Belenggu Citra

Ada satu frasa yang menarik buat saya. Sudah lama diucapkan oleh sahabat saya, tetapi benar-benar mencerminkan pemikiran saya soal mengembangkan diri. Frasa itu adalah “Terbelenggu (oleh) Kemuslimahan”.

Frasa itu muncul dari gejolak yang dialami dia dan teman-temannya. Sebuah stigma yang terlanjur melekat kepada mereka, yang mengarah pada citra muslimah baik benar bertaqwa dan rajin menabung. Padahal, kalau udah kenal ya nggak gitu-gitu amat. Everything isn’t on our expectation, dan entah mengapa saya selalu lega karena memang tidak menjadi ekspektasi saya. I’m relief, karena mereka masih mengakui diri sedang berproses, dengan berusaha tampil apa adanya. Tetapi, ternyata sulit untuk apa adanya karena merasa ‘terbelenggu (oleh) kemuslimahannya’.

Saya benci dengan segala stigma atau pelabelan oleh masyarakat kepada saya, ketika mereka tidak melalui segala proses bersama dengan saya. Saya berpendapat bahwa tidak ada hak untuk menilai secara mutlak apa yang terlihat secara kasat mata. Meskipun pelabelannya berbau ‘positif’, stigma itu cukup mengganggu karena saya merasa jadi memiliki beban. Saya ingin menekankan bahwa, ketika saya berbuat sesuatu, ya memang baru segitu kemampuan saya. Jadi berharap ada permakluman dalam proses yang saya lewati. Apa sebabnya?

Setiap orang memiliki fase yang berbeda dalam hidupnya. Maka, dengan jelas menggambarkan bahwa orang yang lebih dulu hidup tentu sudah melewati banyak fase berproses untuk menjadi lebih baik lagi. Sehingga, tidak adil rasanya ketika ‘memudahkan pengistilahan’ dengan memberi label pada orang-orang yang ‘belum seperti dirinya’ (tinggi hati banget).

Penekanan saya adalah, orang-orang yang masih berproses di tingkat awal juga nggak goblok amat untuk tahu bahwa kesalahan mereka memang banyak. Tetapi, berbagai macam upaya untuk enyah dari hal tersebut pasti sudah ada. Apakah kita mengetahui semuanya? Tidak, kan? Hanya mereka sendiri yang tahu, kita nggak perlu terus-terusan menilai kesalahan mereka. Mendorong untuk menjadi lebih baik lebih penting dan lebih menjaga adab, daripada merongrong kesalahan-kesalahan yang terjadi.

Gitu.