Broken Chord

Bertumbuh tua adalah hal yang tidak bisa dihindari. Terjadi begitu saja seiring berjalannya waktu. Bagaimana dengan perihal bertumbuh dewasa?

Ketika masih kanak-kanak, berebut mainan dan saling iri “jajanan” satu sama lain adalah hal yang sangat menjengkelkan. Ketika melihat teman, bermain dengan teman lain rasanya panas. Kalo anak jaman sekarang mungkin sudah gorok-gorokan. Mungkin.

Beranjak ke usia remaja, agak pelik sedikit lah walau masih receh. Masalah cinta monyet. Dunia hanya milik berdua dan bila ada masalah rasanya dunia mau kiamat. Jijik ya. Emang.

Memasuki masa kuliah, saya menemui masalah yang lumayan “advance”. Bagaimana mengatur uang jajan ketika godaan untuk bergaya hidup gaul begitu menggigit. Gak kuku boook! Biasalah namanya juga anak milenials, pedoman BPJS (biaya pas-pasan jiwa sosialita). Bagaimana mengatasi masalah dengan teman kelompok yang terkadang berbeda pendapat dengan kita. Bagaimana berani bilang tidak ketika mbak-mbak atau mas-mas kasir minimart berkata “boleh disumbangkan uang kembaliannya?”. Dan bagaimana mencari pacar yang bisa memberikan “value added”. Hahaha taik ah.


Saat masih kecil latar musik hidup kita seperti dimainkan dengan penuh gembira. Nada-nada dinamis. Brightly. Pada masa transisi, jiwa itu agak pudar dan terasa musik dimainkan dengan tempo yang sangat lambat tanpa sengaja. Dragging. Dan kemudian terbentuklah broken chord. Uraian dari nada-nada dari akord yang berurutan naik turun yang kemudian dimainkan secara tidak beraturan. Random. Dan broken chord saya kebetulan menghasilkan instrumen musik yang kompleks. Kadang merdu, kadang fals.

Instrumen yang berbicara tentang banyak hal.

Tentang menerima hidup dan tidak membandingkan diri dengan orang lain.

Tentang berani menentukan pilihan sendiri.

Tentang berani melepaskan diri dari “abusive friendship”.

Tentang tidak menggantungkan kebahagian ke orang lain.

Tentang teman yang menghilang.

Tentang teman yang baru ditemukan.

Tentang teman yang akhirnya dapat merasakan indahnya bercinta.

Tentang teman yang ragu akan pilihannya mencintai hal yang dianggap tabu.

Tentang teman yang dengan bangganya menceritakan flat earth theory.

Tentang teman yang akhirnya menemukan soulmate-nya setelah sekian lama terjebak dengan para lelaki yang modus.

Tentang teman yang jenuh akan pekerjaannya.

Tentang teman yang sudah berganti pacar 5x sejak saya mengenalnya 3 tahun yang lalu.

Tentang teman yang selalu menjadi badut namun menyimpan kesedihan di dirinya.

Tentang teman yang “suicidal”.

Tentang teman yang membenci seseorang, dan lama-lama menjadi replika orang yang dibencinya.

Tentang kebahagiaan. Tentang kesedihan.

Tentang menemukan. Tentang kehilangan.

Tentang mendapatkan. Tentang melepaskan.

Tentang penerimaan. Tentang penolakan.

Tentang kehidupan sehari-hari yang tidak muluk-muluk. Yang juga dialami 7juta orang lain di dunia ini.

Biasa saja sebenarnya.


Dewasa tidak alamiah. Dewasa adalah proses berkembangnya sudut pandang. Dewasa adalah bisa melihat abu di antara hitam dan putih.

Dewasa adalah pilihan.
Pilihan yang sesungguhnya harus dipilih,
dan kita harus belajar untuk itu.

Salah satu hasil dari proses pendewasaan yang terpenting bagi saya adalah ketika saya menyadari bahwa saya bukanlah pusat dunia. Saya hanyalah titik kecil yang tidak akan terlihat dari langit ketujuh. Saat rapuh, terpuruk dan merasa “sudah jatuh tertimpa tangga”, saya selalu berusaha untuk mengingat bahwa di belahan dunia lain ada orang yang rela dibayar Rp 10.000,00 demi baju senilai Rp 400.000,00 yang saya pakai. Ada orang yang rela menahan pegal seharian karena harus berdiri menyambut pelanggan. Dan ada orang yang rela membawa buku arisan tebal kemana-mana karena ia adalah debt collector.

Dan dengan mendengar banyak kisah orang lain, saya sedikit demi sedikit berusaha untuk tidak lagi memposisikan diri sebagai “orang paling menderita sedunia”. Berusaha ketika orang lain bercerita cukup dengan mendengarkan, tidak perlu menambahkan “kamu masih mending, aku tuh ya bla bla bla”.

Mulai menghargai bahwa butuh keberanian dan kepercayaan untuk seseorang membuka diri kepada saya.

Kurangi bla bla bla. Dan mulai pahami, bahwa seburuk apapun nasibmu…bumi tetap berputar pada porosnya. Matahari tetap terbit dari timur dan tenggelam di barat. Dan sudah tidak ada lagi setor tunai Rp 20.000,00.
Tidak ada yang berubah.
Tidak ada yang peduli sebesar itu, kecuali dirimu sendiri.
source : https://theentertainmentnut.files.wordpress.com/2012/09/nf3.jpg?w=479