Mempersilakan menghujat, mempersilakan jatuh cinta.

“Tak mudah menerima diri sendiri” pikir Oseanna malam itu. Matanya menatap ratusan pencakar langit yang gemerlap di hadapannya. Gemerlap cahaya gedung-gedung bertingkat dihadapannya mengusir semua bintang dari kota yang tak pernah tidur itu, Bangkok.

Enyah dengan semua latihan mindfulness berminggu-minggu, Oseanna membiarkan pikirannya melayang, berlari dan meracau seperti monyet gila. Hatinya lelah, Oseanna menunduk menatapi halaman apartemen, 11 lantai dibawahnya. Terlalu mudah untuk mati di kota ini. Tapi untuk apa, menjadi daging yang tak berguna.

Oseanna memilih duduk bersandar pada dinding balcony, memunggungi hamparan gedung yang mulai tampak memuakan. Mulutnya terkunci, tak tau harus bercerita pada siapa dan bagaimana. Iya, bagaimana. Menyendiri terlalu menyenangkan Ia nikmati selama ini, hingga Ia lupa caranya bercerita, cara mengatakan hatinya, cara membentuk gugusan kalimat dari semesta di kepalanya, cara mengubah monyet liar dikepalanya menjadi subjek predikat dan objek. Ia lupa, sungguh ia tak tau.

Layar smartphone Oseanna menyala berulang-ulang, ah lupakan saja, aku tak tau cara bicara. Tenggelam dalam luapan emosi sungguh melelahkan. Ia merasa begitu bersalah, gagal dan tak berguna. Sungguh ingin rasanya mengutuki kehadirannya di dunia ini. Untuk apa? Untuk apa kita semua disini? Terjebak dalam kubus-kubus tak bermakna, bahkan terjebak dalam kepala. Sering ia berkata, lebih baik menjadi tumbuhan daripada manusia tak berguna. Oseanna teringat perkataan guru SD nya yang entah dari mana sumbernya, tak penting. Guru itu berkata, sebelum manusia lahir ke dunia, roh kita memilih, akan jadi tumbuhan, hewan atau manusia. Tentunya roh Oseanna memilih menjadi manusia karena disinilah ia sekarang, terjebak samsara. Kenapa dulu ia tak memilih menjadi tumbuhan saja, setiap jengkal dirinya bermanfaat, tak perlu terjebak hiruk pikuk duniawi dan perasaan-perasaan yang mematikan yang mendorongnya untuk melompat dari pagar balcony. Memulai lagi siklus kehidupan, hingga ia bisa memilih menjadi tumbuhan saja.

Oseanna kemudian teringat salah seorang teman indigo yang katanya mampu melihat banyak hal lebih dari yang manusia lainnya lihat. Ia sering memberi tahu siapa mereka di kehidupan sebelumnya. Dan ternyata ada banyak hal lain selain tumbuhan, hewan dan manusia. Mungkin benar, semesta ini terlalu besar jika hanya ada tiga hal yang hidup, pikiran yang angkuh tentunya. Melihat manusia dari lantai 11 apartemen saja sudah tampak begitu kecil, apalagi apartemen di depannya yang memiliki 50 lantai, atau Baiyoke Tower apalagi Mahanakhon Building gedung tertinggi di Bangkok. Terlebih lagi melihat manusia dari pesawat atau dari roket bahkan dari bulan. Teramat kecil, apalah sakit hati yang dia rasakan sekarang, hanya remah-remah semesta.

Oseanna menyeka matanya, kering sudah, terganti rasa muak yang menggelumbung didadanya. Kesadaran mulai membanjiiri kepalanya, seperti pintu waduk yang dibuka, banjir yang berkecamuk. “Aku harus belajar” ucapnya. Belajar kembali menerima remah-remah sakit hatinya. Segala pelajaran meditasi berminggu-minggu membangkitkan hatinya. Recognize your thoughts. Oseanna harus lebih melatih monyet liar yang ada dikepalanya. Menyadari pikirannya sendiri, menerima dan membiarkannya pergi.

“Aku harus belajar menerima diriku sendiri” Membiarkan orang lain masuk kedalam semesta pikirannya. Mempersilakan mereka menghujat isi kepalanya atau jatuh cinta selamanya. Silakan. Menyendiri bertahun-tahun menjadikannya terlalu nyaman kepada diri sendiri, hingga Ia lupa, rasanya mempersilakan manusia lain mengakses pikirannya. Ia takut, Oseanna tak suka. Tapi kini Ia tahu, harus membiasakan diri mempersilakan pikiran lain bercengkerama dengan pikirannnya. Ia berjanji tak akan menyembunyikannya, Ia akan menerima. Monyet dalam kepalanya berbisik, menulislah. Terima dirimu dan pikiranmu.


Originally published at sadidaoseanna.wordpress.com on April 5, 2017.