Sedikit kucatat.

Kucatat angka hari ini sebagai senja yang tidak nampak, lagu yang bersuara pelan juga lampu-lampu yang memisahkan diri dari rumah, menerangi ruang lain yang sepi.

Sore tadi aku ingin menjadi angin yang cerewet, menumbangkan pohon-pohon dan diam-diam menumbuhkan puisi dari matamu.

Di teras rumah, kejora yang hampir tanggal menjelma suara hentak kaki yang kukira kau.
Dan di atas meja, kau menyimpan kata selamat tinggal yang sangat berat untuk dieja.

Dingin di dalam kamarmu mencatat senin sebagai dirinya yang meminjam suaramu untuk menemaniku menuju rumah, dia membuatku lupa jalan pulang dan sangat sengaja ingin kembali menemuimu.

Ini adek Jade, sore di pekarangan Perpustakaan Nemubuku
Saya mengingat wajah adek yang bernama Jade, Rubi, dan Safira setiap membaca tulisan kecil ini, tawa mereka, bikin lupa pulang, saya suka. Melihat mereka bermain rasanya seperti penghuni lama yang menyaksikan masa kecil sedang berulang tahun di sana.
Like what you read? Give Perempuanmu a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.