Salamku, untuk Portugal.

Saya tidak pernah menduga akan mengenal kamu sebaik ini. Enam minggu rasanya tidak cukup untuk berbagi dan bercerita tentang kehidupan masing — masing.

Did you still remember the time that we exchange our id card? You got mine, and I got yours. And since that day, I believe that it is our destiny.

Saya ingat betul hari itu, adalah hari keberangkatan kami menuju Lopburi. Sebelum keberangkatan, kami mengadakan beberapa kegiatan sejenis farewell party atas tiga hari yang kami habiskan di Incoming Preparation Seminar. Ya, saat itu panitia memberikan games dengan perintah kami harus menukar id card kami kepada siapa saja. Dan, automatically entah kenapa kami bertukar id card.

Awalnya, saya kenal kamu hanya sebatas kamu adalah teman satu kamar saya dari Indonesia, Ghina dan Meizy. Vania Cruz, dari Portugal. 16 Agustus 1996. Jurusan Psikologi Universitas do Minho. Cantik. Itulah impressi pertama saya tentang kamu.

Kemudian hari kedua Incoming Preparation Seminar, saya baru mengetahui bahwa kamu adalah roommate teman saya dari Indonesia, untuk enam minggu ke depan di Lopburi.

Setelah pertukaran id card itu, semua berubah. Seketika hanya saya dan kamu yang berganti roommate. Ya, roommate kamu dengan roomate saya, dan ternyata saya dan kamu menjadi roommate. Apa yang membuat sampai saat ini saya masih memikirkan itu adalah karena hanya kami yang tertukar. Ya, hanya kami. Sedangkan seluruh Exchange Participant yang lain tetap pada roommate nya sejak awal pemberitahuan.

Dan sampai pada tulisan yang saya buat ini, saya tidak pernah menyesal untuk menjadi roommate oh , bukan teman kamu.

Terkadang, saya ingin menertawakan hal — hal kecil yang rupanya bisa menjadi suatu hal jika di sangkut pautkan. Tidak ada yang namanya kebetulan bukan? Ya. Seperti ulang tahun kamu yang ternyata sama dengan ulang tahun ayah saya, atau hal kecil sebatas sim card Thailand kami yang sama, atau kecintaan kami yang sama terhadap pantai, meskipun kamu jauh jauh lebih mencintainya dibandingkan saya. Dan setelah berjalannya waktu, rasanya begitu banyak hal yang sejalan antara saya dan kamu.

Tentang ketidaksukaan kamu atas pemerintahan, namun kamu memilih untuk mengikuti kegiatan — kegiatan kemasyarakatan dan aku memilih untuk masuk ke dalam sistemnya. Tentang ketidaksukaan kita atas banyaknya aksi ketidakmanusiaan yang sekarang sedang terjadi. Dari hal — hal formal hingga sepakbola pun kita bicarakan. Ternyata, banyak sekali cerita yang kita dapatkan, bukan?

Tidak lupa juga, tingkah polos kamu yang membuat saya tertawa dibuatnya. Masih ingat dengan kisah ketika kamu ingin mencuci baju namun detergent nya habis? Masih ingat ketika hampis setiap hari kamu selalu bercerita betapa senangnya kamu akan berlibur ke Koh Phi Phi? Aku juga selalu ingat bagaimana kamu memegang sendok di tangan kirimu dan garpu ditangan kananmu untuk makan nasi goreng, Atau tentang cerita setiap harinya kamu digigit oleh nyamuk? Atau dengan banyaknya hal konyol yang kita lakukan? Saat mencari makan malam, dan kita nekat untuk pergi membawa motor hostfam kita ke tempat yang lumayan jauh dari rumah sambil hujan — hujanan. Atau tentang mba dan mas waitress yang salah memberikan pesanan karena lack of English communication? Bagaimana tentang kita yang sering tertidur di bus setelah mengantar murid murid pulang? Atau membeli es krim setelah makan siang? Pergi ke pasar naik sepeda? Ah ternyata banyak sekali moment yang kita jalani.
“it was totally different” saat — saat perjalanan pulang dari Seven Eleven sehabis makan malam. Tentang makanan, keadaan sekitar, jalan, rumah makan atau hal — hal kecil lainnya yang teramat berbeda dari Portugal

Sampai pada minggu minggu terakhir, ketika kamu sakit. The stranger kind of sick ever! I never see the kind of that sick ever, tbh. So, it must be your best experience in Thailand right? Hahaha actually I grateful that you are sick because I felt that in that time we were getting closer, me, you, Teacher Pin, Teacher Pim, and Teacher Pam. Thank you so much of your sickness!

Sebenarnya 6 minggu ini banyak sekali cerita, obrolan malam atau hal apapn yang ingin aku sampaikan, namun terkadang aku terkendala untuk mengucapkannya dalam bahasa Inggris. 

Ya. Terimakasih untuk 6 minggu yang penuh dengan tawa dan bahagia, tak lupa juga dengan tangis haru ataupun perjuangan perjuangan yang kita lewati bersama. Terimakasih karena telah mengajarkan saya banyak hal. Untuk tetap tenang dan tersenyum dalam situasi apapun, untuk bisa mengerti dan memahami sudut pandang orang lain, untuk selalu menghargai setiap keputusan yang orang lain miliki, untuk sikap idealisme dalam mencapai mimpi — mimpi kamu, untuk tetap percaya dan selalu berpikir positif pada orang lain, untuk tetap menebar kebaikan dimanapun dan kapanpun. Terimakasih karena telah berbagi cerita dengan saya. Maafkan saya jika selama ini masih belum bisa menjadi teman yang baik untuk kamu. Maafkan saya yang terkadang belum bisa memahami kamu dengan baik.Terimakasih banyak untuk semua cerita, pengalaman dan kenangan yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

So, here we go!
Dear Vania,
For all up and down, for the joy and the happiness, for the sick and the pain, I’m so grateful that I meet you; a kindhearted woman. One of the best things in Thailand is that I can be your friend. Thank you for always caring, understanding and loving me. I learn so many things from you. I’m so sorry if I can’t show you how much I grateful for all of that.

Because, the best kind of love ever is when the love is unspeakable, right?

If you want to understand this story, lets find a way! :p

Negeri Gajah Putih, 
8 Agustus 2016 00.14 WIB
Saghita Desiyana Maurischa