Selamat malam, Ikan

Selamat malam, Ikan

Sedang apa dirimu?

Apakah kau tertidur kala malam atau kau hanya diam mengikuti alur air mengalir

Selamat malam, Ikan

Imajinasi liarku bertanya apa yang ada di dalam otak kecilmu itu?

Bagaimana dirimu yang bersisik itu dalam memandang dunia

Apakah kau seorang nihilis yang sinis akan hal romantis?

Atau… kau seorang ateis yang kritis akan hal mistis?

Selamat malam, Ikan

Pernahkah kau merasa bosan

Menghabiskan waktu di ceruk yang kaku

Memandangi ikan yang sama tiap harinya

Pernahkah terbesit untuk mendambakan ikan lain untuk kau pandangi?

Selamat malam, Ikan

Perkenalkan

Aku manusia yang ingin menjadi ikan

Ikan yang adalah binatang

Yang dianggap lebih rendah dari manusia

Yang tidak terikat tatanan sosial

Yang tidak terikat dogma

Yang tidak terikat oleh kata tidak


Tulisan di atas merupakan produk dari salah satu “tugas” yang menyatakan bahwa menulis puisi adalah salah satu cara terbaik untuk berbicara dengan diri sendiri. Berbicara tentang hal yang tidak dibicarakan dengan orang lain. Yang merupakan cerminan terdalam dari penulis puisi tersebut.

Cara kerja tugas ini adalah ikan yang merupakan tokoh sentral dalam puisi diganti dengan nama penulis. Kata ganti aku menggantikan kamu. Kata ganti kamu menggantikan dia. Kata ganti dia menggantikan mereka. Kata ganti mereka menggantikan aku.

Terasa meyakinkan ketika manusia memang kadang hanya ingin melihat apa yang ingin dilihat. Memahami apa yang ingin dipahami. Menjiwai apa yang ingin dijiwai. Namun, pernahkah kau membaca tentang fiksi?

Selamat malam, Aku.

“Mistaken” — by Ken Wong (http://www.kenart.net/portfolio/moonlight.htm)