Utopia.

Aku berdiri di tengah keramaian, 
Rintik hujan memecah keheningan 
Aku melihat alam, sendirian
Kemudian masuk ke dalam sangkar

Jenuh, jengah, jera
Atas apa yang menyakiti dan tersakiti
Yang terpendam dan memendam
Retensi jiwa tak mampu membendung

Pelik, pekik, pecah
Hancur sudah
Pertengkaran antara jiwa dan raga
Tumpah ruah seraya bulir bersemayam pada air muka

Resah, gundah, gulana
Kering jiwa sampai hati tak berdarah
Sakit, sakit, tapi tak merah
Atau bahkan
Sudah memar menjadi biru kelabu

Lalu,
Aku yang hilang bersama senja
Pergi ke antah berantah
Terhempas, hilang ingatan 
Tersesat, tak tahu arah berpulang

Aku yang lupa diri
Menjadi utopia 
Bagi sejuta tatap mata

Dalam sekat kamar,
Berbasuh rintik hujan sore tadi,
26 Oktober 2017 10.04 PM.
Saghita Desiyana Maurischa.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.