Menjawab “Kenapa?”

“Why Everything You Know About Leadership is Wrong” @umairh https://medium.com/bad-words/what-leadership-really-is-b92f8df74e81

Suatu waktu, dulu sekali, Saya mendengar percakapan bahwa tidak penting bagi murid untuk tahu mengapa mereka melakukan sebuah hal. Bagi para pendidik, tentu memberikan penjelasan yang mendalam bisa memunculkan pertanyaan “Ngapain sih dijelasin? Nanti juga tahu sendiri.” Well, sepertinya, Saya pernah menyaksikan betapa disorientasi seseorang dalam menjalani hidupnya itu memenjarakan dirinya.

Setiap orang membutuhkan arah dalam hidupnya. Mau bagaimanapun bebasnya, tentu mereka paham mengapa mereka ingin bebas, apa yang ingin dicapai dari keinginan itu. Permasalahannya adalah, adakah yang mau menuntun jalan hidup seseorang sampai dia paham mengapa harus melangkah ke sebuah arah? Tidak, karena itu urusan sekolah, orang tua, atau guru-gurunya. Iya, kan?

Orang cenderung merasa takut kepada orang yang menjadi tempatnya ‘menggantungkan’ hidup. Jika tak dilaksanakan, dia menerima sebuah hukuman, haknya tidak diberi. Maka, dia akan mencari sebuah penyesuaian: orang yang dapat berkompromi dengan keinginannya, pendapatnya, suaranya. Dia paham barangkali dia salah. Dia nggak goblok amat untuk tahu itu.

Sayangnya, dia salah dibaca oleh orang yang menjadi tempatnya ‘bergantung’. Maka dia hanya akan membaca: Selalu saja aku yang salah. Orang yang berhasil membuatnya nyaman, dapat memahamkannya sebuah arah yang baik, berada di sampingnya untuk berlelah mengajari dan membimbing, dia akan dengan senang hati mengikutinya: meskipun dia tidak menggantungkan diri pada orang itu. Sudah senang kok. Dimarahi saja rela. Karena dia paham jika arah yang diikutinya itu baik dan benar.

Pertanyaan-pertanyaan besar biasanya diabaikan, sebab dianggap tidak membawa dampak praktis. Masalahnya, ketika pertanyaan itu tidak terjawab, memang akan ada hasil yang tetap mungkin diraih. Tetapi hasil itu akan kehilangan makna: mengapa muncul hasil itu? Apa yang mendorongnya? Apa yang dituju?

Orang yang mampu untuk mengarahkan orang lain untuk menemukan pertanyaan besar dalam hidupnya, juga memahamkan jawaban dari pertanyaan itu, cenderung akan lebih banyak diikuti orang dengan rela. Sebab, kegelisahan mereka terjawab sudah. Pada akhirnya, inilah yang memunculkan sebuah gagasan, bahwa untuk memimpin orang, mengelola orang, tidak sekedar memberikan solusi pada mereka. Ikut dalam kegiatannya akan lebih mudah untuk memberi pemahaman, bahwa, hei, aku juga merasakan hal yang sama.

Empati kadang dibangun dengan datar, yaitu tinta di atas kertas. Masing-masing pihak merasa perlu untuk diperhatikan: tak ada yang ingin berkorban satu sama lain. Demi menjawab pertanyaan besar kehidupan.