Sebuah anggai untuk berhenti mengandai dan titah untuk memulai

Aku sudah siap untuk mengisahkan tentang bagaimana ratusan rasa tersurai dalam kertas buram catatan tentang dunia. Tentang bagaimana aku yang terus menyisir siapa diri. Tentang aku yang terus mencela hati dan pikiran yang kerap kali kontras bekerja dan tentang aku yang masih setia ingin menunjukkan eksistensi penyelarasnya.

Aku sudah siap untuk mengisahkan mereka yang datang pada aram-temaramnya hari dan tentang mereka pula yang bersiap melangkah ke luar pergi, satu detik setelah kusambut dengan segenap hati.

Aku sudah siap untuk berkisah tentang berpekan-pekan dihujani kebimbangan diri untuk memilih menutup atau membuka dan tentang banjir-sapa mencibir serta puji, barang sedetik setelahnya.

Bahkan akan kubagi pula kisah tentang bagaimana dalamnya aku terjatuh, lalu terpisah, berjarakkan ribuan manusia untuk dapat sama-sama mencinta. Tentang luka dan penawarnya yang kembali membuat luka, sebab tak kuasa.

Aku juga sudah siap untuk berkisah tentang perjalanan berbatu terjal serta berbukit ditemani pemandangan apik, diiringi kicauan burung di seluruh sisi menyambut setiap keputusan untuk ke kanan atau pun kiri.

Ini puisi tentang duniaku—yang jauh dari terangnya kilatan kamera matamu, matanya, dan mata mereka, sebab apatah menariknya kehidupan anak manusia biasa ini sebagai objek bicaraan dan pencarian—dan tentang aku yang selalu siap mengarik duniaku dan berjalan bersamanya sembari berkirim diri kepada-Nya.

Ceritakan tentangmu dan bantu aku pecahkan sulitnya teka-teki tentang duniamu.