Monolog Sebelum Tidur

Ketika besaran nafas dan fisis berubah terhadap ruang dan waktu sesuai percakapan.

Ketika air mata menjadi monolog dalam dua makna yang beriringan.

Ketika 45 menit terbuang sebelum terlelap bukan menjadi suatu penyesalan.

Dan malam ini semua itu hanya menjadi bagian dari hal usang yang tersimpan.

Aku tidak pernah menyesal membuang ratusan malam untuk itu.

Aku tidak pernah menyesal meskipun radiasi telah melekat dalam telingaku.

Aku tidak pernah menyesal telah menghabiskan spermaku.

Hanya saja, aku menjadi skeptis kepada ilmuan.

Apa benar, 24 jam adalah angka yang valid untuk menjelaskan satu hari?

Apa benar, siang dan malam itu ada?

Aku merasa singkat untuk menghabisi malam dan menghadapi pagi.

Ketika aku sadar ternyata tak ada yang abadi.

-Monolog Sebelum Tidur-

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.