Bisnis Di Era Disruptive Technology

Begitu pesatnya kemajuan teknologi dan Internet memiliki dampak yang sangat besar terhadap banyak hal. Di satu sisi membuat peluang bisnis menjadi semakin banyak dan berkembang namun di satu sisi dapat membuat bisnis yang sudah ada hancur secara perlahan.

Hal ini terlihat jelas di Indonesia. Perusahaan yang sudah berdiri lebih dari puluhan tahun yang tidak cepat tanggap mengadopsi teknologi secara pelan-pelan akan mengalami penurunan dan tertinggal dengan perusahaan baru yang memiliki teknologi lebih maju.

Hal ini dikenal dengan Disruptive technologies , yang secara massive merubah gaya hidup, perilaku berbisnis hingga ekonomi global.

Contohnya di industri komunikasi pelan-pelan tapi pasti SMS ( Short Messaging Service ) akan mulai ditinggalkan dengan munculnya Whatsapp, Line dan BBM.

Industri media cetak dan televisi pun ikut terkena dampaknya. Saat ini untuk membaca berita terbaru tidak harus menunggu membeli koran pagi atau acara berita di televisi, namun cukup membuka situs berita seperti detik.com atau via social media.

Tutupnya Harian Sinar Harapan per 1 Januari 2016 lalu, mengonfirmasi masalah serius yang membetot bisnis media di Indonesia. Sebelum koran sore itu gulung tikar, beberapa perusahaan lain sudah menutup sebagian lini cetaknya dalam dua bulan terakhir, seperti the Jakarta Globe, Koran Tempo Minggu, maupun Harian Bola.

Begitu cepatnya penyebaran informasi melalui perkembangan teknologi merupakan faktor yang mempengaruhi kondisi media cetak. Masyarakat perlahan lebih rutin mengakes indivasi lewat Internet, termasuk berita.

Industri transportasi merupakan industri yang paling kelihatan dampaknya secara langsung. Terutama dengan kehadiran aplikasi transportasi online seperti gojek, grab dan uber.

Menjamurnya model transportasi online berbasis aplikasi tersebut berdampak negatif pada transportasi konvensional. Akibatnya, sejumlah bisnis transportasi konvensional gulung tikar. Setidaknya di tahun 2016 lalu ada dua operator taksi yang tutup.

Tak terkecuali gaya hidup pun ikut terkena dampaknya. Mengakses Internet via mobile sudah merupakan kebutuhan sehari-hari hingga aktivitas di jamban pun dilakukan sambil browsing melalui smartphone.

Tatap muka dengan sanak saudara di luar kota bisa dilakukan setiap hari tanpa ada kendala waktu dan jarak, seperti berkomunikasi dengan grup Whatsapp hingga social media seperti facebook.

Di era disruptive technologies ini menciptakan produk/jasa yg sama dengan kompetitor tanpa memiliki value sama halnya dengan bunuh diri.

Apabila bisnis anda tidak mampu menggilas kompetitor, maka produk anda yang akan digilas oleh kompetitor.

Pemilik bisnis di era disruptive technologies harus cepat tanggap dengan perubahan teknologi yang terkait dengan industrinya. Menjaga agar strategi bisnisnya selalu up to date dengan melibatkan teknologi dan menggunakan teknologi untuk improve performa internal dan eksternal bisnis mereka.

Teori disruption yang disampaikan oleh presiden TBWA Jean Marie Dru pada tahun 2000 an benar-benar menjadi menjadi kenyataan dengan hadirnya teknologi bernama internet. Teorinya bisa anda lihat di link ini

All the best,

Aryo Wibowo