Si Sopir Kampret

11 PM, 20 Juni 2017, saya berangkat ke Kabupaten Sumenep, pulau Madura. Saya menikmati masa pra lebaran dan pasca lebaran di pulau para penyair. Menurut kawan-kawan saya di Komunitas KUTUB bahwa perjalanan dari Jogja ke Madura memakan waktu kurang lebih 12 jam. Dan menurut orang-orang Jogja bahwa itu perjalanan jauh. Yah, dari bagian tengah pulau Jawa pergi ke bagian ujung timur pulau Jawa.

12 jam perjalanan, menurut saya biasa saja. Saya pernah lalui rute Makassar ke Luwuk Banggai dengan tempo 2 hari 2 malam. Dan saya santai saja--padahal tidak santai; lelah. 
Anatomi kita kaget menerima informasi baru. Duduk selama 48 jam, pantat saya nyeri minta ampun. Sekali lagi, biasa saja.

Bagaimana dengan sopirnya? Itu karena biasa. Bisa karena terbiasa. Adagium itu tetap relevan untuk kita yang sedang berjuang dengan cara bagaimana. Misal, saya ingin bisa menulis tapi tidak punya bakat atau saya tidak bisa menulis bagus walaupun ada keinginan mau menjadi penulis. Padahal ini adalah masuk dalam ranah mau dan dibiasakan. Pembiasaan ini membutuhkan waktu lama. Tidak cuma 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, dan 1 tahun. Tidak, kesuksesan seseorang tidak didapatkan hanya waktu sesingkat itu. Malcolm Gladwell berwacana dari hasil penelitiannya bahwa bila ingin ahli dibidang tertentu (contoh, menulis), kita mesti latihan selama 10.000 jam. Iya 10ribu jam. Jam sebanyak itu akan terpenuhi selama 10 tahun dengan latihan setiap hari selama 8 jam. Saya beri contoh novelis Indonesia, Eka Kurniawan atau esais Muhidin M. Dahlan. Mengapa mereka ini bisa lihai merangkai kata dengan mudah dan sulit kita tiru? Betul, mereka sudah melalui 10.000 jam itu. Teori ini saya baca dari jurnal Eka Kurniawan dan sempat disampaikan Muhidin kepada saya bahwa kamu perlu butuh jam sebanyak itu sehingga menjadi penulis profesional. Bila seandainya tidak, kamu akan tetap menjadi penulis amatiran. Buku berjudul "Outliers" itu sedang saya baca. Bagus jadikan referensi motivasi yang lemah syahwat seperti saya.

Ini juga berlaku kepada profesi lain. Begitupun si sopir tadi, kenapa mereka lihai menjaga kursi depan bus karena perihal itu telah dibiasakan. 
Semua membutuhkan kekuatan dan darah juang yang tiada henti mencapai mimpi-mimpi kita.

Tengah malam, aku dan Cak Fakih--penyair dan editor Divapress--menaiki bus Sumber Slamet. Terminal Giwangan adalah awal mulai petualangan kami dari Jogja menuju Surabaya. Saya terkejut merasakan bagaimana si sopir membawa kami ke jalan raya. Saat di terminal saja, sopir menarik gas dengan cara tidak biasa; mengagetkan. Saya belum duduk di kursi. Gas sudah tancap. Jelaslah, saya tidak sigap.

Awal yang tidak berkesan baik untuk saya, dan sepanjang perjalanan Jogja-Surabaya; seketika saya memiliki penyakit jantungan. Di bus kan tak ada sabuk pengaman untuk penumpang. Jadi bila sopir narik gas kaget, penumpang akan tersandar. Bila sopir tekan rem kaget, penumpang akan terdorong ke depan. Begitupun belok kiri dan kanan.

Malam itu kalau saya punya kapak, maaf, saya menebas leher si sopir. Karena si sopir songong itu, saya mesti minum dua butir obat magh; kampret.

Safar Banggai

#esaipendek

#esaiperjalanan

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Safar Banggai’s story.