Di ruangan beratap waffle, di depan manekin.

Liburan membuatku makin mati rasa. Mungkin kamu sebagian tau rasanya tak sempat sedih atau tak sempat terlalu senang. Sibuk bertemu ini itu, terbatuk-batuk meminta waktu. Rasanya seperti batuk kering, dirasa cuma gatal lalu kamu mengeluarkannya. Sekedar supaya tidak gatal. Kalian tau, aku hanya sempat melepas rindu. Bukan cerita apalagi mengeluh, cuma rindu berteriak-teriak atau menyanyi bersama di mobil, atau menertawakan hal tak penting, yang bisa jadi penting. Saling menyemangati, lalu pergi. Lagi.

Aku senang di kehidupan hari pertama, masih banyak makanan kesukaanku di lemari walau kemarin di pesawat, kehidupan berbisik aku harus thesis tahun depan. Dia juga bilang aku harus segera mencuci dan menjemur baju, lebih rajin memasak biar hemat. Kehidupan bilang aku gaboleh terlalu sedih karna perpisahan. Musim panasku selalu begitu, aku menciptakan cerita yang tidak-tidak, lalu murka sendiri. Berulah itu kadang cuma butuh berani saja.

Kamu tau, aku mati rasa. Ditempat jauh, juga di rumah. Bedanya ditempat jauh aku lebih leluasa menangis, menangis tak melulu hasil dari kesedihan. Ditempat jauh aku sudah tidak sedih karena selalu berusaha tepat waktu, karena berusaha jadi orang baik. Leluasa kujadi orang yang tega, supaya lebih kuat. Supaya dapat apa yang kumau. Rasa sayangku sudah biasa tidak terbalas, apalagi hal kecil yang namanya rindu. Dia sudah pergi sangat jauh, menyelam di sungai navigli. Rasa takut juga sudah sembunyi di tumpukan rak pisang lidl. Buat yang mengikuti tulisanku, pasti mereka tau aku bekerja seperti api. Buat kalian yang berusaha melahap atau melumatku, bersiaplah terpapar panas. Aku melumat diriku sendiri, pelan. Begitu cara kerjanya. Kamu tau kan aku ketagihan euforia?