Need Some Practice?

Images taken from http://manofmany.com/wp-content/uploads/2014/08/islandblacksmith.jpg

Here is the thing: Kalau kamu percaya bahwa praktik itu penting, memang itu benar-benar penting dan harus dilakukan. Tetapi ada kondisi unik yang perlu mendapat perhatian soal teori dan praktik.

Every theory based on what we assumed, something happen before, or something that had been practised.

Maka rasanya tidak adil ketika kita menyudutkan tentang teori. Perilaku menyudutkan teori ini sebenarnya berawal dari kekecewaan terhadap institusi pengajaran yang dianggap hanya berkata-kata teori, namun tak pernah mempraktikannya, atau pada kenyataannya berbeda.

Tidak adilnya adalah kita terlanjur memberikan cap kepada para pengajar bahwa semua yang dikatakan itu omong kosong. Padahal, teori juga berdasarkan dari praktik dan sejumlah pengamatan, analisis, dan asumsi.

Lalu bagaimana dengan teori-teori yang berdasarkan asumsi? Tentu saja, asumsi berangkat dari pengamatan dan perkiraaan. Hal ini sebenarnya lebih dekat kepada hipotesis dan hasil menganalisis berbagai kemungkinan kejadian.

Buat saya, sebenarnya ada hal-hal yang perlu diselaraskan lebih dulu: Teori itu memang tidak untuk ditelan mentah-mentah, tetapi perlu dilihat dalam kondisi apa saja teori itu berlaku. Dengan demikian, kita akan lebih paham dan tidak akan menyalahkan teori begitu saja.

Tapi, ya, lucu juga rasanya: Kalau kita tahu orang tersebut belum pernah berpraktik, tapi seenak sendiri berbicara layaknya seorang ekspert. x’))

Menyuruh orang lain untuk praktik karena orang yang berteori saja tidak cukup, itu juga merupakan teori.

Paradoks. Kalau kita melihat polanya, tentu kita paham mengapa menyuruh orang untuk perlu berpraktik daripada berteori, itu juga merupakan teori. Maka memang harus hati-hati untuk menyarankan ‘perlu berpraktik dan tidak berteori saja’. Jangan-jangan, kita cuma sekedar bersaran tapi memang jauh panggang dari api.

Itu yang saya maksud soal lucu, hehe. ;))

It turns out…

Saya pernah mengamati, pada dasarnya orang yang sering dikritik ‘hanya berteori saja’ adalah mereka yang terlalu banyak omong daripada lelakunya. Sebaliknya, orang yang telah berpraktik tetapi jarang menasehati orang lain agar berpraktik, lebih disegani karena dirasa mempunyai hasil nyata yang dapat dilihat dan dirasakan.

Maka, bagaimana jika begini: Kita berpraktik, dan menyusun segala sesuatu dengan baik untuk disampaikan sebagai teori.

Buat saya, yang terpenting dari menyampaikan teori adalah memang sudah pernah mempraktikkannya. Jika belum pernah, saya harus menyampaikan sebuah kondisi agar kerangka berpikirnya sama. Ini semua soal menggodhog ide, meramu gagasan. Apa yang akan kita sampaikan sebagai teori telah memiliki bukti dan kondisi yang harus diperjelas, apa yang kurang, apa yang perlu dilengkapi. Hal ini bisa memicu otak untuk ikut berpikir, apa yang dapat menyempurnakan teori tersebut?

Need some practice? Of course you need. We all need practice. But to conclude a practice, we begin with a theory and sum up it all as a theory. Don’t judge theory, just be kind with him. :)