enjoy the journey anyway

Apakah baik-baik saja jika saya belum menemukan passion?

Rintikan air hujan berkejaran di jendela kereta sore itu. Oseanna memandang ke luar, terperangkap dalam pikirannya sendiri. Satu pikiran mengejar pikiran lainnya terus menerus sedari tadi. Dering suara telfon mengejutkan lamunanya, Oseanna tersenyum, Eureka di ujung telepon.

“Woy ngapain kamu semalem ngomongin reinkarnasi pengen jadi tumbuhan lah, ngga mau menjalani hidup, ngga tau mau ngapain dalam hidup ini lah, sorry ya tidur nih semalem baru baca chat kamu, kamu baik-baik aja kan Se?” cerocos Eka dari seberang telepon yang hanya dijawab tawa oleh Oseanna.

“Krisis eksistensial nih Ka, gimana dong?” jawab Oseanna dengan muka mengkerut “Kamu nih putus sama pacar mikirnya kemana-mana ya, udah Se, udah…”

“Ya bagus kan Ka aku mikirin hidupku kedepan, ya ngga? Lagi pula aku udah mau lulus juga, rasanya midlife crisis ini nyata. Rasanya aku ngga tau mau ngapain di hidup ini, aku ngga tau passion ku apa. Aku pikir-pikir semakin dalam pun aku kayanya ngga menemukan pattern yang jelas dari hidup ku selama ini. Ya, ikut lomba macem-macem, ikut organisasi macem-macem, aktif macem-macem tapi terus passionku apaaa, atau passion aku ya yang berubah-ubah” keluh Oseanna.

“Sebenernya pertanyaan ‘passion kamu apa’ ini sexy banget sih, sampe bumi udah menginjak 2017 aja masih aja pertanyaan ini mengintimidasi anak muda eh orang tua juga sih, tapi jawabannya kayanya ngga ketemu-ketemu ya” jawab Eka

“Lah gimana ya Ka, semacam habis lulus itu kita milih karir yang kayak milih jurusan yang mau diambil buat seumur hidup Ka, seumur hidup ! kalau salah jurusan buat seumur hidup gimana? Apa lagi kalau pas ketemu orang baru atau pas wawancara kerja, terus ditanya ‘jadi, passion kamu apa?’ beuh rasanya kaya ditanya pertanyaan yang lebih susah dari pertanyaan UN atau pertanyaan siding skripsi hahaha”

“Tapi sebenernya sih Se, aku jadi mikir, buat apa sih tau passion ini? Hahaha toh hidup kamu selama ini sukses-sukses aja Se aku lihatnya. Kamu survive sampe saat ini tanpa tau passion kamu apa, kamu menang banyak lomba, kamu dianggap berprestasi, IPK mulus dan berbahagia kan ya?” suara Eka memelan

“Mungkin kita ketakutan aja ya menghadapi masa depan, takut salah, ragu macem-macem. Atau jangan-jangan ini social pressure aja Ka, sering banget nerima perintah cari passion kamu, find your passion. Rasanya kaya orang itu wajib punya sebuah passion trus habis itu sukses, dan mereka yang ngga bisa jawab passion kamu apa itu gagal. Pertanyaan ‘passion kamu apa’ itu kaya intimidating gitu lho ! Semacam tuntutan untuk ngasih jawaban yang wow, super atau punya bakat tersembunyi yang keren banget gitu hahaha kaya passion saya fotografi sambil muka sok ganteng gitu hahaha” Oseanna meluapkan kata-katanya.

“Iya sih somehow aku setuju, kayanya orang jadi takut salah jurusan kehidupan ini karena social pressure dan jargon-jargon pebisnis motivasi hahaha. Tapi anyway, fotografi, menari, melukis gitu-gitu kaya hobi gitu ngga sih jadinya, berapa juta orang yang hobi fotografi tapi jadi pimpinan perusahaan, jadi editor majalah, manager marketing, jadi macem-macem, dan toh mereka sukses dan bahagia. Kayak aneh aja kalau manusia harus punya sebuah passion, singular thing gitu. Dan yang lebih kesel lagi adalah mereka yang menghabiskan hidupnya untuk ‘mencari passion’ ini sendiri, dan akhirnya ngga menikmati hal-hal yang dia lakukan, ya kaya kamu ini. Aku nemuin banyak orang yang akhirnya mereka hidup untuk pencarian si passion ini.”

“Mungkin konsepsi passion sendiri yang salah. Mungkin kita lebih perlu galau eksistensi passion, passion sendiri itu apa?” Menelaah bersama Eka, Oseanna sadar.

Passion is a feeling and feeling change. Passion bukan lah rencana, bukan juga hobi, bukan juga penentu kesuksesan individu. Konsepsi passion itu merumitkan dirinya sendiri. Beberapa orang bahkan merasa ragu untuk menjalani hidupnya karena salah takut jurusan hidup ini, dan akhirnya tidak berbuat apa-apa, menghidupi keraguannya sendiri. Jika passion itu rasa, maka sangat mungkin rasa itu berubah-ubah.

Mungkin waktu SMP bersemangat banget untuk latihan teater dan merasa itu passion, masuk SMA bersemangat banget nulis dan merasa itu passion, kuliah kenal dunia riset dan merasa itu passion dan akhirnya lulus jadi guru TK. Well, that’s happened and it’s okay.
 Eureka terdiam sejenak diujung telepon kemudian berkata, “Lagipula Se, kayanya justru keberhasilan dulu baru ada passion, bukan sebaliknya. Semacam kalau orang nulis kemudian karyanya menginspirasi orang banyak dia akan jadi passionate untuk nulis lagi dan lagi, dan akhirnya dia bilang kalau nulis adalah passion dia. Mungkin juga dengan guru yang merasa mampu mencerdaskan orang lain dan akhirnya dia merasa pengen ngajar lagi dan lagi meskipun sebelumnya dia ngga pengen”

Oseanna memandang langit dari jendela kereta dan tertegun, “That’s it Ka, doing everything passionately! Bukan mencari passion-nya tapi menjalaninya passionately. Apapun yang ada dihadapan kita yaudah kerjakan dengan sepenuh hati, kerja keras, ngga usah terlalu ragu menjalani hidup. Ketika kita bisa ikut membantu menyelesaikan suatu masalah, menjadi berguna, dan merasakan ucapan terimakasih tulus atas kerja kita, akhirnya bikin kita pengen ngerjain itu lagi dan lagi. Be generous, do good and passionate doing everything!”

“Ah I see, iya dan kalau akhirnya semesta menugaskanmu mengerjakan hal lain dan hidupmu ngga punya pattern ya that’s okay, passion is a feeling and feeling change, jadi ngga ada yang rugi, ngga ada yang salah juga dengan itu. Ketika kita mengerjakannya passionately, mengerjakan sepenuh hati, berhasil bermanfaat, passion ini akan datang sendiri” jawab Eka bersemangat.

Eureka menambahkan, suaranya dalam, “Dan anyway Se, passion is not a plan or destiny, the most fulfilling life is the life that still has a power to surprise you, right? Cintai saja semua yang sedang terjadi dihidupmu, biarkan hidup ngasih kejutan-kejutannya untukmu”

Kereta Oseanna menelusuri jalan yang menenangkan mata. Ia sadar, tidak ada yang perlu ditakutkan dari masa depannya, seperti kereta Oseanna sore itu yang terus melaju, kehidupan akan terus melaju. Ia berjanji akan mencintai segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Melakukan segalanya passionately, berbahagia.

Not sure about the destination, but I just like to drive. Maybe it just didn’t matter where I headed, I enjoyed the journey anyway.”


Originally published at sadidaoseanna.wordpress.com on April 16, 2017.