A Little Story About Love at First Sight with Binar Academy
Pernahkah kalian merasakan cinta pada pandangan pertama ? Ya.. Kurasa pasti kalian semua pernah merasakannya walaupun secara tidak sadar. Kebanyakan orang mungkin pernah mengalami hal ini. Aku pernah mengalami hal ini ketika belajar bersama mentor-mentor dari binar academy dan hal aneh itu terjadi. Ya, aku jatuh cinta kepada binar academy. Cinta yang kumaksud disini memiliki banyak maksud dan makna. Terdengar sedikit aneh dan “alay” namun jika kalian ingin mengetahui mengapa aku mengalami hal ini silahkan ikuti ceritaku hingga selesai :D

Aku adalah seorang mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang, NTT. Awalnya aku mendengar kegiatan “Nextdev : On the Mission” ini dari salah satu temanku. Awalnya aku sama sekali tidak tertarik terhadap kegiatan ini karena masih banyak hal lain yang harus ku selesaikan seperti kegiatan kampus, kerjaan, dan lain-lain. Namun suatu hari salah satu dosen memanggilku untuk membantu mencarikan 10 orang yang ingin mengikuti kegiatan Nextdev. Singkat ceritanya aku memasukkan namaku di 10 nama yang diminta oleh dosenku.
Pada tanggal 31 Juli 2018 kegiatan Nextdev dimulai. Kegiatan pertama adalah pengenalan binar academy kepada para peserta dan sedikit kisah hidup yang dibawakan oleh Alamanda Shantika atau akrab disapa “Mbak Ala”. Mbak Ala menceritakan kisahnya bagaimana ia membenci sekolah, bagaimana ia memulai mencari nafkah sendiri dan bagaimana ia bisa keluar dari hidupnya yang sempat dalam kondisi buruk. Namun kisah yang paling kuingat adalah ketika Mbak Ala bercerita tentang maksud dan tujuannya dan alasan ia membentuk binar academy. Ia ingin orang-orang di Indonesia mendapat pendidikan tanpa harus membebankan hidupnya. Beban yang ku maksud disini adalah yang pertama biaya. Seperti kalian tahu, menuntut ilmu di jenjang perguruan tinggi memiliki biaya yang cukup mahal. Hal tersebut tentu menjadi beban bagi sebagian orang. Aku pun sedikit teringat ketika aku melakukan kegiatan “Kuliah Kerja Nyata atau KKN” di salah satu desa di Nusa Tenggara Timur. Mereka bersekolah hingga tahap SMA saja dan ketika aku bertanya kepada orang tua mereka kenapa tidak melanjutkan ke perguruan tinggi mereka menjawab “kami tidak mampu untuk menghidupi mereka untuk ke perguruan tinggi”. Mungkin aku ingin sedikit mengajak teman-teman yang membaca ceritaku untuk berpikir. Apakah kita telah merdeka ? jika iya, apakah ini kemerdekaan yang diharapkan oleh para pejuang dan para pahlawan yang memperjuangkan Indonesia di masa lalu ? Tentu saja tidak. Saat ini mungkin kita masih harus berpikir keras dan mencari solusi terhadap masalah ini. Jika tidak kita hanya akan menjadi seorang warga negara yang membiarkan Ibu Pertiwi menangisi kondisi hidupnya sendiri. Beban yang kumaksud yang kedua adalah “Rasa Takut akan Kesalahan”. Tidak bisa dipungkiri lagi masih banyak orang yang sangat takut dengan kata “Kesalahan”. Ketika bersekolah atau menuntut ilmu banyak pelajar yang takut jika jawaban yang mereka utarakan salah. Kenapa takut ? tentu yang dibenak mereka adalah jika melakukan kesalahan maka sesuatu yang buruk akan terjadi seperti takut jika salah maka akan diejek oleh teman lain atau takut jika salah maka akan dimarahi oleh guru. Oleh karena itu, Mbak Ala mendirikan Binar Academy dimana menuntut ilmu disana tidak dikenakan biaya atau dengan kata lain gratiss. Kemudian jika belajar di binar maka kalian tidak perlu takut dengan “kesalahan” karena di binar kalian malah disuruh untuk menunjukkan kesalahan kalian dan jangan pernah takut untuk salah karena dengan begitu pelajar lebih mengekspresikan dirinya ketika belajar sehingga belajar menjadi suatu hal yang menyenangkan karena tidak ada yang perlu ditakuti. Dengan adanya kesalahan membuat kalian akan mempelajari banyak hal.
Sehabis Mbak Ala menyampaikan kisahnya, ada suatu perasaan aneh yang ada dalam diriku. Bulu kudukku sampai berdiri (bulu yang lain masih stabil tenang :D). Inilah yang aku inginkan. Aku ingin suatu hari nanti semua warga Indonesia tanpa terkecuali mendapatkan pendidikan yang layak dan sama sekali tidak mengenal takut dalam menuntut ilmu. Dengan begini tentunya Indonesia akan menjadi negara yang lebih unggul dari negara manapun. Aku ingin Indonesia dikenal oleh seluruh dunia bahkan planet lain (oke maaf sedikit berlebihan karena terlalu bersemangat… lanjut) agar kelak generasi selanjutnya dapat dengan bangga mengatakan “Aku orang Indonesia” kepada negara.lain. Dari sinilah aku mulai tertarik kepada binar academy. Ya itulah awal bagaimana aku tertarik dengan binar academy ini. Tetap stay tune ya masih ada lanjutannya :D.
Setelah Mbak Ala selesai membagikan kisahnya, kami harus mengikuti suatu tes sebelum mengikuti pelatihan selama 1 bulan dan singkat cerita aku lolos sebagai PM. Ketika tes ada 3 posisi yang ditawarkan yaitu PM, Web developer, dan Quality Assurance. Aku mengambil PM atau Product Manager karena aku orangnya selalu ingin mempelajari hal baru dan hal ini merupakan sesuatu yang sangat asing bagiku.

Keesokan harinya tanggal 1 Agustus 2018 kami para PM memulai kelas terlebih dulu. Kami belajar di salah satu hotel di Kota Kupang yaitu Hotel Sotis. Saat di kelas, kami diminta untuk memberikan pandangan atau pendapat kami mengenai apa itu PM, bagaimana cara mengambil keputusan sebagai PM dan lain-lain. Tentunya hal ini sedikit sulit bagiku karena semuanya hal yang sangat asing di telingaku. Namun berkat bantuan dari jawaban teman lain dan sedikit aksi oleh Mbah Google aku dapat melewatinya :D. Pada kelas PM kami diajari bagaimana cara untuk defining problem, mencari solusi, mengatur komunikasi antar anggota dalam tim dan masih banyak lagi. Sebagai PM kami harus mampu membawa tim untuk selalu bekerja bersama untuk suatu tujuan.
Kelas PM merupakan kelas yang bisa kubilang dengan sebutan “kelas freestyle”. Aku menyebutnya begitu karena saat belajar kami sangat bebas dan yah bisa dibilang tidak ada aturan wkwk :D. Kami selalu menjadi kelas yang paling ribut diantara kelas yang lain dan entah itu mengganggu atau tidak namun menurutku pasti sedikit mengganggu kelas yang lain mengingat kami belajar di 1 ruangan yang sama. Gaya belajar kami juga bebas mulai dari berdiri, duduk, sampai tiduran di lantai. Kelas kami juga kelas yang nomaden atau selalu berpindah tempat ketika belajar. Mungkin ini yang dinamakan Study Tour = Study sambil Tour hehe. Semua hal tersebut merupakan hal yang terkadang membuatku merasakan suatu hal yang namanya mirip seperti salah satu dari judul lagu band Padi yaitu Kangen.

Selang beberapa hari kami dibentuk dalam 5 tim yaitu A,B,C,D dan E. Aku masuk dalam tim A bersama 5 orang lainnya. Setelah dibentuk tim, kami memulai untuk mencari masalah yang akan kami angkat sebagai pondasi untuk produk kami. Tim kami merupakan tim yang tiap anggotanya sama sekali belum pernah mempelajari materi yang diberikan sebelumnya atau dengan kata lain materi yang diberikan saat pelatihan masih asing di telinga kami. Namun karena kami belajar bersama binar, hal tersebut bukanlah sebuah masalah. Sebaliknya, hal tersebut membuat kami semakin semangat dalam belajar karena rasa penasaran kami terhadap materi yang diberikan. Jika tidak diberi batasan agar harus pulang mungkin kami sudah menginap selama sebulan penuh di hotel.
Singkat cerita setelah berdiskusi dan mempertimbangkan banyak hal, kami mengambil masalah mengenai tenun. Banyak para pelaku usaha tenun di NTT khususnya kota Kupang yang belum dikenal oleh masyarakat luar. Jangankan luar, masyarakat asli Kupang juga terkadang tidak mengetahui tempat para pelaku usaha tenun tersebut. Hal ini menjadi dasar bagi kami untuk mengambil tenun mengingat tenun sendiri merupakan budaya lama bagi masyarakat NTT. Jika mereka saja tidak dikenal bagaimana budaya tenun juga bisa dikenal orang lain ? begitulah pikir kami. Dengan rahmat yang Maha Kuasa lahirlah Lopo Tenun, yaitu sebuah platform dimana informasi mengenai para pelaku usaha tenun di Kota Kupang bisa disampaikan ke masyarakat luas. Selain itu, mereka juga bisa menjual produk mereka secara online melalui kami. Hal ini dimaksudkan agar mereka dapat menggapai pasar yang lebih luas dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Karena kami menganggap bahwa akan menjadi hal yang miris jika mereka yang selalu mempertahankan budaya tenun malah hidup dalam tingkat kesejahteraan yang rendah. Hal tersebut kurang setimpal dengan apa yang mereka perjuangkan.

Sangat banyak hal yang terjadi selama 1 bulan belajar. Mulai dari senang, sedikit pusing, banyak pusing, bahkan sampai harus survival dalam belajar. Survival yang kumaksud disini terjadi ketika waktu makan siang dan coffee break sore. Sedikit saja terlambat mengambil langkah maka makanan yang dimeja hilang seketika dan kita tidak akan kebagian makanan. Begitulah kami 30 orang ini selalu bersaing dalam mencari makan karena di NTT hidup itu keras :D. Tanpa disadari aku telah mengabdikan hidupku selama sebulan penuh kepada pelatihan ini. Kegiatan lain yang harus kulakukan tidak pernah kulihat atau kuurus sama sekali. Aku merasa pelatihan ini lebih penting daripada kegiatanku yang lain. Disinilah mungkin aku telah jatuh cinta kepada pelatihan ini dan segala aspek yang ada didalamnya. Karena jika kalian telah cinta terhadap sesuatu, kalian akan melupakan hal lainnya.
Setelah melewati pelatihan selama kurang lebih 29 hari, kami akan menghadapi showcase untuk mempresentasikan apa saja yang telah kami buat selama kurang lebih sebulan belakangan ini. Terdapat 3 juri ketika Showcase dan salah satu jurinya adalah Kepala Sekolah Binar yaitu Kak Lutvi. Setelah timku mempresentasikan produk kami, kami mendapat banyak masukan dari para juri. Kak Lutvi juga mengatakan defining problem dari tim kami masih sedikit terdapat kesalahan. Ketika diberitahukan kami melakukan kesalahan di depan tim lain dan para mentor kami yang menyaksikan apakah aku takut ? aku kecewa ? aku malu ? jawabannya sama sekali tidak. Setelah sebulan belajar bersama binar aku sama sekali tidak takut dengan yang namanya kesalahan. Ketika pelatihan tidak ada yang akan menjatuhkan kami ketika kami berbuat kesalahan. Tidak ada yang akan marah ataupun melakukan hal buruk ketika kami berbuat kesalahan. Justru kami semua mendapatkan ilmu dari kesalahan yang kami buat. Oleh karena itu aku sama sekali tidak mengalami perasaan negatif sedikitpun ketika dinilai oleh para juri. Justru apa yang disampaikan oleh juri merupakan hal baru yang nantinya harus kupelajari lagi.
Setelah showcase, kami dinyatakan lulus dari pelatihan binar academy batch #1 Kupang. Biasanya seseorang akan senang ketika mengalami kelulusan tapi tidak bagiku bahkan mungkin kurasa bagi teman-temanku 29 orang lainnya ketika harus lulus dari pelatihan ini. Senang sih iya tapi tentu saja diikuti dengan rasa sedih. Kami harus berpisah dengan pelatihan ini. Kami harus berpisah dengan para mentor-mentor kami yang kami anggap keluarga sendiri. Setiap orang tentu akan merasa sedih jika harus berpisah dengan seseorang yang dicintainya. Namun jika kau telah mencintai seseorang maka jarak dan waktu bukan halangan bagimu. Oleh karena itu, aku tetap yakin selama kami menuntut ilmu maka kami semua masih terhubung dalam suatu ikatan. Kak Lutvi berkata bahwa semua orang yang belajar di binar merupakan saudara tanpa hubungan darah. Ya tentu saja hal itu sangat kupercayai. Di binar, kamu mempelajari bagaimana kamu menekan ego-mu sendiri demi kepentingan bersama. Kamu akan mendapat banyak saudara baru ketika kamu belajar bersama binar. Jika binar harus memiliki kartu keluarga mungkin pak lurah akan kewalahan mengurus kami karena banyaknya anggota keluarga kami hehe.
Sebelum ceritaku selesai, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Kak Puji, Kak Kevan, Kak Tata karena telah mengajar kami selama sebulan penuh. Terima kasih karena telah membagikan ilmu dan waktu kalian bersama kami. Aku juga berterima kasih kepada Kak Lutvi dan Kak Hilmi yang walaupun hanya selama kurang lebih 1 hari namun membawakan ilmu dan pelajaran yang begitu bermanfaat buat kami untuk 1 abad lamanya hehe. Aku sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar bersama binar.
Itulah sedikit ceritaku ketika mengikuti NextDev selama sebulan. Aku berharap orang-orang yang ada di binar merupakan orang-orang yang nantinya dapat menghapus tangisan di wajah Ibu Pertiwi yang kita cintai ini menjadi senyuman. Aku berharap orang-orang di binar inilah yang akan membawa Indonesia menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.. Terima Kasih..

“Spirit of Learning and Collaboration”