Pilgub DKI dan Teori yang Dianggap Dongeng

Debat pertama para calon gubernur DKI Jakarta telah usai. Tapi perasaan gelisah saya masih saja tidak bisa saya hilangkan. Terlebih dari argumentasi ahok yang mendiskreditkan profesi anies baswedan.

Memang benar peaktik itu penting. Tapi bukannya praktik tanpa teori jadinya anarki? Kita lihat saja, kurang anarkis apalagi Pemda DKI melakukan penggusuran. Melibatkan satpol pp, polisi, bahkan TNI yang jelas-jelas bukan ranahnya ikut campur dalam urusan sipil.

Apakah praktik seperti itu yang dianggap benar oleh ahok dan didambakan oleh warga jakarta? Itu masih seputar penggusuran. Belum bicara soal tata ruang, pertanahan, dll.

Sialnya lagi, para pegiat media sosial, khususnya seleb-seleb twitter (pendukung ahok) yang lebih suka nyinyir dalam kampanye, justru menjadikan hal tersebut sebagai bahan bulling.

Bullingnya jelas, menganggap seorang anies baswedan hanyalah pendongeng yang terlampau teoritis. Padahal di ranah akademik, yang dikatakan anies baswedan adalah hal yang sering saya terima dan diskusikan di kampus.

Saya tidak tau mahasiswa Jakarta mendapatkan itu atau tidak. Tapi di jogja, kebanyakan mahasiswa menerima itu. Bahkan tidak hanya di kampus, di ruang-ruang publik pun mereka juga dapat. Dari hal yang terkecil seperti pamflet-pamflet liar, sampai ruang diskusi di warung kopi pun ada. Dan itu suatu yang umum di Jogja.

Memang jogja bukan jakarta, begitu juga sebaliknya. Tapi apa harus kita menaifkan jika Pilgub DKI tidak dilihat masyarakat secara nasional? Apa kita harus menaifkan jika stasiun TV kota Jakarta itu tidak menyiarkan secara nasional?

Kalau memang teori itu tidak penting, kenapa juga mahasiswa diajarkan teori ini itu di kampus? Kenapa tidak langsung saja disuruh praktik? Bahkan sekolah SMK pun, yang katanya langsung kerja, apa iya mereka tidak mendapatkan teori terlebih dahulu? Kan tidak. Atau jangan-jangan memang benar, pendidikan tinggi hanyalah satu pasar tenaga kerja berkedok pendidikan? Entahlah…

Selain itu data-data yang di sampaikan ahok terkait kerja mereka dalam debat juga banyak yang salah. Sebagai contoh; ahok mengatakan tidak pernah menggusur area diluar bantaran sungai. Apa ahok lupa yang terjadi dengan lebak bulus, pasar minggu, dan rawajati (daerah kumuh)? Selain itu ahok juga mengatakan telah menyelesaikan 188 ruang publik terpadu. Padahal per oktober 2016 baru 71 yang diresmikan.

Kita pun juga tidak pernah tau perkembangan dari pemanfaatan atas ruang tersebut. Setidaknya kita tidak pernah diberitahu resume dari semua proyek tersebut. Tiba-tiba saja ahok sudah bicara di depan media kalau warganya senang.

Begitulah jakarta, terlampau pragmatis. Tanpa terkecuali mahasiswanya. Saya melihat sendiri dari teman-teman saya yang kuliah di jakarta. Dan kebanyakan dari mereka memang mendukung ahok mati-matian.

Dan jika argumen ahok yang meremehkan dosen dianggap benar oleh para kaum intelektual jakarta di dunia nyata dan maya, jelas ini akan berbahaya. Bukan berbahaya untuk di jakarta, melainkan di daerah lain di luar jakarta. Bagus jika banyak yang menentang, kalau hanya menerima mentah-mentah? Ditambah, seperti yang kita ketahui, pendidikan di luar pulau jawa masih belum merata. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya masa depan kaum intelektual di Indonesia.

Kerja memang penting, tapi seperti pepatah lama bilang “kalau kerja hanya sekedar kerja, monyet di hutan juga melakukan kerja”. Lantas apa itu kerja?