Laba-laba

Hari ini saat saya membereskan buku-buku dan kartu pos lama, tangan saya secara tidak sengaja menyenggol rumah laba-laba. Tidak rusak — hanya saja, beberapa untai benangnya jatuh dan laba-laba itu harus memilin yang baru. Saya tidak tahu berapa besar kerusakan yang terjadi akibat tangan saya di mata laba-laba itu dan berapa lama waktu yang diperlukannya untuk memperbaiki rumahnya. Barangkali di mata si laba-laba sarang itu adalah benda paling kokoh di dunianya. Dia sudah menghabiskan berjam-jam — mungkin seminggu penuh — memilin dan memintal senar lalu menyusunnya dalam pola sirkuler geometris yang entah dia ketahui darimana. Mungkin insting. Sama seperti bentuk rumah lebah yang heksagonal, sama seperti motif sayap ngengat yang simetris. Kadang alam mengajarkan jauh lebih banyak ke manusia daripada sebaliknya.

Tahu-tahu semua angan-angannya kandas dalam sekejap karena saya.

Kemudian saya sadar. Barangkali saya seperti itu. Beberapa hari ini banyak rencana saya yang sudah saya susun matang-matang dan nyaris tanpa celah tiba-tiba amblas tidak tersisa hanya dengan sekali sentuhan. Skenario yang sudah saya rancang satu per satu sekarang tercecer dan saya bahkan tidak tahu harus mengumpulkan serpihannya dari mana. Semua keinginan dan harapan saya sekarang menyebar seperti galaksi di luar angkasa sana. Bedanya, galaksi tahu harus berotasi ke mana. Saya tidak. Seorang teman saya menunjukkan rancangan hidupnya yang sangat detail dan sempurna, yang kalau sampai terwujud beliau akan jadi orang yang sangat sukses di usia muda. Teman yang lain sudah menyusun rencana perjalanan yang setiap menitnya sudah jelas akan melakukan apa. Saya berharap agar rencana mereka tidak ambruk seperti milik saya dan si laba-laba. Hanya saja, beberapa minggu ini saya sempat mempertanyakan kenapa saya selalu gagal. Kenapa saya mudah sekali berteman dengan kegagalan sementara orang lain nyaris tidak pernah bertemu dengannya.

Kembali ke masalah rencana, kegagalan ini memaksa saya untuk memikirkan cara agar saya tidak gagal-gagal sekali. Definisi kegagalan saya mungkin sedikit berbeda dengan kegagalan versi awam, yang mana bagi saya, kegagalan adalah tidak mencoba. Selain agar saya tidak kecewa-kecewa amat dengan hasil akhirnya, standar kegagalan yang rendah meningkatkan kemungkinan hidup saya menjadi lebih banyak berhasilnya — walau keberhasilan itu juga sesuai dengan standar yang saya turunkan. Sama seperti si laba-laba. Meski jengkel, namun dia tidak bisa selamanya meratapi sarangnya yang berantakan. Laba — laba itu punya dua alternatif yang sama-sama baik: membangun kembali bagian yang rusak atau sekalian pindah ke tempat yang lebih aman — yang kira-kira tidak terjangkau tangan manusia, dan memulai dari awal. Dan begitu juga saya. Pekerjaan saya sekarang adalah mengira-ngira bagian mana dari kepingan itu yang bisa saya teruskan dan mana yang harus saya susun ulang. Sambil saya menyesuaikan diri dengan keadaan.

Mungkin memang rencana itu tidak bisa terwujud seratus persen, mungkin hanya sembilan puluh persen, satu persen, atau malah nol koma sekian persen. Sudah sering saya membaca biografi orang-orang sukses dan terkenal dan kebanyakan dari mereka membuktikan bahwa memprediksi hidup adalah pekerjaan paling sia-sia. Bukan berarti beliau-beliau tidak punya rencana, saya yakin beliau pasti semasa muda memiliki puluhan atau malah ratusan skenario hidup yang sudah beliau susun matang-matang. Akan tetapi, hidup punya aturan main sendiri dan pekerjaan manusia seringkali tereduksi dari usaha menjadi menerima kenyataan.

Saya yakin, laba-laba itu akan lebih cepat selesai daripada saya. Mungkin dia sudah menemukan tempat yang cocok untuknya sementara saya masih berurusan dengan harapan yang pecah di sana sini. Tapi pada akhirnya, saya juga yakin, bahwa kami berdua — saya dan si laba-laba — akan sampai pada suatu hari di mana meski rencana kami pernah gagal, hidup memberikan sesuatu yang lebih baik. Entah kapan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.