Nirwan Dewanto: Sang Mata Terus Mencari Apa yang Terlarang

Sumber: @demabuku
“Melukis perempuan itu sungguh absurd, namun lebih absurd lagi jika tak melukisnya,” de Kooning berkata.

Bukan mengulas sosok Nirwan Dewanto, juga tidak akan membahas karyanya dengan serius, hanya mencoba mengarsipkan kata-kata bagus dari tulisannya pada buku Satu Setengah Mata-Mata terbitan OAK.

Saya belum lama mengetahui nama Nirwan Dewanto dan karyanya. Akhir-akhir ini, saya baru ketahui bahwa beliau ada dalam lingkaran Komunitas Salihara. Pecinta Sastra Indonesia pasti mengetahui komunitas yang didirikan Goenawan Mohamad itu.

Terbatasnya kemampuan saya untuk mengulas buku yang lihai membicarakan seni rupa ini, sehingga hanya memberanikan diri menulis tulisan yang Anda baca sekarang. Sebab, kali pertama saya membaca buku bergenre seni rupa. Dan bagi pecinta buku yang pernah membaca tulisan-tulisan Nirwan Dewanto telah tahu bagaimana gaya Nirwan Dewanto menulis. Anagram.

Inilah beberapa kalimat bagus dari Nirwan Dewanto:

1) Rasionalitas juga memperluas diri melalui pemberontakan artistik (hal. 4).

2) Taman-taman kota (di seluruh dunia) adalah ruang-ruang kosong yang berupaya memurnikan tanggapan manusia atas dunia; tapi semua itu upaya belaka, sedangkan lukisan bagi ia, khususnya seni lukis “abstrak”, tidak berupaya apa-apa dan justru menjadi kemurnian sendiri (hal. 5).

3) Tanpa museum, takhayul tetap saja merajalela, bahkan kini menjadi lebih ganas sambil menyaru dalam rias dan pakaian mutakhir (hal. 6).

4) Memperkarakan rupa pada akhirnya adalah juga memperkarakan seni rupa (hal. 8).

5) … wajah si penulis seperti mengambang di atas genangan abu-abu: garis-garis tegas tinta cina itu menguatkan sekaligus membuyarkan sang wajah. Di sana kita tak lagi memisahkan antara yang intelektual dan yang puitis (hal. 20).

6) Bukankah di luar sana kita pernah terpaksa takut akan wabah merah, mereka yang konon memberontak di tahun 1965? (hal. 22).

7) Bahwa pemajangan seni di ruang publik mestinya proses tawar menawar yang melelahkan (hal. 27).

8) Dan salah satu fiesta yang terbesar du Meksiko adalah Hari Orang Mati, di mana mereka mensyukuri kehidupan sebagai nostalgia terhadap kematian, seperti ditulis penyair Xavier Villaurutia (hal. 33).

9) Memandangi patung-patung itu adalah menyadari bahwa kita sungguh pemurah, tetapi kemurahan ini telah terkhianati (hal. 49).

10) Bila bunga melati di alam memaku kita warna putih dan segenap wewanginya, bila kita menyayangkan betapa cepat gugur ke bumi, maka patung Rita berjudul “Kuntum Melati” adalah sebuah bidang bujur sangkar dari kuningan yang “tersobek” rapi (hal. 50).

11) Kaum pascamodernis menyebut bahwa kita terhukum untuk jadi modern. Tidak, saya berkata. Sebab kita sanggup memandang dengan layak, memandang dengan girang dan hati-hati, menyarikan bentuk di tengah kelimpahan dan keruwetan. Sebab “seni abstrak” tidak lagi abstrak: di tengah polusi bentuk yang mengepung kita, ia membayangkan kekosongan dan kesempurnaan, di mana kita bukan lagi orang hukuman tapi pecinta yang sadar (hal. 64).

12) Bahkan salah seorang dosennya, Nyoman Gunarsa, memacu para mahasiswa untuk melukis habis-habisan “hingga mati di kanvas.” (hal. 100).

13) Seperti membuat dan merawat taman, melukis bagi Nasirun ialah menggerakkan tangan, menggoreskan, membubuhkan bentuk tanpa henti (hal. 101).

14) Berkarya ialah kerajinan dalam dua arti. Yaitu bersikap rajin, tekun, tak kenal lelah; sekaligus mengadopsi kekriyaan, menghias, menghormati ragam hias (hal. 101).

15) Nasirun: bersampah-sampah dahulu, berseni-seni kemudian (hal. 106).

16) S. Teddy Darmawan mengatakan, “lukisan ialah gambar yang disederhanakan atau dirumitkan.” (hal. 107).

17) Kekosongan lukisan abstrak ialah cara kita untuk meragukan segala asumsi dan pretensi kita akan kebenaran yang telanjur berlaku (hal. 126).

18) …bahwa kompleks pemakaman di Indonesia sudah lama direndahkan mutunya oleh Cerita Hantu Pocong. Itulah sebabnya, antara lain, sekarang ia kisahkan lagi La Recoleta (hal. 159).

19) Seandainya pula kau mampu menciptakan Santa atau Dewi dalam karya-karyamu, maka aku percaya bahwa kami malah tak bisa meninggi bersama keindahan yang kauperjuangkan (hal. 210).

20) “Melukis perempuan itu sungguh absurd, namun lebih absurd lagi jika tak melukisnya,” de Kooning berkata. (hal. 211).

21) Tapi sosok-sosok perempuan terpiuh itulah yang membuatku akrab dengan dosa. Kenapa kita harus berpura-pura suci dan bahagia dengan mengindah-indahkan kaum perempuan? (hal. 211).

22) “Aku palsu maka aku ada.” (hal. 214).

23) Ingatlah, kecantikan dan sensualitas “asli” juga ilusi bentukan pasar. (hal. 215).

24) Seniman harus memperjuangkan keseorangannya, individualitasnya, membuat jiwanya sendiri terlihat dalam bentuk-bentuk ciptaannya; namun di sisi lain, ia juga, sebagai anak masyarakat dan sejarahnya, mengancang figur-figur yang sekalipun terpiuh, tetap berterima. (hal. 221).

25) Dengan ini pula, saya hendak menyiratkan bahwa seni patung lebih bebas untuk melampaui dirinya sendiri, memperluas batas-batas yang ditetapkan sejarahnya sendiri. (hal. 226).

26) Dan terbang melayang adalah menatap seluruh dataran, memilih titik terbaik untuk mendarat. Namun mendarat bukanlah berarti menetap, sementara terbang melayang tidaklah semata-mata bertujuan mendarat, kecuali untuk memeriksa diri. (hal. 232).

27) Mudah-mudahan saya tidak berlebihan jika mengatakan bahwa setiap seniman pada dasarnya ingin mendapatkan tempat yang mapan dalam sejarah seni rupa. (234).

28) Binatang dan manusia, alam dan kebudayaan, adalah dua saudara yang saling bercermin tanpa henti-beastly! (hal. 244).

29) Saya sebut “mata-mata” karena sang mata terus mencari apa yang terlarang. (hal. 246).

30) Masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang mampu bersikap adil kepada tubuh dan ketelanjangan. (hal. 249).

31) Diam-diam, sesungguhnya kita bimbang bahwa rumah adalah tempat memuliakan kehidupan pribadi. (hal. 250).

Ini menurut saya. Bagaimana menurut Anda?