Kembali

Sayang, apa kabar dirimu?

Aku selalu membayangkan bagaimana kabarmu di sana sekarang…

Apakah kamu sedang bercengkrama dengan 72 bidadari yang sangat cantik itu?

Benarkah tempat kamu berada sekarang sangat indah…

Melebihi keindahan Shire?

Sayang, masihku bertanya, mengapa kamu tega tinggalkanku…

Apakah di sini membosankan karena tidak ada makhluk bersayap memainkan irama waltz?

Apakah alunan musik di sana lebih indah dari gubahan Chopin dan Mozart? Aku ingin mendengarnya sayang, sembari menyentuh ragamu….

Sayang aku sangat merindumu… aku sungguh ingin berbicara padamu, menatap mata liarmu dan senyuman genit itu. Kata orang-orang, aku bisa menggantikan itu semua dengan cara menangkupkan kedua telapak tanganku kemudian mengatupkan kedua mataku. Aku sudah mencobanya tapi aku tidak melihatmu sayang. Apakah pengalaman spiritualku belum cukup untuk menghadirkan roh mu dipelukku…

Sayang… akhirnya aku hanya ingin menitipkan pesan padamu. Pergilah ke salah satu sudut taman indah itu, ambilkan untukku, buah terlarang yang termasyur itu sebagai bukti cintamu padaku… agar kau bisa dihukum oleh tuhan dan kau akhirnya kembali berpijak di bumi ini, karena percayalah…sungguh tiada guna keindahan surgawi tanpa kecupan kekasihmu ini…