Merayakan Kenangan

Segalanya mengendap, nona. Ingatanku tentangmu tak kunjung lekas pergi. Aku masih saja berbicara tentang kisah kita; segalanya tentangmu, semua yang pernah kamu ucapkan masih terasa. Ya masih terasa sampai sekarang. Masih utuh seperti dulu, tak ada satupun yang hilang. Masih betah bersarang dalam ingatanku.
“Maaf, aku tak bisa lagi memberimu harapan, tolong berhenti menghubungiku lagi”
“Kamu memutuskan segalanya, tanpa kutahu alasan di balik itu semua” jawabku dengan nada pelan
Kamu diam, aku diam. Kita sama — sama terjebak dalam situasi yang membigungkan. Beberapa menit setelah itu tidak ada pesan darimu. Dan semenjak kejadian itu kita tidak pernah saling sapa lagi, kalaupun saling sapa kamu seperti canggung dan lebih membalas pesanku dengan acuh.
Ini benar- benar hari yang buruk. Semenjak peristiwa itu kamu sama sekali tidak mau tahu apa yang aku alami. Dan kepedihan itu membawaku pada dunia yang tidak pernah kupahami. Pelan — pelan semua mengalir tanpa kutahu makna itu semua. Untuk kesekian kalinya aku kalah, bahkan ini adalah kekalahanku yang paling tragis dan tentu tidak bisa kuterima begitu saja. Layu sebelum mekar!
Satu — satunya cara untuk mengelabuhi lukaku kali ini adalah mengurung diri dan menjauh dari dunia luar. Ini kekalahanku yang paling buruk, bagaimana tidak; aku tidak mengetahui sebenarnya apa yang membuatmu meninggalkanku, apa yang membuatmu pergi tanpa kutahu alasan yang jelas dan itu tentu membuatku amat terluka. Toh kita belum mencoba tapi semua kamu patahkan pengharapanku begitu saja.
Tapi aku masih ingin berbicara tentang kisah kita yang belum tuntas. Berharap lebih tepatnya. Atau hanya hayalanku saja, atau mungkin kisah kita benar — benar sudah tuntas tanpa menyisakkan lagi harapan yang mungkin bisa kuperjuangkan. Ah barangkali aku harus menerima bahwa segalanya memang sudah lenyap. Aku masih ingin berbicara perihal obrolan malam itu, aku masih ingin terus mengingat — ingat meski perih tapi hanya itu yang bisa kulakukan saat ini semenjak kamu mengabarkan bahwa kamu telah dimiliki laki — laki lain.
Tanpa pemberitahuan, tanpa aba — aba. Kamu berkata, iya ada laki — laki yang saat ini sedang dekat denganku. Malam itu aku hampir melupakan diriku. Aku kehilangan sebagian kesadaranku, namun cepat — cepat aku membasuh muka, menyeduh kopi dan degup jantungku berdetak dengan kecepatan yang tidak biasa seraya mengingat — ingat wajahmu dalam kesedihanku.
Malam yang panjang, seperti kesedihanku yang tak berujung, seperti percakapan — percakapan kita yang belum hilang disapu angin yang masih tersimpan dan masih utuh dalam handphoneku.
Setiap kali aku membacanya, kesedihan pecah menyelimutiku. Aku tidak kuasa, air mata yang tidak kuharapkan keluar, sepertinya memaksa untuk ikut merayakan kesedihan yang aku alami. Malam yang hitam, suara desiran angin, percikan air keran yang menetes, buku — buku yang terbuka, laptop yang terbengkalai, kopi yang mulai dinginpun sepertinya iba melihatku.
Kubuka jendela, lalu sekelebat bayanganmu melintas dalam benakku. Dalam pikiranku, aku ingin memastikan sedang apa kamu sekarang, dan aku ingin tahu segalanya tentangmu dari hal yang remeh — temeh hingga sesuatu yang pelik seperti dulu. Namun, itu hanya angan — anganku saja. Aku sudah tak ingin berharap lebih padamu, ini sudah kesekian kalinya aku tak berdaya bahkan ini lebih parah dari yang sudah — sudah.
Mengapa semua berubah semenjak perpisahan itu? Sepi, suara anak — anak, lalu lalang kendaraan, panas yang menyengat, malam yang hening. Semua berubah! Semua tak lagi selaras, semua tak lagi seperti biasa.
Aku seperti dipaksa untuk merayakan patah hati ini dengan cara yang berbeda. Aku yang biasanya cuek dan acuh perihal cinta namun kali ini benar — benar menguras seluruh yang kupunya. Aku lebih banyak mengamati, lebih banyak berpikir dan merenung. Dan itu benar — benar membuatku tersiksa. Aku dipaksa untuk terus mengingatmu. Ini benar — benar gila dan tidak pernah kubayangkan akan seperti ini akhirnya.
Setiap kali aku dalam situasi seperti ini, aku seperti dibuat gagu oleh keadaan. Dan ternyata rinduku padamu belum usai walau kisah kita telah tuntas. Apa yang salah? Ah lagi — lagi aku harus memeras otak untuk memikirkan hal itu. Dan tentu saja tidak ada jawaban yang mampu menjawabnya.
Kini keadaan sudah berangsur — angsur pulih, walau masih menyikasakan sedikit luka yang entah kapan akan sembuh secara total. Tidak bisa. Aku telah melakukan segala cara untuk menghapusmu dalam ingatanku, namun semuanya sia — sia. Segala tentangmu, segala yang pernah kita lalui memasih enggan untuk pergi. Rabutmu yang hitam panjang, alis dan mata sayu yang selalu jadi bawan ejekanku saat kita berbincang, gigi gingsulmu yang manis, senyumu dan segala hal kecil tetangmu masih membekas dalam ingatanku.
Aku masih ingin berbicara tentang kisah kita yang sudah lenyap. Pernah pada suatu sore hari, kamu dengan lekat — lekat menatap mataku, aku gugup dan rikuh namun kamu tak memperdulikan itu semua. Kamu terus saja menatap mataku semakin dekat tanpa obrolan yang biasa kita lakukan. Sore itu kamu seperti bukan kamu yang biasa. Kamu berbeda, lebih cantik dari hari — hari sebelumnya. Kamu berdandan lebih natural, anggun dan membuatku tak berkutik.
Peristiwa itu akhirnya terhenti saat pelayan cafe datang menyiapkan minuman yang kita pesan. Lalu kamu bertanya “kenapa kamu tidak berani menatap mataku?”. Aku diam saja tak menggubris pertanyaan yang ia lontarkan. Aku diam menunduk sambil mengaduk kopi yang telah aku pesan. Sesaat setelah selesai, aku menganggkat wajahku lalu menatapnya. Ia tampaknya sedang sibuk juga dengan minuman yang telah ia pesan. Aku memperhatikan cara mengaduknya, aku dengan lekat — lekat pula memperhatikan tangannya yang lembut, sendok dan susu coklat kesukaannya. Raut wajahnya cantik, senyum yang dibaluti lipstik warna pink, rambutnya panjang terikat kebelakang, pipinya yang ranum, mata sayu yang masih menyimpan banyak misteri. Angin berdesir pelan menambah suasan semakin tak karuan. Aku seperti terjebak dalam situasi yang tak pernah kutahu. Disatu sisi ingin menyapanya, disisi lain aku betah menikmati pemandagan itu.
Aku seperti terhipnotis olehnya, ia masih saja menunduk, mengaduk dengan pelan susu coklatnya. Lalu setelah beberapa saat, ia mengadahkan kepalanya dan tanpa sengaja mataku dan matanya beradu pandang. Aku langsung membalikan arah wajahku. Lalu dengan sengaja mulai mengajaknya untuk mengobrol tentang apa saja. Ia tersenyum manis kala melihatku bertingkah tak karuan. Ia sepertinya paham dengan apa aku rasakan namun ia pura — pura tak memperdulikan.
Angin sore membelai kulit kita, diantara cafe — cafe yang berjejer, keramian manusia, suara mobil dan musik menyatu dalam obrolan kita; kita seperti dua orang aneh yang selalu mengundang orang lain untuk melihat dan mendengar apa yang kita obrolkan; kita pernah berbicara tentang ikan — ikan dilaut, tentang petani dan nelayan, kita pernah bebicara tentang kucing dan sapi, tentang tanaman hidroponik milik pamanmu, kita pernah berbicara tentang gunung dan sawah, kita pernah tertawa terbahak — bahak saat berbicara hal — hal lucu dan itu tak membuat kita malu diantara keramaian pengunjung cafe. Aku dan kamu sama. Sama — sama tak peduli dengan penilaian orang. Kita adalah manusia yang ingin bebas. Bebas dari yang membelenggu kita dan bebas untuk melakukan hal — hal yang tidak merugikan orang.
Aku masih ingat saat itupula; kamu berbicara tentang novel Gabriel Garcia Marquez ‘One Hundred Years of Solitude’, kamu menceritakan dengan detail: siapa Gabriel Garcia Marquez, bagaimana ia menulis kisah itu, dan aliran realisme magis dalam novelnya dan seolah — olah membawaku ke Macondo. Kamu begitu mengangumi pengarang — pengarang Amerika Latin terutama Marquez. Kamu juga berbicara tentang Si Nelayan tua dari Kuba yang malang, kamu tak henti — hentinya membuat aku kagum dengan pengetahuan sastra dan filsafatmu. Kamu memperkenalkan aku dengan Yasunari Kawabata dan Murakami. Kamu memberi tahuku tentang pengarang Rusia Maxim Gorky pelopor aliran realisme sosialis.
Kita bahkan pernah berimajinasi, berdiskusi dalam meja yang sama dengan Adam Smith dan Karl Marx. Kita sudah terlalu capek dan sumpek membaca karya mereka berdua yang sulit dipahami, ‘The Wealth of Nations nya Adam Smith dan Das Kapital nya Karl Marx.
Sejak kamu memutuskan hubungan itu, kini aku lebih rajin untuk mengingat — ingat kembali apa yang pernah kamu ceritakan. Setiap kali aku kembali kemasa itu kesedihan pecah berhamburan bersama nada lagu milik Bob Dylan ‘Mr. Tambourine Man’ lagu kesayanganmu yang tak pernah aku lupakan.
Kenangan bersamamu mungkin tidak akan pernah lenyap, akan terus membekas dalam ingatan kita masing — masing. Mengendap dalam pikiran kita masing — masing. Namun ego kitalah yang membuat kita tidak saling tegur sapa, tidak saling bertukar pesan. Aku yakin kamu merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan, tetapi egomulah yang menghambatmu menghubungiku.
Aku yakin, laki — laki yang ada bersamamu saat ini tidak jauh lebih baik dariku. Apakah ia bisa membuatmu nyaman dan tertawa terpingkal — pingkal seperti saat bersamaku? Apakah ia bisa diajak berbicang tentang apa saja seperti saat kita bersama? Apakah ia bisa membuatmu menjadi diri sendiri? Jika laki — laki yang saat ini dekat denganmu jauh lebih baik dariku. Mungkin aku ikhlas merelakanmu dengannya.
Kini aku masih mengais — ngais sisa kengangan kita yang berhamburan. Merapikan, menjadi kepingan puzzel yang sempurna. Mengingatmu setiap kali aku ke toko buku, menangisimu setiap kali aku membaca novel, karena kita sama: gemar membaca, suka menulis, menyukai sastra dan filsafat, sejarah dan politik sebagaimana diriku. Tidak bisa dipungkiri, kamu adalah satu — satunya perempuan yang mampu meluluh lantahkan hidupku. Lenyap! Selenyap — lenyapnya. Hancur dan hanya bisa meratapi kesedihanku yang entah sampai kapan berlarut.
Tapi itulah cinta, segalanya susah ditebak kemana arah akan menuntun; menyebar keseluruh penjuru mata angin. Berhamburan, pecah tak dapat dihindari, dan hanya kenangan yang masih tersisa dalam cinta. Rindu dan tangisan menyertai kenangan itu.
