Cerita tentang Bandara
Aku suka bandara.
Aku suka mengamati manusia berjalan kesana kemari.
Berpamitan dengan sosok tercinta sebelum memasuki pintu keberangkatan.
Aku suka bandara.
Aku selalu khawatir dan cemas ketika koper dan tas melewati pengecekan barang walaupun tentu saja aku tidak mungkin membawa barang terlarang.
Aku suka berdiri mengantre di counter check-in.
Menunjukkan kartu identitas sembari berkata kepada petugas, “window seat ya mas”.
Aku suka menunggu di ruang tunggu.
Melihat pesawat take-off dan landing, sembari membayangkan wajah-wajah yang sedang menungguku di sana.
Aku suka berada dalam pesawat.
Aku suka menghabiskan waktu satu jam lebih sepuluh menitku untuk membaca in-flight magazine atau sekedar melihat katalog belanja pesawat sembari menikmati sepotong roti dan segelas air mineral yang diberikan.
Aku suka melihat pemandangan di luar jendela, melihat awan-awan yang terbentang diatas, hingga akhirnya aku tertidur lelap.
Ah, tahukah kamu betapa menakjubkannya melihat langit di pagi hari dimana matahari perlahan-lahan akan terbit?
Tahukah kamu betapa menakjubkannya melihat lampu-lampu kota dan hiruk pikuk jalanan pada malam hari dari atas sini?
Aku suka bandara.
Walaupun aku harus berpergian sendiri selama satu tahun terakhir,
walaupun terkadang aku takut saat pesawat akan lepas landas,
hanya di bandara lah aku dapat menikmati bread papa’s rasa vanila kesukaanku.
Walaupun bandara selalu menjadi tempatku menangis ketika akan meninggalkan orang-orang yang ku cinta dan menyadari bahwa aku akan meninggalkan kehangatan yang hanya bisa ku rasakan ketika di rumah.
Ya, tapi aku suka bandara.
Salsabila Naqiyyah,
menginginkan pulang dan menginginkan bread papa’s rasa vanila satu buah saja.