PERENCANAAN KOTA UJOH BILANG, MAHAKAM ULU, KALIMANTAN TIMUR
by Findi Diansa — 15417133

Kalimantan Timur adalah sebuah provinsi di Indonesia yang berada di Pulau Kalimantan. Bagian ujung timur berbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Sulawesi dengan total luas 129.066,64 KM persegi dan populasi sebesar 3.6 juta penduduk. Kalimantan Timur merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk terendah keempat di Indonesia.
Kabupaten Mahakam Ulu merupakan kabupaten yang baru dimekarkan pada tahun 2012. Kota Ujoh Bilang adalah ibu kota baru yang direncanakan pemerintah setempat yaitu oleh Bonifasius Belawan Geh menjadi ibu kota Kabupaten Mahakam Ulu. Kondisi alam dengan budaya setempat yang khas menjadikan Kabupaten Mahakam Ulu memiliki potensi sebagai kota yang memiliki karakter adat dan budaya setempat yang kuat. Kondisi alami yang didominasi oleh batuan karst, tanah subur aluvial yang dekat dengan sungai, serta budaya Suku Dayak yang masih hidup menjadikan perencanaan Kota Baru Ujoh Bilang perlu memperhatikan nilai lanskap ekologi-nya. Lanskap ekologi merupakan sub disiplin ekologi dan geografi yang khusus mempelajari variasi spasial dalam lanskap yang mempengaruhi proses proses ekologi seperti distribusi aliran energi materi dan individu dalam lingkungannya yang pada gilirannya mungkin mempengaruhi distribusi oleh manajemen lengkap itu sendiri (Novi, 2015).
Iklim di Kota Ujoh Bilang, berdasarkan iklim Koppen termasuk dalam kategori tipe Af (hutan hujan tropis). Data di lapangan menunjukan suhu rata-rata di kawasan ini adalah 31,60C dengan kelembaban rata-rata 67,2%. Kenyamanan pada kondisi tropis berada pada kisaran 27–28o C dengan kelembaban ideal bagi manusia antara 40–70%, sehingga nilai THI yang dikatakan nyaman berkisar 21–27 dengan perhitungan rumus 0,8T + (RH x T/500). T menyatakan temperatur dalam derajat celcius dan RH menyatakan kelembaban udara dalam %. Berdasarkan perhitungan tersebut, Kota Ujoh Bilang memiliki nilai THI 29,52 sehingga dapat dikatakan tidak nyaman, oleh karenanya perlu modifikasi secara lingkungan dengan pemilihan tanaman yang dapat menurunkan suhu pada ruang-ruang publik, serta area tangkapan air yang dialokasikan untuk memodifikasi iklim sehingga dapat menurunkan suhu siang hari, selain sebagai reservoir yang dapat meminimalisir banjir.
Secara hidrologis Kota Ujoh Bilang berada pada DAS Mahakam dengan panjang Sungai Mahakam yang melewati kawasan tengah Kota Ujoh Bilang sepanjang 22,3 km. Pada waktu-waktu tertentu sering terjadi banjir di tepian Sungai Mahakam, hal ini tergantung dari curah hujan. Ketika pasang, permukaan air dapat naik antara 2,5–10 m dari titik permukaan terendah(Nurisyah, dkk., 2013).
Konsep pendekatan Kota Ujoh Bilang yang digunakan dalam perencanaan Kota Ujoh Bilang adalah pendekatan ramah lingkungan yang didasari potensi sumberdaya alam dan lingkungan yang ada serta megedepankan nilai-nilai budaya masyarakat lokal untuk melayani dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat. Orientasi Kota Ujoh Bilang ditata dengan pusat utama adalah Sungai Mahakam hal ini juga mengedepankan konsep Urban Waterfront. Urban Waterfront sendiri yaitu area perkotaan yang secara langsung memiliki kontak dengan air, baik sungai, danau, atau laut. Sungai berperan penting sebagai koneksi antara kota dengan area alami/habitat di sekitarnya, sungai membawa nutrisi, dan sebagai pergerakan satwa itu sendiri (May, 2006). Sungai juga dapat meningkatkan keberagaman spesies, serta menurunkan suhu (memperbaiki iklim) di sekitar kawasannya Ujoh Bilang.
Area inti atau pusat utama Kota Ujoh Bilang ditetapkan sebagai pintu masuk Kota Ujoh Bilang yang merupakan area kawasan perdagangan utama, yang mengedepankan konsep ramah lingkungan dan bernuansa tradisional seperti arsitektur lokal, menjadikan sungai sebagai wajah kota, dan struktur kota radial konsentrik serta alokasi ruang terbuka hijau yang linear mengikuti jalan dan berada di sepanjang sempadan sungai.
Area di luar inti/pusat utama kota merupakan area pemukiman, perkantoran, fasilitas umum dan sosial, kawasan industri, pertanian, hutan lindung, serta rekreasi dan olahraga. Distribusi area atau fungsi-fungsi tersebut mempertimbangkan model kota konsentris dengan pusat kota adalah area ekonomi yang dikelilingi oleh pemukiman dan fungsi-fungsi lainnya hingga area hutan atau greenbelt sebagai pembatas terluar. Harvey dan jowsey menyatakan bahwa kota dapat tersusun dengan urutan aktivitas pusat kota atau central business district (CBD) berada di tengah, sektor tertentu terdapat kawasan perdagangan dan industri ringan, kawasan perumahan atau pemukiman di sekelilingnya. Dengan menggunakan system zonasi atau penggunaan lahan akan menjaga keteraturan kota.
Kenyamanan kota serta struktur ruang dibentuk dengan penataan ruang hijau yang terdistribusi merata baik secara nodal di beberapa area dan linear di sepanjang sungai dan jalan. Area ruang terbuka hijau yang bersifat multi nodal ini juga menjadi area hijau yang berfungsi sebagai taman yang mewadahi aktivitas masyarakat dalam skala dan luasan lingkungan tertentu. Area hijau yang bersifat linear dijadikan sebagai parkways agar masyarakat juga memanfaatkan riverscape salah satunya sebagai river festival, ataupun sebagai jalur ekologis. Selain itu, terdapat greenbelt di tepi/luar kota juga memiliki kawasan hijauan alami atau area konservasi. Total area hijauan kota Ujoh Bilang dapat mencapai lebih dari 70%.
Daftar pustaka :
Novi, S. (2015). Pengertian Lanskap Ekologi. Retrieved September 1, 2018, from http://sarasvatnov.blogspot.com/2015/03/definisi-dan-pengertian-ekologi-lanskap.html
Nurisyah, hadi, S., Widhyanto, & Nazief, M. (2013). Penyusunan Masterplan Perkotaan Ujoh Bilang. Bogor: LPPM-IPB.