Perjalanan Menjadi Relawan; Lombok dan Cerita Paska Gempa

Sally Aliyah
Sep 9, 2018 · 2 min read

“Kampus aku butuh relawan psikososial untuk ke Lombok. Semua biaya akomodasi, makan, dan lain-lainnya ditanggung, tinggal bawa diri aja. Berangkatnya lusa, aku boleh jalan ngga?” Kata saya kepada mama ketika meminta izin untuk menjadi relawan di Lombok. Lombok saat itu baru saja diguncang gempa berkekuatan 7.0 skala richter dan masih terus diguncang dengan banyak sekali gempa susulan. Secara tegas mama menolak. Dengan alasan keselamatan, ia meminta saya untuk tidak pergi.

“Aku boleh ke Lombok ngga? Aku mau jadi relawan. Ngga lama, cuma 5–7 hari aja. Berangkatnya lusa. Please, boleh ya?” kata saya kepada pacar sore itu. Sama seperti mama, ia tidak mengizinkan.

Kata-kata yang tak jauh berbeda juga saya ucapkan kepada orang-orang yang saya anggap penting dalam hidup saya. Namun, jawaban yang mereka lontarkan bukan yang saya harapkan. Saat itu, saya mengalah dan menyetujui apa yang mereka katakan.

Keberangkatan ke Lombok akan dibagi menjadi beberapa kloter di mana masing-masing kloter terdiri dari tiga tim, yaitu tim medis, psikososial, dan pecinta alam. Artinya, masih ada beberapa kesempatan untuk tetap jalan menjadi relawan. Pada kloter ke pertama — dua hari setelah izin itu — saya tidak berangkat. Dewi fortuna mungkin sedang gagal memihak. Tapi bukan Sally namanya jika ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.

Singkat cerita, setelah melewati drama perizinan yang tak kunjung diberikan, akhirnya pada kloter ke tiga –dua hari setelah gempa 7.0 skala richter yang ke dua — saya dan tim tiba di Lombok Utara; wilayah terparah karena hampir seluruhnya telah rata dengan tanah.

Selama di sana saya bermalam di sebuah desa bernama Dangiang. Kami tidur dalam tenda sederhana dan makan dengan menu seadanya. Kami mandi di bekas bangunan kamar mandi yang masih tersisa paska gempa. Sebelumnya, kami sudah diberitahu bahwa kesempatan mandi sebanyak satu kali dalam dua hari adalah hal yang patut disyukuri. Listrik sendiri hanya menyala sekitar 12 jam lamanya; malam hingga pagi saja.

Saya berkenalan dengan banyak masyarakat di sana. Kami tertawa bersama tanpa mengenal usia dan berbagi banyak cerita. Pengalaman menjadi relawan gempa di Lombok kemarin itu menyenangkan. Saya berhasil menembus batas diri dan berkembang sesuai dengan definisi saya.

Tujuan kami berada di sana adalah untuk membantu pemulihan para korban gempa dengan menjalankan program psikososial. Psikososial sendiri berarti mengembalikan keadaan individu ataupun kelompok masyarakat setelah terjadinya peristiwa yang traumatis agar dapat kembali kuat dan berfungsi secara produktif. Program ini kami tujukan pada anak-anak. Kegiatan yang kami lakukan tidak jauh berbeda dengan mengajak mereka bermain dan belajar.

Keadaan anak-anak di sana mungkin lebih parah dari yang sudah saya tuliskan sebelumnya; beberapa dari mereka kehilangan anggota keluarga, sekolah mereka rubuh, dan rumah mereka runtuh. Tapi ntah mengapa canda tawa mereka masih ada. Mereka tetap bernyanyi dan tersenyum seperti tak terjadi apa-apa. Mereka.. adalah anak-anak yang luar biasa.

Dangiang, desa sederhana yang penuh cinta kembali mengajarkan saya tentang roda yang berputar, nikmat Tuhan yang tak pantas saya dustakan, dan zona nyaman yang sudah lama enggan saya tinggalkan.

— — —

Terima kasih kalian, yang pada akhirnya (dengan terpaksa) mengizinkan saya pergi meninggalkan ibu kota. Meski tak lama, tapi pengalaman itu berharga.

Tangerang Selatan || 9 September 2018

12:53

    Sally Aliyah

    Written by

    Setiap tulisan punya penikmatnya sendiri :)