Vrijeman

Bahasa Inggrisnya adalah free man. Bahasa Indonesianya adalah ‘orang bebas’. Sebebas apa?

Anak kecil ada yang dibiarkan berlari kesana-kemari. Mereka bebas berlari, jungkir balik, koprol, dan sebagainya di tanah luas. Setelah sore, mereka pun pulang karena dipanggil ibunya. Setidaknya pakai jeweran di kuping. Jadi, anak tersebut bebas melakukan aksi apa saja, sampai sore menghampiri.

Remaja diberi waktu istirahat selama satu jam ketika siang, di sekolahannya, untuk beribadah, makan siang, dan ya sekadar leha-leha untuk istirahat. Masuk waktu yang telah ditentukan, mereka kembali ke kelas masing-masing. Setidaknya ada yang ketahuan membolos di kantin, kemudian dikembalikan ke kelas dengan membawa surat peringatan. Kalau ada.

Preman memalak kesana-kemari, baik yang jagal sapi sampai penjual kacang panjang di pasar. Baik ngomongnya sopan ke pak ustadz, agak modus dikit ke ibu-ibu muda bawa anak satu, atau sok ketawa evil di depan anak-anak SD yang pulang sekolah. Bebas dia minta uang ke siapa aja. Bebas caranya mau pake palakan sporadis atau pakai istilah uang keamanan.

Pulangnya, uang ganti dipalak istri.

Where’s the standard?

Sebebas apa sih yang kita inginkan? Anak kecil tadi merasa bebas, kecuali setelah waktu yang ditentukan datang untuk pulang. Remaja yang istirahat di sekolah juga demikian, masuk kelas untuk belajar kembali. Preman yang memalak kesana-kemari juga awalnya berpikir enak juga dapat uang banyak. Tapi lupa di rumah ada istri dan mungkin kredit motor ninja yang belum dibayar. Kebebasan yang didapat itu sesaat.

Manusia hidup juga demikian. Bebas mah mau ngapain aja, sebenernya. Dalam ajaran yang saya anut, Tuhan sudah menentukan konsekuensi yang kita ambil, sehingga kita bebas mengambilnya. Tinggal nanti nyemplungnya ke neraka atau naik ke surga dan bertemu Tuhan, ha itu usaha kita. Sebelum mati, kita ‘pada dasarnya’ bebas. Konsekuensi-konsekuensi yang ada bisa merupakan sebuah batasan. Batas yang paling membatasi kita adalah kematian. Hidup setelah mati itulah yang tanpa batas.

Di situlah kebebasan yang sebenarnya.

Free doesn’t mean free.

Ketika mempunyai anggapan bahwa kita ingin bebas sebebasnya, seringkali tidak sadar ada batasan yang kita juga buat. Batasan itu bisa berupa target diri sendiri, syarat-syarat yang ingin dipenuhi, atau batas yang diberikan orang lain. Maka sebetulnya tidak ada kebebasan yang sangat bebas jika dihubungkan dengan sesama makhluk. Karena jadi muncul batasan. Buat saya, kebebasan yang hakiki adalah bebas dari makhluk yang diciptakan Tuhan, dan hanya terkoneksi dengan-Nya.

Anak-anak punya impian besar. Dibujuk orang tuanya, dia bebas menggapainya. Syaratnya…. nah. Buat saya ini adalah batasan. Kalau syarat tak memenuhi, dia harus ‘ditarik’ dari peredaran untuk mencapai mimpinya itu.

Saya sebenarnya paling benci jika ada yang mempunyai prinsip bebas seperti layangan. Langit tinggi bisa dicapai, awan putih bisa disambangi, terbang ke sana ke mari tertiup angin. Tapi tiba-tiba jika tak sesuai harapan, harus ditarik kembali tanpa kompromi. Okelah, jika sangat dimiripkan dengan layangan, tentu kita tahu bahayanya angin besar. Makanya kita tarik. Tetapi, bagaimana dengan manusia? Bukankah anginnya berbeda-beda, juga dengan layangannya?

Kebebasan berpikir yang dianut sebagian kalangan itu kadang lucu. Mempersilahkan dirinya berpikir bebas, tetapi tidak dengan orang lain. Membebaskan anaknya memilih dalam hidup, tetapi menentang di saat akhir. Padahal, sejak kecil tak pernah dapatkan arahan yang khusus dan pasti. Dikasih tahu saja enggak, kok sudah main salahkan?

Dasar itu Mutlak.

Buat saya, yang paling penting dalam memberikan kebebasan adalah memberikan pemahaman nilai yang paling mendasar sebagai pegangan. Nilai apapun. Dengan demikian, kita bisa tenang melepaskannya sambil berdoa untuk keselamatannya, dan tak pernah lelah mengingatkan. Ibarat program training centre, saya sih lebih suka memberi tahu apa saja yang perlu dikuasai sebagai teknis dasar. Tentang mental, saya hanya perlu memberi gambaran dan menyemangati. Selebihnya, saya harus mendorong agar mereka dapat dukungan moral. Percaya dirinya naik.

Bebas. Bebas tanpa batas itu hanya ada setelah kematian. Di dunia, mungkin kita perlu mendefinisikan kembali kebebasan yang kita inginkan. Sebebas apa? Sebebas menenggak racun untuk menyudahi hidup? Goblok kalo itu.