Klise Tengah Malam

Tulisan ini berhasil ditumpahkan dan ditemani suara Richard Orofino berjudul All The Middle Days. :)) Sambil baca sambil dengerin deh, vibe nya pas. Hehehe…

Masih dalam penyesuaian jam tidur. Sulit sekali untuk kembali ke jam tidur yang biasanya. Penyesuaian jam tidur ini diakibatkan dari semua penat setelah mengerjakan mahakarya mahasiswa tingkat akhir yang sering dianggap mimpi buruk, ya, Skripsi. Beruntung pernah melewati fase ini, memang terasa mahasiswa ‘banget’ seperti yang sering dibuat meme comic atau curahan hati pelajar se-Indonesia di blog atau forum chat. Masih ada satu lagi sih yang harus dilewati, yaitu Sidang. Maka semua pengorbanan sebelum-sebelum ini akan terbayar (kurasa).

Aku tidak akan menulis dengan bahasa asing untuk saat ini. Lima bulan membaca PDF dan menerjemahkan buku teks demi skripsi sudah cukup membuat saya penat. Sudahlah, bukan itu yang mau aku tulis di sini. Aku ingin menumpahkan semua pikiran yang sudah penuh dalam otak selama ini. Aku hanya perlu mencari waktu dan kata-kata yang tepat untuk membuatnya jadi tulisan.

Selama mengerjakan tugas akhir banyak efek sampingnya. Padahal hanya sebuah karya ilmiah yang mungkin belum tentu akan sehebat karya ilmiah para theorist di luar sana. Banyak yang bilang efek samping skripsi berdampak pada semua aspek kehidupan dan itu memang terasa olehku.

Akhir-akhir ini banyak sekali kejadian. Dunia semakin hingar-bingar, kuakui beberapa tahun ke depan generasi ini harus bisa bertahan dan justru harus terus maju. Kedengarannya dramatis ya? Memang kok. Lihat saja, berita tentang konflik tiada henti di negara timur, potret korban perang yang mengiris luka, perebutan kursi orang nomor satu di negara adikuasa dengan calon-calon yang membuatku tidak berhenti menganga. Di negara sendiri banyak kejadian-kejadian konyol, dan miris. Selebgram yang jadi role model generasi Z yang sebenarnya tidak patut dicontoh, motivator superrrrr yang tidak mengakui anak kandungnya, aliran sesat yang menggandakan uang, dan sidang sianida yang tidak kunjung berakhir. Oh Goodness Me! Entahlah, mungkin hanya aku yang merasa tahun ini banyak sekali kejadian-kejadian yang beragam dan terjadi dalam waktu yang berdekatan.

Lantas apa hubungan rentetan kejadian itu dengan curhatan ini? Di luar sana banyak orang yang sedang berjuang, menyelesaikan konflik yang begitu besar, menyangkut hajat hidup orang banyak, sementara aku masih seliweran sana-sini bahkan menunggu sidang pun masih sempat-sempatnya curhat di sini. Klise memang, tapi kejadian-kejadian yang kujelaskan tadi membuatku sadar akan semakin berat ujian hidup kedepannya.

Bukannya aku tidak bersyukur. Sebentar lagi, In Syaa Allah, aku bakal keluar jadi sarjana dan hidup sebenarnya akan semakin semakin menantang. Aku mungkin akan bertemu banyak orang yang berbeda, tidak terduga, dengan sifat, bahan topeng yang dipakai. Akan banyak kejadian mengejutkan lain di depan sana, sementara aku harus punya sesuatu untuk bisa bertahan. Kemampuan, mental, dan keyakinan. Tapi semua itu akan percuma jika masalah sepele saja masih terus dipikirkan.

Okelah ini memang KLISE! So what? Aku sadar aku merasa lebih baik ketika aku bisa menuliskan semuanya, tapi aku juga harus berpikir ribuan kali sampai bisa menulis seperti ini lagi. Kejadian-kejadian di luar sana mungkin bukan sesuatu yang harus aku urus secara langsung tapi dampak dari kejadian-kejadian tersebut akan terasa padaku, pada orang-orang yang akan melanjutkan hidup setelah ini. Bagaimana keluargaku ke depannya, Ibuku, Ayahku, Adikku terutama. Aku tidak bisa berhenti memikirkan mereka, ditambah mungkin tidak lama lagi aku juga akan berpisah dengan sahabat-sahabatku, dan mungkin beberapa orang yang baru kukenal dan akan berpisah lagi. Kelihatannya sepele tapi itu sangat berpengaruh padaku dan bagaimana nanti aku akan melanjutkan fase kehidupan.

Ya Baper. Terserah apapun namanya itu. Kadang aku lelah terbangun di pagi hari dan terdiam sampai benar-benar sadar masa depan semakin dekat, bahkan dalam hitungan detik. I’m not a teenage girl anymore. Tanggung jawab akan dipikul bahkan semakin banyak. Namanya seorang perempuan muda, akan turun ke masyarakat dan hidup untuk membanggakan keluarga sudah pasti, dan tidak sedikit yang akan menyinggung siapa yang akan bersanding dengannya. Ya, masalah pasangan hidup. Ohoho sejujurnya (ini sih klise lagi) aku sudah tidak tahu harus berbuat apa soal itu. I do want to marry someone someday, truly. Aku juga ingin memiliki anak, malah aku sudah memiliki dua nama untuk calon anak-anakku nanti. Alakai dan Nirwana. Hehe. Tapi sebelum mereka lahir, aku harus memastikan kalau aku layak sebagai seseorang yang pantas hidup di masa depan dengan tantangan dan ujian yang luar biasa hebat nanti, tentunya sang calon suami entah siapa dia; aku juga harus bisa menjadi layak di depannya dan membuatnya tidak menyesal telah memilihku. Karena saat ini, aku tidak bisa membuat seseorang menilaiku layak atau tidak. Kalaupun aku menyukai seseorang saat ini, aku berpikir lagi apakah dia pantas menerimaku? That’s why when it comes to talk about lover, I daren’t to write on this, that’s more complicated. So I still keep it by myself. Judge me, whatever.

HAHAHAHA this night is getting crazy. Sudah lama aku tidak menulis seperti ini lagi sejak aku menghapus blogger yang isinya curhatan tidak penting. Tapi aku tidak akan menghapus yang satu ini. Tulisan ini akan jadi pengingat untuk diriku sendiri bahwa tanda-tanda untuk selalu siap menghadapi apapun demi bertahan hidup di masa depan adalah MANDATORY. Ayah, Ibu, Adik, Sahabat-Sahabat yang saat ini masih bersamaku, mereka harus jadi saksi, bagaimana seorang Saffina akan bertahan di dunia yang makin hingar-bingar. And I’m sure I will make them proud. Because I DON’T WANT TO LOSE ANY SECOND IN MY LAST YEAR OF FREE LIFE (COLLEGE LIFE) JUST TO THINK ABOUT SOMETHING BLURRY WHILE THINGS KEEP HAPPENING OUT THERE.

Ku akhiri curhatan ini ya pikiran ini makin liar untuk menulis hal eksplisit…. bye.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.