Satu ; laki-laki dan malam sabtu

Malam itu kau datang, saat dia benar-benar tidak mau menerima tamu, dia merasa siapa saja yang datang seperti seseorang yang sedang membuat jembatan panjang yang akan putus sedetik lagi. Berusaha untuk sampai di ujung jembatan adalah sia-sia karena tidak akan sempat. Kakimu akan patah beberapa patahan.

Dengan wajah memelas dan penuh kantuk, dia duduk di kursi yang juga sedikit mabuk karena aroma parfummu yang membius ujung-ujung hidung.

Sebelum kau memulai percakapan yang seharusnya tidak usah terlalu kau buat panjang, dia sudah mengatakan bahwa kondisi kesehatannya tidak begitu baik untuk berbicara lama. Dia juga bilang bahwa dia terpaksa keluar dari kamar karena ibu terus-terusan membangunkan dia yang sebenarnya sedang (pura-pura) tidur. Dia tahu kau akan datang dan dia pun mengira-ngira apa yang akan kau katakan. Mungkin kau sedikit kecewa setelah dia mengatakan itu. Itu memang sesuai harapannya.

Setelah basa-basi yang benar-benar basi, dia berharap kau mengerti bahwa wajahnya sungguh pucat pasi dan tidak mungkin bisa berpuisi di ruang tamu yang mulai raung, semoga kau segera pulang, dia membatin.

Nyatanya, kau membicarakan hal itu juga. Bertanya tentang kesiapannya untuk berumah tangga denganmu. Seperti perkiraannya saat kau mengatakan bahwa kau akan ke rumahnya. Padahal itu pertama kali kau duduk di ruang tamu bersama perempuan itu, tentunya dia tidak mungkin menyambut dengan ucapan hangat seperti dua orang kekasih yang sedang kasmaran. TIDAK. Kau aneh, pertanyaanmu sungguh tidak enak di dengar.

Dia orang yang sulit menyembunyikan rasa “tidak suka” dengan sesuatu. Dia mencoba untuk tenang sambil menggerutu dalam hati ada yah orang seperti ini, pertama kali ke rumah langsung ngajak nikah.

Dia terdiam sejenak. Memikirkan banyak hal. Terlalu awal kalau harus membicarakan hal sakral dengan seseorang yang menurutnya asing, seperti sebuah kota yang tidak pernah didatanginya, membingungkan walau hanya mau membeli segelas air mineral.

Dia mengatakan padamu bahwa dia benar-benar tidak siap menikah saat ini. Dia ragu dengan dirinya sendiri, banyak hal yang ingin dia lakukan dan dia tidak yakin setelah menikah denganmu semua akan tetap terwujud.

Kau lagi-lagi bertanya tentang keraguannya, katamu kondisi kesehatannya yang tidak begitu baik bisa kau terima, kau akan menemaninya kapan pun, sampai kapan pun.

Percakapan malam itu begitu panjang sampai-sampai dia lebih banyak diam. Siapa saja yang berbicara dengannya mungkin sering merasa kesal karena dia dengan mudahnya diam dan hanya menatap mata lawan bicaranya tanpa berkomentar apa-apa. Dan tidak ada yang mau memahami bahwa begitulah dia. Ah, biarlah. Bapaknya juga begitu, kadang-kadang dia menyesal bertanya sesuatu hal dengan bapaknya sendiri. Dia pun berharap kau sama- menyesal telah berani duduk di ruang tamunya.

Dia tidak bisa menerimamu untuk mendampingi hidupnya. Perasaannya kosong, dia tidak menemukan siapa pun yang bisa dia pikirkan. Termasuk kau. Maaf katanya, dia bukan orang yang bisa menjaga perasaanmu dengan berkata-kata lebih kalem seperti perempuan-perempuan lain di luar sana. Bertutur seolah memberi harapan adalah hal salah menurutnya. Dia tidak ingin melakukan itu walau hanya sedikit, dia tidak ingin kau menyimpan harapan padanya.

Kau masih belum memahami maksudnya, kau terus meyakinkan dia bahwa kau bisa menerima dia apa adanya.

Dalam hati, dia tertawa kecil. Itu bukan soal keraguan terhadapmu, kau mungkin akan membuatnya bahagia. Sangat bahagia. Tapi dia tidak sepertimu, kau tahu perempuan kalau kau beri segalanya, dia akan memandangmu lebih rendah, melakukan segala hal yang dia mau atas dasar keyakinan bahwa kau sangat mencintainya, kau bahkan bisa berlutut di kakinya. Dia tidak ingin bersama dengan orang yang terlalu menyayanginya. Terserah orang-orang mau berkomentar apa.

Kau masih saja terus-terus meyakinkannya, bukan hanya sekali-dua kali. Kau mulai mempertimbangkan usianya, usia orang tuanya yang tidak berhak kau bahas. Katamu dia harus segera menikah. Dia mulai kesal. Katamu juga asalkan dia berkata siap, kau akan menunggu sampai kapan pun. Perempuan itu bertambah kesal. Juga bertambah diam, seperti biasa, entah itu hal yang dia sukai atau tidak dia senangi, dia lebih memilih diam.

Kepalanya sudah mulai mengadu pada kursi, berbisik perlahan butuh bantal, baru saja pulang ke rumah sendiri setelah beristirahat di rumah sakit, rasanya bukan waktu yang tepat membicarakan hal serius seperti apa yang kau lakukan.

Iya, mungkin karena bosan, dia mengatakan bahwa akan menikah. Tapi mungkin bukan denganmu. Dia belum bisa yakin bahwa sekarang dia bisa mencintai, bukan karena seseorang di masa lalu, tapi untuk seseorang yang ada di masa depan. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Seharusnya kau paham alasan demi alasan adalah murni sebuah penolakan.

Kau mungkin lupa jalan pulang ke rumahmu, tapi kau harus ingat bahwa kau sedang mengkhianati Tuhan dengan harapanmu yang seharusnya hanya kau simpan di deretan lagu-lagu sedih di dalam kamarmu.