Halo Tuan — si penggemar kata yang gemar pula berbagi cerita,

Izinkan aku untuk menarik pena, mengukir kata. Kulihat semalam frasamu masih sama, masih mengagumkan. Menuliskan keindahan di tengah ketegasan. “Berbeda”, itu yang selalu kukata kala pandang masih membaca.

Boleh kita bertukar cerita?

Bagaimana harimu di kedai kopi bakda isya? Lampau, memang iya— kurasa. Apakah sang penulis akhirnya datang berbagi kata? Nampaknya, kau menggebu ingin meluruskan segera.

Mengesalkan, ya? Manusia, memang, bagaimana bisa mereka berbicara seenak kata tanpa tahu fakta?

Ah,

Ingatkan aku ya — penikmat kata yang tak kunjung berani berkata — untuk mengakhiri segera. Karena melihat padanan frasamu setiap senja membuatku lupa, kalau bahkan kita tak pernah bersua.

Ah, jangakan bersua, bertukar pandang pun tak ada.

Tapi, wajarkan seorang pembaca mengagumi karya?

Atau,

Memang tak biasa?