Inflasi Turki Yang Dapat Mempengaruhi Perekonomian Asia
by Findi Diansa — 15417133

Inflasi Turki meningkat hampir 18 persen pada bulan Agustus ini. Sebelumnya lira mata uang turki ini turun sekitar 3,5 persen diperdagangkan dengan nilai sekitar 6,22 terhadap dolar Amerika Serikat. Ini adalah laju inflasi tertinggi yang dipicu oleh anjloknya mata uang Lira, yang melemah lebih dari 20 persen dalam beberapa minggu terakhir. Peningkatan Inflasi dan penurunan nilai tukar mata uang Lira kini menimbulkan ketakutan bahwa Turki berada di ambang krisis finansial dan ekonomi.
Selain itu inflasi juga dapat menggoncang pasar global, masalah Turki berdampak pula ke negara-negara sejauh Argentina dan Indonesia dan membebani nilai mata uang Asia serta memicu fluktuasi mata uang di seluruh dunia.Pasar global bergejolak pekan ini. Baru-baru ini pasar saham ditutup di Eropa dan secara acak di Asia, di mana negara yang ekonominya sedang muncul seperti India dan Indonesia, sangat rentan terhadap dampak ekonomi Turki yang masih belum stabil. Namun, Bank Sentral Turki dalam pernyataannya, berjanji akan bertindak dan menggunakan semua alat yang dimilikinya serta menyusun kembali kebijakan moneternya pada pertemuan 13 September mendatang.
Nilai mata uang itu turun drastis tahun ini ditengah kekhawatiran para investor atas kebijakan ekonomi Presiden Recep Tayyip Erdogan dan sengketa diplomatik dan perdagangan yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat. Hal ini dipicu oleh beberapa polemik antara Amerika Serikat dengan Turki sendiri. Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi kepada dua menteri Kabinet Turki dan melipatgandakan tarif atas impor baja dan alumunium dari Turki sebagai balasan atas masih ditahannya seorang Pendeta Amerika Serikat yang bernama Andrew Brunson di Turki. Turki membalas dengan menaikkan tarif atas beberapa barang impor tertentu dari AS. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh Amerika Serikat melancarkan perang ekonomi terhadap negaranya dan pada hari selasa beliau mengusulkan pemboikotan sejumlah barang kepada Amerika Serikat.
Kebuntuan mengenai penahanan seorang pendeta Amerika di Turki, dan tarif baru yang ketat yang dikenakan oleh Presiden Amerika Donald Trump terhadap Turki, adalah di antara banyak isu yang menegangkan hubungan antara kedua negara. Kantor berita Rusia, Interfax, melaporkan pekan ini bahwa Moskow akan mulai mengirimkan sistem pertahanan S-400 ke Turki pada tahun 2019. Pengumuman itu menambah ketegangan yang sudah ada antara Amerika Serikat dan Turki. Para pejabat Amerika dan NATO telah memperingatkan Turki bahwa S-400 tidak akan cocok dengan sistem pertahanan NATO lainnya.Sementara itu, nilai lira Turki terus merosot terhadap dolar Amerika, menyusul tarif baru terhadap Turki yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Donald Trump.
Bank Sentral Turki mengambil langkah untuk mengucurkan uang tunai bagi bank-bank, sementara negara itu berusaha mengatasi krisis mata uang yang dipicu kekhawatiran atas kebijakan ekonomi Presiden Recep Tayyip Erdogan serta sengketa perdagangan dan diplomatik dengan AS. Untuk mengambil langkah dalam permasalahn ini bank sentral mengumumkan serangkaian upaya untuk “menyediakan likuiditas yang diperlukan bank-bank” — tapi tidak mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga. Langkah itu bertujuan untuk melancarkan sistem keuangan, menenangkan kekhawatiran mengenai masalah di bank-bank dan menjaga agar bank-bank tetap memberikan pinjaman kepada nasabah dan bisnis. Tapi walaupun bank sentral telah melakukan banyak perlakuan akan tetapi nilai mata uang lira masih belum stabil hingga saat ini. Ketidakpastian itu terus menghantam bursa saham dunia dan sempat menyebabkan penurunan tajam mata uang negara-negara dengan ekonomi berkembang lain seperti Afrika Selatan dan India, di tengah kekhawatiran bahwa masalah keuangan bisa menyebar.
Daftar Pustaka :
Eropa. (2018). Turki berupaya atasi kritis. Retrieved September 5, 2018, from https://www.voaindonesia.com/a/turki-berupaya-atasi-krisis-tapi-nilai-lira-terus-terpuruk/4527474.html