Menyerupai Setan

Sebelas bulan yang lalu, wajar bila ada manusia yang menganiaya sesama manusia hingga bahkan membunuh manusia lain meski itu adalah ibu kandung sendiri, ada apa? Ada aqidah yang lemah, ada setan yang selalu mencari titik lemah untuk terus menggoda, ada setan yang selalu terus mengajak kita menjadi temannya, hakikat setan seperti itu sampai hari penghakiman tiba, karena bukan hanya seperti pepatah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, namun di dalam aqidah yang rapuh terdapat setan yang utuh, jangankan aqidah yang rapuh yang terpelihara pun ada macam-macam godaan yang terus menerpa.

Bulan Ramadan adalah bulan spesial bagi semua orang beriman, dalam Ramadan ada banyak berkah baik secara sadar atau pun ngga, seperti yang kita semua tahu bahwa sebenarnya bulan ramadan adalah bulan untuk orang yang beriman dan bukan orang islam, maksud saya lebih tepatnya adalah bulan untuk orang yang ingin mencapai tingkat taqwa dihadapan sang pencipta. Maka dari sinilah manusia yang sebenarnya-benarnya ingin menjadi manusia harusnya memulai memanusiakan dirinya, lalu orang-orang islam yang belum tergugah oleh sapaan ‘HAI’ dari tuhan untuk terus belajar berislam hingga mencapai kemuliaan iman.

Sebelum ada pada jalan keislaman hingga pada titik keimanan lalu kemudian menjadi orang yang bertaqwa, mari bercermin apakah masih ada setan atau bahkan masih menyerupai setan dalam hal ucapan baik perbuatan dalam diri kita khususnya diri saya, saya yang sebelas bulan lalu masih sering terhasut atau mungkin bisa dibilang terhanyut dengan bujuk rayu setan, saya yang sering lupa bahwa saya adalah manusia tapi kenapa menyerupai setan, saya sendiri menyadari kelemahan yang saya punya khususnya dari sisi aqidah yang masih terkontaminasi aqidah dari luar, maka inilah momentum.

Ramadan adalah momentum atau titik balik untuk diri saya menjadi manusia kembali, meraih agama saya lagi sebagai makhluk beragama, percaya bahwa hidup dan mati hanya dari-Nya dan akan kembali pada-Nya sehingga menjadi orang yang taqwa. mungkin seperti itu kata-kata dari saya dan semua orang yang hidup karena ingin mencari ridho-Nya.

Yang saya tulis diatas ada kata-kata menyerupai, kenapa menyerupai? Seharusnya untuk orang yang percaya atau menjalankan puasa tahu bahwa setan pun dibelenggu, diikat leher dan tangannya, tapi kenapa masih ada orang yang berbuat seperti perbuatan setan, sebenarnya belenggu disana bukan secara hakiki melainkan hanya bahasa kiasan mengingat ramadan adalah bulan yang penuh ampunan serta keberkahan, maka setan pada posisi ini seperti terbelenggu, selain dari pada itu setan yang sebenarnya terbelenggu adalah setan kelas kakap, sedang setan yang biasa masih bisa menggoda manusia, untuk menghindari kita tergoda jangan menjadi orang yang biasa seperti setan yang biasa tadi, belajar untuk ngga bisa digoda sehingga menjadi ngga terbiasa digoda.

Like what you read? Give Samsir a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.