah, secepat apapun saya bangun pagi, sekilat apapun saya mandi, tetap saja terlambat dengan tabah. Nah loh, jangan-jangan ini doti. hahaha. Tapi salah satu keberuntungan saya adalah selalu mendapat nilai yang baik walaupun beliau mengenal saya karena terlalu sering telat. Duh, jangan ditiru yah dek, ini yang ngomong mahasiswi bandel. :)

Ada juga teman yang sedisplin apapun, serapi apapun dan serajin apapun. Selalu mendapat nilai “E” dari beliau. Mungkin diam-diam dia kesal pada saya dan punya niat mo basianida. Jangan kasiang, belum menikah saya. #eaaaah

Hidup memang begitu bro.. Sabarki nah, sabarki.. hihihi..


Beberapa bulan kemarin saya ditimpa rindu yang bertubi-tubi pada kampus, akhirnya saya memutuskan untuk bolos kerja dan hadir di kampus hanya karena ingin tahu (bukan tempe ,, hahah) bagaimana suasana kampus setelah saya tinggalkan. Banyak yang berubah, tidak lagi ada sapi yang berkeliaran di halaman kampus dan lebih bersih. Lorong kecil di belakang ruang kuliah saya dan di depan kantin langganan sudah tidak berdebu seperti dulu. Entah hal biasa atau hal-hal besar, selalu ada yang berubah ketika mengunjungi tempat yang lama ditinggalkan (mantan misalnya.. yohhohoho..) mungkin warna cat dinding, pohon-pohon yang tidak lagi subur, atau bunga-bunga yang sudah beranak-pinak juga hal-hal lain yang tidak bisa diprediksi oleh alam dan orang. Waktu itu, saya pulang dengan membawa banyak kenangan dan kerinduan pada masa kuliah.

Saya memilih mata kuliah kepustakaan. Teman-teman saya dan kakak senior juga sering bertanya kenapa memilih mata kuliah itu. Alasannya? Ah, saya sendiri bingung kenapa. Tanpa alasan apa-apa seperti seseorang kalau ditanya kenapa memilih kekasihnya sebagai teman hidup. Kadang saya hanya menjawab dengan mengangkat bahu dan bibir yang sedikit dimanyun-manyunkan. (eh, jangan di coba, jelek ko nanti).

Keyakinan itu datang tiba-tiba, sudah menjadi nomor wahid dan tidak bisa diganggu gugat. Sebut saja kata hati. Saya yakin di luar sana, ada orang-orang yang sedang bertanya-tanya dan tidak mendapat alasan apa-apa saat memutuskan sesuatu, kecuali hanya alasan sudah YAKIN. Yang saya tahu, terkadang pilihan jatuh pada sesuatu yang tidak mau diberi alasan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.