Ijazah v.s Tidak Punya Ijazah

Muhammad Sahputra
Jul 21 · 5 min read

Mana yang lebih baik, pilih yang lulus kuliah, atau tidak lulus sekolah? bersertifikat atau tidak bersertifikat?

Perdebatan mengenai kedua hal diatas seringkali terjadi. Ada yang berpendapat, jaman sekarang tidak perlu lulus kuliah. Alasannya karena banyak sekali orang sukses di dunia IT tidak lulus kuliah. Jadi pemimpin perusahaan, atau bekerja di perusahaan besar. Beda dengan jaman dulu dimana orang bekerja yang dilihat pertama kali adalah ijazah sekolahnya.

Jadi, mana yang benar? Mana yang lebih hebat, orang yang punya ijazah sekolah atau tidak punya ijazah?

Jika saya ditanya maka jawabannya simple, saya pilih yang mampu bekerja dengan baik. Mampu deliver pekerjaan sesuai target. Memiliki etika yang baik ketika bekerja. Sehingga baik yang punya ijazah ataupun tidak punya ijazah asalkan mampu bekerja dengan baik maka sama saja. Saya akan coba bahas kelebihan dan kekurangan dari lulus kuliah dan tidak lulus sekolah yang menjadi dasar pertimbangan.

Lulus v.s Tidak Lulus Kuliah

Ada satu karakteristik dalam dunia bekerja dimana anak sekolahan yang lulus dan memiliki ijazah hingga tingkat kuliah pada umumnya memiliki suatu kelebihan dibandingkan tidak lulus sekolah. Yang perlu diperhatikan disini adalah secara general. Ingat, secara general. Alias, karakteristik pada umumnya.

Seringkali kita mendengar opini bahwa anak-anak sekolahan kurang kreatif akibat selalu dicekokin materi pelajaran. Mereka terbiasa melakukan pekerjaan yang dianggap biasa-biasa saja, bukan luar biasa. “Biasa-biasa” saja disini sebenarnya bisa menjadi hal luar biasa apabila dilihat dari sudut pandang perusahaan tempat mereka bekerja. Anak sekolahan terbiasa melaksanakan tugas yang dibebankan — suka atau tidak suka — biar bagaimanapun juga harus selesai.

Ini penting.

Kenapa? Karena dalam dunia profesional / bekerja tidak selalu selamanya menyenangkan. Bahkan ketika kita melakukan pekerjaan yang sangat kita sukai adakalanya kita menenukan situasi yang membuat mood kita merosot. Contohnya: pekerjaannya asik, tapi client nya rese. Pekerjaan nya seru, tapi bos kita menyebalkan. Pekerjaanya sesuai passion, tapi temen satu tim gak ada yang cocok dengan kita. Dan berbagai kondisi lainnya.

Karena terbiasa dibebankan tugas saat sekolah maka anak-anak sekolahan yang menyelesaikan jenjang pendidikan pada umumnya akan terbiasa untuk menyelesaikan tugas tersebut. Suka atau tidak suka. Dan ini akan berimbas pada saat mereka memasuki dunia pekerjaan. Suka atau tidak suka, meskipun mungkin hasilnya biasa-biasa saja tapi setidaknya mereka mampu men-deliver hasil pekerjaan tersebut sesuai harapan client. Tentu hasil itulah yang diharapkan oleh perusahaan.

Karakteristik berbeda biasa ditemukan dari anak-anak yang tidak menyelesaikan jenjang pendidikan hingga lulus kuliah. Beberapa mengistilahkan karakter mereka sebagai ‘ngartis’. Mereka mengerjakan hanya hal-hal yang disukai namun enggan untuk mengerjakan hal-hal yang mereka tidak atau kurang sukai.

Efek positifnya adalah hasil pekerjaan mereka tajam luar biasa. Contohnya, dalam dunia IT security professional, mereka-mereka ini mampu menemukan celah keamanan dengan metode-metode kreatif yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh para IT security professional lain. Hasil ini tentunya baik bagi perusahaan.

Namun kemudian muncul permasalahan. Misalnya, mampu hacking menembus infrastruktur client, namun malas untuk membuat report. Atau mampu menemukan celah keamanan namun tidak bisa menjelaskan dengan baik pada tim developer client. Kondisi ini kemudian menjadi masalah bagi perusahaan karena suka atau tidak suka maka report merupakan hasil yang diminta oleh client. Mereka ingin mendapatkan report yang komprehensif dan juga bantuan untuk menjelaskan secara terperinci pada tim software developer mereka agar bisa segera ditutup celah keamanan tersebut.

Kira-kira seperti itu analoginya. Hal yang sama terjadi bukan saja di lingkungan IT security professional namun juga software development, ataupun kategori pekerjaan lainnya dalam ranah IT.

Beberapa tahun yang lalu salah seorang rekan menyampaikan opini yang kurang lebih mirip dengan menyatakan bahwasanya banyak sekali hacker-hacker berpotensi di Indonesia namun sayangnya mereka belum siap terjun kedunia industri. Terjun di dunia industri membutuhkan perjuangan sangat besar dibandingkan hanya sekedar mengejar passion. Dunia industri juga menuntut individ-individu nya untuk mampu tumbuh berkembang. Misalnya, ketika masuk dunia industri hanya mampu hacking web, namun kemudian tumbuh berkembang mempelajari hacking infrastruktur. Sayangnya, hal demikian cukup sulit ditemukan dari individu-individu yang tidak menyelesaikan tahap pendidikannya hingga jenjang kuliah karena mereka lebih memilih melakukan hal-hal yang disukai dan meninggalkan hal-hal lain meskipun sejatinya hal lain tersebut akan membuat mereka tumbuh menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.

Menyelesaikan Pekerjaan Dengan Baik

Diatas saya sebutkan secara umum (general), namun bukan berarti semuanya seperti itu. Ada cukup banyak individu-individu yang siap dan tajam untuk dunia industri. Ada anak lulus kuliah yang dengan kegigihannya mampu terus menerus menggali ilmu meskipun sudah lulus kuliah, melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dengan sangat baik sehingga kemampuannya menjadi sangat tajam. Setiap role yang dijalani selalu diusahakan dengan baik. Role sebagai engineer, manager, mengurusi administrasi perusahaan, dsb selalu mencari cara agar setiap pekerjaan menghasilkan hasil luar biasa.

Atau anak yang tidak lulus kuliah. Berbakat sehingga memiliki ketajaman berpikir atau menyelesaikan pekerjaan dengan luar biasa. Namun juga sadar bahwa dalam dunia industri professional tidak selamanya enak. Ada hal-hal dimana dia harus berjuang melawan ketidaknyamanan tersebut karena sejatinya proses struggling-nya tersebut akan menjadi pengalaman berharga baginya dikemudian hari. Ketika dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan yang tidak disukai, ya dijalani saja. Tentunya hingga pada tahap tertentu. Segala permasalahan bisa dibicarakan, mis. secara terbuka bicarakan dengan perusahaan kenapa dia tidak nyaman namun tetap memahami kondisi perusahaan dan berharap melalui diskusi secara terbuka tersebut akan mencapai kondisi ideal suatu saat nanti.


Lulus kuliah ataupun tidak, sebenarnya ketika memasuki dunia kerja hasil yang diharapkan sama saja: kemampuan untuk deliver hasil pekerjaan dengan baik apapun posisinya. Mau itu C level / executive, management, staff, ataupun engineering semua diharapkan untuk memberikan hasil terbaik.

Tentu saja akan jauh lebih baik apabila diiringi dengan passion. Melakukan pekerjaan sesuai passion kita tentunya lebih menyenangkan. Namun tidak ada hal yang sempurna di dunia ini. Justru kesempurnaan itu adalah ketika kita mampu menerima fakta bahwa nothing is pefect.

Microsoft dan Apple walaupun dipimpin oleh leader yang dropout dari kuliah namun tetap ditopang oleh staff-staff yang lulus kuliah bahkan mendapatkan status cumlaude dari universitas-universitas ternama. Dalam sebuah perusahaan, visi saja tidak cukup, harus ada eksekusi. Harus ada perpaduan antara thinker dan executor.

Thinker tanpa executor akan menghasilkan teori-teori tanpa implementasi / hasil bisnis yang berarti. Operasional perusahaan bergantung pada eksekusi, jika hanya bermodalkan visi maka perusahaan akan berujung pada mimpi dan kegagalan. Executor tanpa thinker akan menghasilkan implementasi ataupun operasional yang biasa-biasa saja, ibarat ‘zombie’ yang mengerjakan hal-hal tanpa dipikirkan dengan masak-masak terlebih dahulu, tidak strategist, tidak memiliki visi panjang, tidak inovatif, sehingga membuahkan hasil pekerjaan yang tidak mampu bersaing dengan kompetitor dan pada akhirnya akan berujung pada kegagalan juga. Itu sebabnya dalam perusahaan harus seimbang.

Dalam hal sekolah v.s tidak sekolah, strategi manajemen dapat memadukan keduanya dengan sangat baik. Memadukan keduanya bukan pekerjaan mudah. Banyak tantangannya. Namun ketika hal tersebut terjadi maka perusahaan akan memiliki power luar biasa yang belum tentu dimiliki oleh perusahaan lain sehingga dapat memenangkan persaingan kompetisi.

Well, kira-kira seperti itu pendapat pribadi saya terkait ijazah v.s tidak punya ijazah. Saya melihatnya dari sudut pandang kebutuhan dunia profesional kerja ya, bukan dari ranah pribadi. Tentunya ada pro dan kontra dalam hal ini sehingga dikembalikan kepada masing-masing saja 🙂

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade