Shifting

Usia saya menuju 23 tahun. Artinya, sudah 22 tahun ikut acara perkumpulan tahunan warga.

Ambil contoh pertemuan tahun baru, atau idul fithri. Hanya pertemuan mingguan rutin seperti yasinan atau tahlilan sudah hilang, atau memang nggak ada tradisi itu di area ini. Lucunya lagi, bahkan di acara tahunan saja pemuda-pemudi juga hilang. Masing-masing punya acaranya sendiri. Lalu, salahkah para pemuda ini?

Sebagai pemuda, tentu saya juga tidak ingin buru-buru disalahkan. Dalam pandangan saya, ada kesenjangan cukup besar terkait budaya yang terbentuk antara kaum muda dan kaum tua.

Faktornya Banyak

Banyak faktor yang mempengaruhi. Kalau mau bilang pengaruh dunia barat dengan segala ke-western-an-an nya, saya kira kurang adil juga hanya kami pemuda yang terpengaruh. Memang, hanya pada jaman kami pengaruh itu ada? Masifnya teknologi informasi memang turut mendongkrak pengaruhnya selama satu dekade ini.

Satu, atau mungkin dua orang tua pernah saya lihat mengeluhkan anaknya yang tidak 'menurun'' tradisinya. Baik tradisi di pemukiman, maupun tradisi keluarga. Kemudian soal 'kesukuan'' masing-masing daerah yang luntur tradisinya. Ujung-ujungnya adalah: "Ah, anak jaman sekarang!"

Maaf, tapi bullshit kalau pendidikan formal menyelesaikan semuanya. Satu-satunya cara agar tradisi atau budaya yang diinginkan orang tua agar turun ke anaknya, adalah dengan memberikan pemahaman dengan tatap muka, menjelaskan. Kalau cuma dibiarkan, ya bagus kalau punya benteng atas pengaruh budaya lain. Punya pun, nggak ada jaminan nggak terpengaruh.

Risih juga ketika melihat anak-anak kebingungan apa yang harus dilakukan, tetapi selalu disalahkan atas pilihan yang diambil. Anak-anak berkegiatan 'seperti biasa', dianggap nggak normal sama orang tuanya, lalu disindir-sindir ketika bertemu orang tua yang lain. Bully verbal berlaku juga di sini, oleh orang tuanya pula.

Atau betapa bahagianya anak-anak jaman dahulu bisa bermain dengan lega dan luas di pekarangan. Berlari-lari, saling mengejar, tak ada rasa-rasa yang aneh karena sinetron. Kemudian dibandingkan dengan sekarang ini, yang hanya pegang tablet dan internet, karena pekarangan yang dulu jadi tempat berpetualang kini dibangun gedung-gedung oleh orang tua yang dulunya ketika kecil juga bermain di situ. Enak sekali.

Maka kita yang kelak akan menjadi orang tua, perlu juga tahu budaya atau tradisi apa yang ingin diturunkan kepada anak. Lalu, cari cara bagaimana menurunkan hal tersebut. Kalau memang ingin anaknya melestarikan bahasa daerah, maka percakapan sehari-hari banyak terpapar bahasa daerah. Sesuai dengan teori belajar bahasa asing perlu praktik dengan native speaker, kan?

Mungkin kelihatan omong kosong karena saya menikah saja belum. Tetapi sebagai anak kadang merasakan juga. Loh, saya sejak kecil nggak terbiasa hal itu, kenapa saya yang disalahkan? Memangnya mudah untuk memulai lagi saat ini, meskipun tidak ada kata terlambat? Bahkan, dalam hati saya juga sudah merasa sedang berusaha untuk berubah. Begitupun, ada yang menertawakan.

Pergeseran budaya memang tak terelakkan. Tetapi dengan catatan, adanya akses informasi yang masuk ke situ. Paparan informasi-informasi baru dapat menjadi senjata tajam, baik untuk menguak keberhasilan atau hanya menikam jantung sendiri. Nasihat klise untuk memilah dan memilih informasi memang akan selalu klise.