Gurun pasir yang tandus pun akhirnya mendapat hujan pertamanya. Air turun dari langit dan membasahi bumi. Untuk pertama kalinya seluruh debu terhapus. Dan untuk pertama kalinya, aku tertawa, berlari diselimuti hujan.

Diluar, masih kering.

Aku tersadar. Dan hujan pun masih hanya ada dalam mimpiku.


Kering. Seluruhnya. Tanah. Pohon. Rumput. Bunga. Semuanya layu. Tanah berubah jadi pasir. Pohon meranggas, berusaha menyimpan air yang tersisa. Rumput tak lagi tumbuh. Bunga menghitam, sekarat. Tak ada yang tersisa, semua habis. Musim kering sudah datang.

Dan seorang anak kecil yang terjebak di musim kering yang sulit ini. Dari sulit berjalan karena angin kering sampai tak bisa bicara karena tenggorokan terlalu kering. Mencari air untuk meredam dahaga. Namun apa yang bisa dilakukan saat ribuan langkah telah digerakan dan tak setitik air pun ada? Maka anak ini hanya bersandar pada batu yang terbakar matahari, menunggu mata tertutup atau keajaiban datang bersama air dari langit.

Anak kecil yang menginginkan air di tengah musim kering berkepanjangan. Anak ini telah berjalan jauh, demi air yang dibutuhkannya. Dan sekarang ia tak mampu lagi berjalan. 'Apakah menunggu adalah hal yang salah?' pikir sang anak, yang kulitnya mengelupas, terkikis angin kering, dengan bekas air mata yang mengering. 'Tapi aku sudah tak sanggup lagi berjalan.'

Dan ia tertidur. Memimpikan pohon yang rindang, tanah gembur, sungai yang mengalir deras, dan tanah dengan wangi hujan. Semua terasa sangat nyata, sampai dingin menusuk dan membangunkannya. Tersadar, dengan tangisan tak terduga. Malam tiba dan angin berpasir semakin kencang bertiup.

Hujan, air dari langit, masih jauh. Sejauh mimpi menjadi nyata, sejauh bintang di langit. 'Mungkin air hanyalah fiksi. Tak mungkin lagi ada air di dunia ini' pikir si anak, yang bersandar pada batunya, sekarat. Maut, tak pernah senyata itu. Dan hujan hanyalah mimpi yang tak akan mampu ia mimpikan lagi. ‘Mungkin, bahkan aku, tak lagi nyata. Aku pun hanya fiksi.’ pikirnya lagi, yang mulai kehilangan kesadaran.

Mungkin semua ini hanya cerita.
Mungkin semua ini hanya dongeng.
Dan aku tak nyata, begitupun kau.
Karena tak ada yang nyata, saat kau hilang.
Karena tak ada yang nyata, saat tak ada lagi mata yang mengenalimu.

Satu malam yang sangat dingin. Dan dari salah satu batu dari sekian banyak batu yang dijadikan sandaran para penunggu hujan, terdengar lengking tangisan. Seperti usaha terakhir untuk mengeluarkan suara. Lalu hilang. Tak lagi ada suara, sepi menyelimuti. Dan angin berpasir bertiup kencang.

Musim kering, masih panjang.