Hal-hal yang membuat Saya ingin menceritakan kembali Filosofi Kopi 2

Minum saja kopinya! di sini tidak butuh filosofi-filosofian. semua kopi enak. saya pernah membaca kalimat tersebut tertulis pada salah satu postingan kawan Saya di instagram. Lewat unggahannya, Saya tahu ia sedang berada di salah satu kedai kopi.
Saya sendiri bukanlah seseorang yang teramat suka dengan kopi. Kadang saya justru tidak mau minum kopi karena bisa membuat asam lambung saya naik. saat berada di kedai kopi, Saya akan memesan air putih atau teh dengan rasa-rasa.
Saat teman-teman saya sedang berbondong-bondong untuk les menjadi barista, Saya justru menghindarinya. Masa kecil Saya sudah terlalu sibuk Saya habiskan dengan membuat kopi untuk dihidangkan pada tamu papa dan mama yang datang ke rumah. Tentu saja Saya tidak pernah senang disuruh bikin kopi. Gara-gara disuruh bikin kopi, Saya jadi tidak khusyuk bermain dengan teman-teman Saya.
Singkatnya, Saya bukan seseorang yang menyukai kopi. Baik meminumnya ataupun membuatnya. Bisa dibilang, Saya menghindari keduanya.
Satu ketika, seorang teman memberikan saya sebuah buku berjudul Filosofi Kopi. Sampulnya berwarna hitam pekat. Saya membaca buku tersebut dalam waktu satu malam. Dan memang benar, kopi bisa membuatmu tidak mengantuk. Saat membaca Filosofi Kopi, Saya benar-benar tidak bisa tidur.
Beberapa tahun berlalu sampai akhirnya Filosofi kopi diangkat menjadi sebuah film. Saat itu banyak sekali film yang diangkat dari sebuah novel yang rata-rata sudah Saya baca. Tapi ketika Saya menonton filmnya, Saya kecewa. Memang, tidak seharusnya pembaca mengharapkan keseluruhan adegan di novel ada dalam film. Namun rasanya, beberapa hal terlihat lebih nyata saat Saya membaca bukunya ketimbang menonton filmnya. Maka Saya putuskan untuk tidak menonton Filososfi Kopi agar tidak menambah daftar kekecewaan Saya.
Film Filosofi Kopi menjadi hujan yang menumbuhkan banyak sekali kedai kopi di mana-mana. Para pecinta kopi kini bisa lebih menunjukkan kecintaannya pada kopi. Untungnya kedai kopi tidak hanya menjual kopi sehingga Saya tetap bisa kongkow-kongkow bersama teman-teman Saya yang menyukai kopi.
Waktu berjalan, udara berubah, Setya Novanto kembali jadi ketua DPR, amoeba membelah diri, dan akhirnya film Filosofi Kopi kembali dibuat. Konon, ceritanya tak lagi sama dengan yang ditulis oleh Dewi Lestari. Tokoh Ben dan Jodi tetap ada, namun ceritanya tidak lagi seperti di dalam cerpen.
Wah!
Saat mendengar hal tersbut, Saya langsung memutuskan untuk menonton film ini. Saya sangat penasaran dengan bagaimana sebenarnya Ben dan Jodi tanpa cerita Dewi Lestari.
Hingga tiba hari ini dimana Saya menonton Filosofi Kopi 2 yang memang benar-benar tidak seperti di dalam cerita Dewi lestari. Ben dan Jodi tidak lagi ‘feminim’ seperti yang saya tangkap dalam cerita Dewi Lestari. Mereka ‘hidup’ dan memilih jalannya sendiri.
Selama menonton film Filosofi Kopi 2, Saya merasa dimanjakan dengan pilihan musik yang hadir dalam film. Saya merasa, film ini tidak hanya bercerita tentang kopi tapi juga menceritakan perkembangan musik di berbagai kota yang mereka singgahi. Kemunculan Robby Navicula saat mereka di bali, Fourtwnty dan juga Fstvlst di Jogja, menjadi simbol bagaiana musik direkam dengan baik dalam film tersebut.
Hal lain yang membuat Saya tertarik adalah bagaimana pendidikan dalam film ini tidak membuat anak muda malu menjadi petani. Karakter Bry yang diperankan oleh Nadine Alexandra, merupakan seorang sarjana pertanian lulusan luar negri yang membawa Ben menggapai mimpinya yang sebenarnya, yakni menjadi petani kopi.
“Ada hal yang lebih penting daripada menyeduh kopi, yakni menanam kopi”. Demikian kiranya kutipan percakapan antara Bry dan Ben yang sangat melekat dalam ingatan Saya.
Pada akhirnya Filosofi Kopi 2 membuat Ben dan Jody menjadi paket lengkap. Petani dan penjual hasil tani. Film ini menunjukkan jalan bagi anak muda untuk tidak selalu berpikir menjadi pelaku industri tapi juga menjadi petani. Berdasarkan data yang saya dapatkan dari Badan Pusat Statistika, bahwa setiap tahun jumlah petani di Indonesia mengalami kemerosotan. Pada tahun 2013 ada 39,22 juta petani. Jumlah petani terus menurun yakni 38,97 pada tahun 2014, dan 37,75 pada tahun 2015. Jumlah tersebut terus saja berkurang hingga tahun 2017. Hal tersebut tentu tak lepas dari peran anak muda yang memilih untuk tidak menjadi petani.
Merosotnya jumlah petani di Indonesia bukan hanya soal angka tapi soal produksi bahan pangan yang tentunya merupakan hajat hidup orang banyak, tentang pengolahan lahan yang juga berkaitan dengan hidup banyak orang, serta pilihan hidup banyak orang yang memandang pertanian sebagai pekerjaan yang tak lagi menjanjikan.
Banyak petani yang tidak mau anaknya menjadi seorang petani. Orang tua berbondong-bondong bekerja keras, menjual tanah untuk menyekolahkan anak. “Yang ditanam di pikiran tidak akan bisa diambil orang lain”. Begitu kata salah seorang paman yang menjual tanahnya kepada papa. saat itu ia harus menjual tanahnya karena ia harus membayar uang pangkal anaknya yang masuk ke universitas.
Ayah Ben yang mempersiapkan bibit kopi untuk Ben adalah cerminan petani yang mempersiapkan generasi petani selanjutnya. Ayah Ben tidak hanya menananm bibit, tapi ia juga menanam harapan agar Ben bisa kembali ke desa dan menjadi petani yang memperlakukan tanaman sebagai sumber kehidupan. Bukan hanya sekedar barang jualan.
Permasalahan lahan pertanian juga tidak luput dari film Filosofi Kopi 2. dibalut dengan konflik antara Ben yang bertemu dengan Tara, anak pemilik kebun kelapa sawit yang menewaskan Ibunya, Film ini berhasil menggambarkan bagaimana sakitnya memperjuangkan tanah di Indonesia. Jika anda masih ingat tentang petani kendeng yang menolak pembangunan semen di rembang, maka itu hanyalah salah satu dari banyak konflik agraria di Indonesia. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), selama tahun 2016 terjadi lebih dari 400 kasus agraria di Indonesia.
Di Tiberias, Bolaang Mongondow, Sulawesi utara, saat ini sedang mengalami konflik agraria seperti yang dirasakan oleh Ben dalam film Filosofi Kopi 2. Dahsyatnya, di Tiberias masyarakat juga melawan aparat negara yang bekerjasama dengan perusahaan kelapa sawit. Saya membayangkan ada banyak Ben di sana yang melihat ayahnya ditangkap, rumahnya dibakar, dan tanamannya dirusak demi perusahaan kelapa sawit.
Sampai di tahap ini, saya pikir menjadi petani di Indonesia tidak hanya soal minat tapi juga tentang bagaimana negara ini menghargai petani dan lahan yang harus dimiliki oleh seorang petani.
Dan yang terakhir, beberapa karakter di film Filosofi Kopi 2 yang mundur dari mimpi orang lain dan membangun mimpi mereka, membuat Saya kembali mempertanyakan apakah mimpi Saya yang sebenarnya? apakah berada di kota dan memakan hasil dari desa? ataukah Saya harus kembali ke desa dan menghidupi orang kota?
