Malam Pertama di Sumenep

Malam pertama di Sumenep, inap di rumah salah satu santri Komunitas KUTUB--Naufel--di desa Longos, Kec. Gapura. Saya tenang di Kampung ini, tidak ada hiruk pikuk motor dan bisingan orang-orang kota yang kerap membicarakan politik. Kampung ini jauh dari kota kabupaten Sumenep dan sekitarnya 500 meter dari jalan raya. Dari rumah ke rumah lain memiliki jarak yang jauh. Selama seminggu saya di sini, Naufel sering kali membawa saya ke tetangga menggunakan motor. Tiap rumah berjauhan, namun ditiap rumah ada juga satu kompleks berjumlah dua sampai enam rumah. Di luar rumah, pohon kelapa bejibun di mana-mana--inilah penghasilan utama warga desa ini.

Malam pertama, saya diajak ke alun-alun Sumenep, di samping alun-alun ada masjid--yang dijadikan ikon di Kabupaten Sumenep yaitu masjid Jamik. Sebelumnya, kami tiba di alun-alun itu, Naufel telah menjelaskan bahwa ada acara sastra di alun-alun. Bernando J. Sujibto menjadi pemantik tunggal. Sosok ini tidaklah asing bagi saya setahun terakhir setelah membaca esainya di pindai.org tentang Orhan Pamuk terpenjara buku. Esai yang cukup banyak memengaruhi saya, dalam hal semangat menulis, dan membaca. Suatu saat pertemuan saya dan Cak Bje (sapaan Bernando) di pesantren KUTUB, mengubah jalan kepenulisan saya, dan mengganti nama saya menjadi Safar Banggai, yang ikut serta pemberian nama itu adalah Kedung Darma Romansha. Nama bukanlah faktor utama, tapi nama adalah pintu masuk orang-orang yang ingin mengetahui dan mengenal kita.

Malam pertama, cukup berkesan bagi saya. Lelah dalam bus, terlunasi saat lihat semangat pemuda Sumenep yang mencintai sastra. Melingkar, Cak Bje terus berbagi pengalaman dan ilmunya kepada kami; pengalaman perjumpaan ia dengan Organ Pamuk. Sebagian materi ceramahnya, saya sudah tahu, sebagian juga belum. Apabila Cak Bje fokus terhadap perkembangan literasi Turki, saya kira ia akan menjadi orang yang akan dipercaya untuk berceramah di kancah nasional--perihal Orhan Pamuk dan Turki.

Malam pertama, saya rindu malam pertama.

Safar Banggai

#esaipendek

#esaiperjalanan

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.