
Anti Social Club
Sudah sebulan saya tidak memiliki telepon genggam. Hal itu bukan karena saya seseorang yang membenci teknologi. Saya hanya tidak berjodoh dengan barang-barang elektronik. Segala barang elektronik yang saya genggam, entah kenapa menemui ajalnya lebih cepat.
Meski saya masih sering meminjam telepon genggam milik pacar atau teman sekedar untuk mengunggah foto atau status, namun tidak memiliki telepon genggam, atau lebih tepatnya telepon genggam pintar, adalah hal bodoh di zaman ini.
Saya sering merasa sendirian ketika berkumpul bersama teman-teman saya, atau bahkan ketika berduaan dengan pacar saya. Kehadiran telepon genggam pintar, membuat jempol mengambil alih sebagian besar peran mulut dalam berkomunikasi.
Saya tidak menyalahkan jempol. Tapi terkadang, saya merasa prihatin terhadap jari lainnya. Mereka selalu berada di balik layar. Jempol terlihat amat penting dalam menekan tombol. Padahal, ada empat jari lainnya yang menopangnya dari belakang.
Sebenarnya Saya ngomong apa sih!
Di awal kemunculan telepon genggam, Saya senang menggantungnya di leher. Telepon genggam Saya waktu itu bermerek Nokio, sebuah telepon genggam yang jika dinyalakan akan muncul titik-titik hitam yang membentuk dua tangan saling berjabat satu sama lain.
Menyenangkan melihat gambar tersebut. Saat itu, menyalakan telepon genggam seolah menyalakan silaturahmi dengan tangan-tangan lainnya yang juga menggenggam telepon. Hingga akhirnya, Nokio berenang di toilet pom bensin saat pergantian tahun.
Banyak telepon genggam yang berakhir tragis di tangan saya. Pernah ada yang bermerek Sonya, telepon genggam yang anti air dan anti pecah. Saat itu Saya masih belia. Karena didorong hasrat pubertas, saya melakukan apa yang dilakukan iklan di youtube terhadap telepon genggam merek tersebut, seperti merendamnya di dalam air atau sengaja menjatuhkannya. Di bulan ke dua, akhirnya Sonya redup bersama LCD yang porak-poranda.
Setelah Nokio dan Sonya, Saya mulai menggunakan telepon genggam dengan merek nama buah. Sesuatu yang segar kini dimulai lewat telepon genggam. BlandBerry hadir di hidup saya menggantikan Sonya. Dengan aplikasi chatting yang ditawarkan, Saya merasa sangat diwadahi selaku remaja. Kemesraan kami berlangsung hampir satu tahun sampai layarnya tak lagi memancarkan cahaya seperti biasanya. Ia mati muda.
Tibalah kita pada telepon genggam terakhir saya berlogo Anggur. ia sangat canggih. Saya sering menaruhnya di saku belakang. Ia mungkin merasa terhina dengan perlakuan Saya hingga ia juga memilih mematikan layarnya.
Makin canggih telepon genggam, makin mudah ia rusak di genggaman saya.
Tidak berjodoh dengan telepon genggam adalah nasib buruk yang baiknya Saya terima secara tawadhu.
Jika kamu menjadi orang yang tidak memiliki telepon genggam, sebenarnya Kamu adalah seseorang yang anti sosial. Jika Kamu bepergian bersama temanmu ke sebuah tempat, selama disana ada jaringan seluler atau wifi, Kamu hanya akan menjadi properti untuk foto yang akan diunggah ke media sosial online. Setelah mengunggah foto tersebut, janganlah berharap lebih untuk mendapatkan semacam obrolan yang asik karena temanmu hanya akan asik melihat layar telepon genggam untuk menunggu like atau komentar dari temannya di media social online.
Kalau kamu belum pernah diperlakukan seperti itu oleh temanmu, coba ingat kembali, mungkin kamu yang memperlakukan temanmu seperti itu.
Kalau Kamu adalah salah satu orang yang tak diacuhkan temanmu saat kalian sedang bersama karena dia sibuk dengan telepon genggam yang Ia anggap lebih pintar dari kamu, jangan salahkan temanmu. Cobalah untuk menengok sekitar, siapa tahu ada yang senasib denganmu. Jika sudah menemukannya, cobalah untuk mendekatinya dan ajaklah Ia bicara. Buatlah media sosial offline bagi kalian. Siapa tahu Kamu dan Dia bisa menjadi pelopor anti social club?