Dua Dasawarsa, Dirimu.

Seribu satu pujian ku ucap,
Pertanda rasa syukur terungkap,
Terimakasih atas pemberianNya,
Seorang sahabat suka dan duka.

Masih terpaku di depan layar, kemudian terhenti sejenak, terbawa oleh suasana yang membuat aku bingung untuk mendeskripsikan sosok nya dalam kalimat. Lambat laun ku coba untaikan kata — kata, meski tidak seindah untaian puisi ketika di dengar, barangkali kamu tahu bahwa aku menulisnya melalui hati.

Sosok yang sudah menemani saya sejak beberapa tahun lamanya. Berawal dari kegiatan yang dileburkan oleh jadwal kelas, hingga organisasi. Penyejuk saya, penenang saya, entah berapa banyak sumpah serapah, tangis berurai air mata, hingga tawa sepertinya sudah menjadi hal yang biasa di dengar olehnya, dari saya. Perihal hati, perihal hidup hingga mimpi — mimpi, sepertinya perempuan ini sudah mengetahuinya. Pun, semua cerita yang tak terungkap oleh saya, entah karena saya dan dia sibuk atau saya lupa, namun saya yakin dia bisa merasakannya. Terkadang, saya dan dia tidak perlu bertanya ada apa, dan menjawab karena apa, sepertinya semua sudah bisa kita lihat satu sama lain, melalui guratan lelah dan rasa ingin menyampaikan sebuah kisah yang tertahan di air muka dan pelupuk mata.

Entah, sampai pada paragraf ini pun, saya tidak bisa menjelaskan seterang — terangnya betapa bersyukurnya saya telah memiliki seorang sahabat seperti dia.

Kamu selalu tahu betapa sulitnya saya mengungkapkan dan menunjukkan rasa sayang saya pada seseorang.

Masa — masa SMP, rupanya kita masih sama — sama sungkan untuk bercerita, dan seiring berjalannya waktu, seluruh cerita telah habis kita bahas. Masa — masa SMA, sungguh, sosoknya adalah yang selalu menjadi pendengar setia saya, perekam jejak saya dari yang seperti itu hingga seperti ini, dari yang seperti ini hingga seperti itu. Begitu bijak, dewasa, dan selalu tenang. Kalimat sebelum ini sudah barang tentu disetujui oleh setiap yang membaca tanpa perlu dipertanyakan.

Saya masih ingat betul ketika selepas SMA, masa — masa perkuliahan di bulan April tepatnya, malam itu ketika kamu menelpon saya, kemudian kita sama — sama menangis, padahal saya yang sedang berada dalam kesedihan. Tapi saya tahu, betapa kamu menyayangi saya sebagai seorang sahabat hingga berderai air mata itu.

Rasanya, ucap — ucap terimakasih dan seribu satu permohonan maaf tidak bisa membalas setiap kebaikan yang telah dia lakukan pada saya. Pun, segala kesalahan saya karena lagi — lagi tidak pernah menjadi sahabat yang baik untuk dia.

Terimakasih, karena dari kamu, saya belajar untuk tetap teguh dalam segala keistiqamahan untuk mencapai mimpi — mimpi saya. Terimakasih, karena selalu percaya bahwa saya selalu bisa memperjuangkan apa yang saya inginkan. Terimakasih, karena selalu yakin bahwa saya akan mencapai apa yang selama ini saya perjuangkan. Terimakasih, karena selalu percaya bahwa saya lebih dari apa yang saya bayangkan. Terimakasih, karena beribu kebaikan dan keikhlasan kamu yang selalu bisa menerima saya sebagai sahabat kamu apa adanya. Terimakasih pula, karena selalu mengerti tanpa perlu satupun alasan.

Rasanya, sebuah tulisan ini pun tidak pernah cukup untuk menyampaikan segala sesuatunya apa yang ingin saya sampaikan. Benar, seperti yang pernah kamu bilang, dulu ketika sering menghabiskan waktu bersama, pun ketika bertambahnya usia kamu, kita masih sering menghabiskan waktu bersama tanpa ada ucap — ucap selamat. Namun, sekarang rasanya seperti berbeda. Mungkin yang tak tersampaikan akan lebih indah daripada yang tersampaikan. Atau mungkin menyampaikan akan lebih baik daripada menyembunyikan. Entahlah, kita tak pernah tahu, sampai hati benar — benar yakin. Meskipun kita juga sama — sama tahu bahwa doa tidak pernah tidak disampaikan untuk satu sama lain diantara kita. Namun tulisan ini, sengaja saya buat sebagai perwujudan betapa rindunya saya, walaupun hanya untuk sekedar bercerita.

Tiga kali libur kenaikan semester, rasanya bersua sudah cukup menghapus rindu. Namun, ada kalanya saya rindu untuk bercerita dari hati ke hati.

Ya Allah, lindungilah ia sebagaimana ia selalu meminta perlindungan dariMu
Kuatkanlah pundaknya untuk menerima setiap amanah dan tanggung jawab
Jadikanlah ia sosok yang selalu mencintai keluarga, sahabat, rekan — rekannya sebagaimana Engkau mencintai makhlukMu
Semoga ia senantiasa berada dalam naunganMu, berkahilah dan ridhoilah ia dijalanMu. Dan, doa — doa terindah lainnya, yang langsung terucap dari saya kepadaMu.

Barakallah fii umrik, sahabat, 
Sylvi Noor Alifah.
Selamat dua dasawarsa dilalui.

Bandung,
H+20 setelah 16 Januari 2017.
Yang sedang rindu sahabat,
Saghita Desiyana Maurischa.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.