Kereta Itu Membawamu Pergi
Semua orang pasti setuju perihal stasiun adalah tempat yang membahagiakan juga menyedihkan.
Membahagiakan, bagi dia yang telah menanti kedatangan dan akhirnya dipertemukan.
Menyedihkan, bagi dia yang dengan berat hati ditinggalkan dan penuh pengharapan agar ia kembali.
Aku pun merasakan.
Betapa stasiun menjadi sebuah tempat yang dipenuhi dengan kecemasan serta kerinduan.
Begitu, saat aku memutuskan untuk mengantarnya pergi ke sebuah tempat yang sangat amat ia senangi dan tempat yang aku paksakan untuk aku senangi.
Sebuah kata perpisahan terlontar dari bibir yang bergetar ini ketika pengeras suara di stasiun sudah menyuarakan bahwa kereta akan segera berangkat, "Sampai bertemu lagi dibulan depan" ujarku dan senyum pun tercipta dari bibir yang bergetar ini.
Ya, sebuah senyuman palsu yang menutupi agar air mata ini tidak keluar dari persembunyiannya.
Aku hanya takut,
Jika ini adalah pertemuan terakhir antara aku dan kamu.
Jika kamu tidak akan kembali.
Jika kamu melupakanku dan meninggalkan aku sendiri.
Betapa tempat ini membuatku berpikiran yang tidak sepantasnya aku pikirkan.
Kamu pun membalas senyuman palsu ku hanya dengan sebuah senyuman juga yang sampai saat ini aku masih dengan jelas mengingatnya.
Kereta pun perlahan berjalan menjauhi tempat peristirahatannya.
Bertanda bahwa aku dan kamu kini semakin jauh.
Ya, jauh.
Semoga hanya raga kita yang berjauhan, tidak dengan hati serta jiwa.
Selamat bersenang-senang di kota yang sangat kamu rindukan.
Aku melepasmu dan merelakan berbagi kerinduan dengan kota itu.
Tak apa.
Aku tetap disini.
Menantimu pulang dan kembali dengan selamat.
Karena aku sudah tidak sabar untuk melepas kerinduan ini.
Kerinduan yang hanya ingin aku bagi denganmu, tidak dengan yang lain.
Tapi, semesta berkata lain.
Waktu kepulanganmu pun tiba.
Aku tidak mendapatimu pulang dengan kereta yang kau tumpangi.
Yang aku temukan hanya sesosok orang dengan kulit yang semakin menggelap dengan rambut yang berantakan.
Ternyata,
Kereta itu telah membawamu pergi.
Membawa pergi hati dan jiwamu.
Hati dan jiwa yang selama ini aku rindukan dan aku nantikan kepulangannya.
Kereta itu hanya membawa raga yang aku kenal tapi juga tidak aku kenal.
Membuatku berpikir apakah aku masih bisa berteman baik dengan tempat persinggahan itu?
Setelah apa yang telah mereka lakukan.
Merenggutmu dari diri ini yang sangat mengharapkan kepulanganmu.
Kenyataan pahit
Kereta itu pergi
Membawa hati dan jiwamu
Ke tempat yang tidak aku ketahui keberadaannya
Penantian yang berujung kesia-siaan
Kerinduan yang tidak pernah bisa terbalaskan
