Warna Lokal, Parakang, Hingga Fragmen Perjuangan

Oleh: Badaruddin Amir

Warna lokal tampaknya masih sangat menarik sebagai latar sebuah cerita pendek. Apalagi jika pengarang dapat pula menguak sisi mistis dari warna lokal tersebut dalam ceritanya, maka sempurnalah kehadiran cerita tersebut sebagai bentuk “sastra kontekstual” yang di dalamnya mewahyakan kearifan-kearifan lokal yang dianggap sebagai sebuah kebijakan dari adat dan istiadat sebuah kelompok masyarakat.

Di Sumatera misalnya, cerita tentang “Palagang” (manusia harimau) dengan latar belakang hutan-hutan rimba menjadi satu cerita yang tak terpisahkan dengan adat dan istiadat dari sebuah marga tertentu dan tak hentinya mengilhami cerita-cerita rakyat yang telah ditulis dalam bentuk lebih modern seperti cerita pendek dan novel. Juga tentang cerita “Leak” di Bali, “Sundel Bolong” dan “Kuntilanak” di Jawa dan “Kuyang” di Kalimantan. “Parakang” dan juga “Poppo” adalah salah satu sisi mistis dari warna lokal Sulawesi, khususnya di Sulawesi Selatan. Sekalipun “Parakang” atau “Poppo” telah berkali-kali ditulis orang dalam bentuk cerita pendek atau novel, misalnya novel Khrisna Pabbicara berjudul “Natisha” yang menguak dunia Parakang, atau novel Dul Abdul Rahman berjudul “Perempuan Poppo”, namun kisah lain masih bermunculan pula menghiasi jagad sastra lokal yang “kontekstual” itu.

Para pengarang seperti Wildan Yatim, Hamzad Rangkuti, dan lain-lain pernah menceritakan sisi mistis daerahnya masing-masing. Juga pengarang-pengarang dunia seperti Edgar Allan Poe dalam kumpulan cerpennya berjudul “Kisah-Kisah Tengah Malam”, dan pengarang klasik China Pu Songling yang telah menulis sekumpulan cerita mistik sangat menarik berjudul “Liaozhai Zhiyi” yang telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa asing dan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Demikian pula sebahagian dari cerita pendek Ryunosuke Akutagawa dalam kumpulan cerpennya berjudul “Lukisan Neraka”. Sisi mistis dan warna lokal selalu menjadi dua sisi yang tak bisa dipisahkan dari sebuah kisah yang menjadi latar belakang sebuah cerita pendek. Kepiawaian seorang pengaranglah dalam menyelipkan sebuah pesan dalam ceritanya yang membuat kisah-kisah mistis tersebut jadi berbeda. Hamzad Rangkuti dalam “Palagan” berlatar Sumatera akan lain jika dibandingkan dengan “Kucing Hitam”-nya Poe yang berlatar Amerika, juga sangat berbeda dengan “Tangisan Hantu” yang berlatar budaya China Klasik dari Songling.

Kumpulan cerita pendek yang disodorkan komunitas Parepare Menulis ini pun demikian. Cerita mistik “Parakang” maupun sejenisnya seperti “Seba”, dapat disebut sebagai kekuatan kumpulan cerpen ini; menjadi sangat penting untuk diapresiasi kembali sebagai cerita-cerita mistik yang bernuansa lokal. 
Dari 12 cerita pendek pada buku ini ada 3 cerita pendek berlatar mistik dengan warna lokal yang kuat. Cerita pendek tersebut masing-masing berjudul: “Seba, Penghuni Buntu Sundalle” (karya Fani Yo), “Kota Z, Kota Para Parakang” (karya Arfan Arafah), dan “Benarkah Menantuku Parakang?” (karya Nurul Fadhila Mustari). Sementara warna lokal yang sama kuatnya terlihat pula dalam cerita pendek yang ditulis dengan sangat piawai oleh Daisy Wu berjudul “Uddani” dan “Desa Bumi” yang ditulis oleh Syahrani Said. Selain warna lokal dan mistik, latar belakang “perjuangan” juga menjadi pilihan yang perlu diapresiasi dalam kumpulan cerpen ini. Ada dua cerpen dengan latar belakang fragmen perjuangan, baik yang dituturkan secara total dalam keseluruhan cerpen maupun yang diimbuhkan sebagai sebuah “bingkai” dalam sebuah cerita. Cerpen berjudul “Paula Rumambi” (karya Sn. Purwanda) adalah sebuah cerita kenangan tentang pergerakan para pejuang kemerdekaan, mendekati cerita perjuangan sesungguhnya. Cerita ini pun diakui oleh pengarangnya (dalam catatan kaki) sebagai cerita yang dikembangkan berdasarkan kenangan seorang pejuang: Mayjen (TNI) H. Andi Mattalatta, sedang cerita pendek berjudul “Pekerjaan Rumah” (karya Ilo ID) yang ditulis dengan teknik cerita berbingkai ini murni sebagai sebuah karya fiksi. Dua cerita kemanusiaan masing-masing berjudul “Wenni” (karya Arianonaka) dan “Pagi Hari Dokter Wira Hirarsa” (karya Dahri Dahlan) perlu pula disebut sebagai cerpen yang sudah “berhasil”. Sedang sebuah cerpen berlatar cinta remaja berjudul “Jerawat” (karya Emur PS) mungkin dapat disebut sebagai pelengkap.

  • Mistikisme dan Parakang Dua Sisi Kuat

Dari zaman dahulu hingga sekarang cerita-cerita mistik selalu menarik untuk diceritakan. Demikian pula dengan kehadiran makhluk-makhluk legendaris yang hidup dalam dunia mitologi –yang di negeri Barat dianggap berasal dari para dewa–. Demikian dalam mitologi Barat kita mengenal beraneka makhluk imajinatif baik itu yang berwujud kombinasi setengah binatang-setengah manusia maupun yang setengah dewa – setengah manusia. Makhluk-makhluk itu dilengkapi dengan sifat dasar masing-masing: ada yang jahat dan menjadi musuh bagi manusia dan ada pula yang baik dan menjadi penolong manusia.
Di tanah air kita, hampir semua daerah juga “memelihara” makhluk-makhluk seperti itu dalam tradisi dan adat istiadatnya. Mereka melakukan serangkaian upacara untuk menghormati makhluk-makhluk legendaris itu, agar tidak menurunkan bala atau kutukan. Masyarakat yang masih memercayai kekuatan mistis ini yakin bahwa setiap pohon beringin, rumah keramat, kuburan tua, sungai dan laut adalah tempat-tempat tinggal para makhluk gaib yang legendaris itu. Makhluk-makhluk itu menjadi “penghuni” atau penjaga, karena itu masyarakat yang masih memelihara kepercayaan mistis harus melakukan upacara sesajen yang dipimpin oleh tetua adat agar makhluk-makhluk itu dapat berdamai dengan manusia. 
Secara imajinatif makhluk-makhluk itu diyakini bisa menjadi pelindung dan juga bisa menjadi ancaman bagi keselamatan manusia. Palagan di Sumatera bisa menjadi pelindung sekaligus ancaman, demikian juga dengan Leak di Bali, Kuyang di Kalimantan, Parakang dan Poppo di Sulawesi Selatan. Makhluk imajinatif ini diyakini oleh sebagian masyarakat yang masih berpaham mistis sebagai makhluk yang benar-benar ada namun sebagian masyarakat yang sudah berpandangan ontologis hanya menganggapnya sebagai sebuah mitos. Karena itulah dua tesa yang bertentangan ini juga hadir dalam cerita pendek tentang “makhluk imajinatif” tersebut. Fani Yo dalam “Seba, Penghuni Buntu Sundalle” dan Nurul Fadhila Mustari dalam “Benarkah Menantuku Parakang?” sepertinya lebih berpihak pada tesa: membenarkan kehadiran makhluk-makhluk mistis tersebut.

“Saat melangkah keluar WC, dengan pelan aku melangkah menuju kamar. Sontak aku berteriak, seorang gadis berambut panjang itu kembali hadir di hadapanku, pakaian yang digunakannya seperti pakaian yang digunakan menantuku...” (Benarkah Menantuku Parakang?).

Sementara itu Arfan Arafah dalam cerpennya “Kota Z, Kota Para Parakang” tampak menolak fenomena kehadiran makhluk mistis itu. Karena itu ia memerlukan bukti dan penjelasan ilmiah bahwa fenomena “parakang” bukanlah kasus mistikisme, melain-kan sesuatu yang dapat dijelaskan secara ilmiah berdasarkan referensi perpustakaan. Penyakit itu tidak lain disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh kepala suku dalam pesta adat pada acara makan bersama dalam satu piring.

“Kita tidak usah sibuk mencari akar masalah dari penyakit ini, yang kita perlukan apa obat dari penyakit ini?” teriak Dokter Suparman di dalam rapat yang diadakan sejam lalu di rumah sakit Madising Kota Z. (Kota Z, Kota Para Parakang).

Penyelesaian yang berusaha merasionalisasi hal yang irasional seperti itu sering pula kita saksikan dalam film-film horor Barat seperti film Zombie dan sejenisnya. Hanya saja penye-lesaian dari Arfan Putra dalam cerpennya “Kota Z, Kota Para Parakang” kurang meyakinkan karena dari awal cerpen tersebut telah menghadirkan latar belakang warna lokal yang kental (tentang tradisi Mappadendang) yang kemudian tiba-tiba dalam babakan berikut cerpen tersebut beralih setting dari dunia yang masih bergelimang tradisi ke dunia modern yang bergelimang teknologi canggih dengan hadirnya perpustakaan digital yang super canggih di daerah yang masih sama, yaitu Kota Z. 
Akan tetapi latar tradisi dan mistikis seperti yang mencuat dalam cerita “Seba, Penghuni Buntu Sundalle” (Fani Yo) dan “Uddani” (Daisy Wu) dapat menjadi penyeimbang yang menguatkan kehadiran keseluruh cerita pendek dalam kumpulan ini.

  • Dua Fragmen Perjuangan

Yang menarik pula untuk diapresiasi dalam kumpulan cerpen ini adalah dua cerita pendek yang bercerita tentang perjuangan. Dua “fragmen” (yang sesungguhnya berarti penggalan cerita) ini menceritakan perjuangan pergerakan kemerdekaan yang terjadi di masa lalu. Cerpen Sn. Purwanda berjudul “Paula Rumambi” yang diakunya sebagai cerita yang dikembangkan berdasarkan kenangan seorang pejuang ini lebih merupakan sinopsis sebuah novel. Dan saya percaya pengarangnya dapat mengembangkan-nya menjadi novel. Plotnya yang panjang dapat menjadi pondasi yang kuat bagi sebuah novel. Namun sebagai cerita pendek, cerpen ini memang kurang darah. Kenangan cinta seorang guide bernama Paula Rumambi terhadap seorang pejuang bernama Herman kurang menyentuh karena dari awal memang me-rupakan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sedang cerpen berjudul “Pekerjaan Rumah” karya Ilo ID ditulis dengan teknik cerita berbingkai, cerita dalam cerita. Cerita pembunuhan ayahnya yang pejuang dijadikan sebagai flashback cerita dan di sanalah sesungguhnya access point dari cerita ini.

  • Sisi Kemanusiaan yang Menyentuh

Dua cerpen lain dalam kumpulan cerpen ini bercerita tentang kemanusiaan, bagaimana manusia “memperlakukan” manusia lain dalam bingkai cerita yang berbeda.

Dokter Wira Hirarsa harus menelan kenyataan pahit saat menyaksikan fenomena pembohongan publik yang dilakukan oleh seorang placebo (penjual obat palsu) yang beraksi di depan matanya. Ia yang berpendidikan kedokteran dan mengetahui seluk-beluk medis sangat ingin mencegah hal tersebut, tapi apa boleh buat karena baik kondisi badannya yang telah digerogoti penyakit tua dan hipertensi, juga tak punya nyali lagi untuk melarang dengan kata-kata. Maka ia pun hanya menolaknya dengan hati.
Dokter Wira Hirarsa kebakaran jenggot saat mendengar dan melihat aksi si pembual dari balik jendela. Dari sorot matanya seakan-akan dalam hatinya ia mengatakan bahwa ada yang tidak beres. (Pagi Hari Dokter Wira Hirarsa).

Sedang cerpen berjudul “Wenni” (Arianonaka) memperlihat-kan perlawanan yang seru terhadap suatu ketidakadilan atau kesemena-menaan perlakuan seorang suami terhadap istri dan anaknya.

Mamak menjerit melihat bapak merobek buku itu. Aku berusaha bangkit dengan bantuan tongkat penopang tubuhku. Malam itu aku benar-benar melihat kelam yang sesungguhnya. Mama tak mungkin bisa dibuat tenang karena kehilangan buku tabungan kedua kalinya. (Wenni).

Sedang untuk kedua penulis yang terakhir, Saya tidak perlu membicarakan cerita pendeknya “Jambonisasi” (Muliadi GF) dan “Runduk Bahu Bapak” (Pangerang P. Muda). Keduanya saya anggap sebagai cerpen yang sudah “jadi” dan dapat “bercerita” sendiri pada pembacanya, selain itu pengarangnya bukan lagi nama baru dalam jagat cerpen Indonesia.


Barru, 01 Maret 2017

Badaruddin Amir 
adalah guru bahasa Indonesia, penyair dan cerpenis
tinggal di Barru