Untitled …

Bagaimana Jika?
“We could have been the greatest love story ever told.
If only you’d stayed in character.” 
 ― Joseph Gordon-Levitt

Ah… Cinta. 
Apakah ada hal lain yang terasa begitu luhur ?

My heart’s pounding, I am flushed with excitement and giddy with anticipation. I jump every time my smartphone pings me with a text, hoping it’s from her.

Tidak ada yang menghalangi jalanmu dengan dia. Seolah koneksi antara Aku dan dirinya sudah diluar nalar dunia ini. Seolah aku sudah mengenal dirinya seumur hidup dia, seolah hampir tidak bisa berdiri untuk menjadi terpisah.
Aku tidak memiliki keraguan membawa dia kehadapan teman dan keluarga seolah dengan bangganya aku mengumumkan bahwa “She is the one”.

Tapi aku terlalu lelah untuk hal seperti ini …
Dari awal kita bertemu, Aku percaya bahwa she is the one for me.
Maybe it sounds silly… but i’ve never felt anything like this, The first time I feel nervous, scared, and happy at the same time.

Teringat kembali saat itu…
Saat dimana aku ingin melangkah ke tahap selanjutnya … memilikinya.
Sungguh bahagia bercanda dan tertawa bersamanya.

Jika kalian bertanya apa yang aku suka darinya? 
Aku menyukai tatapan hangatnya ketika melihatku seolah berkata bahwa dia miliku dan aku menyukai segalanya tentang dia.

Aku ingin memberikan sesuatu untuk dia . . .
Sesuatu yang berarti baginya … kebersamaan.

Di hari yang spesial baginya ingin aku membuat kenangan yang tak terlupakan tentang kita, hingga suatu saaat nanti masih ada yang tertinggal untuk diingat.

Setiap pasangan memiliki tempat favoritnya bukan?

Tempat dimana banyak hal terjadi …

Kenangan kenangan indah terjadi …

Disitulah tempat Favoritku, tempat dimana dia berkata kepadaku hanya aku yang dia inginkan dalam hidupnya.

Semua terasa indah … Bagaikan mimpi … Aku bahagia …
Tapi mimpi tidak berlaku selamanya bukan …
Aku takut saat itu tiba … Ketika mimpi harus berhadapan dengan realita.

Ini realita yang aku hadapi …
Dia dan aku tak lagi sejalan, ketika cinta dipisahkan oleh ego masing masing.
Siapa salah dan benar sudah tak ada bedanya, hanya siapa yang menang dan kalah. Hanya satu hal aku inginkan sekarang … Senyumnya kembali

Yang kulihat hanyalah air mata, wajah yang memerah sungguh menyayat hatiku … Jangan Menangis itu yang ingin ku ucapkan.

Namun aku lelah … Cinta yang dulu ada mungkin telah mendingin.

Apakah ini wajar terjadi?

Masihkah aku mencintainya?

Semuanya terulang kembali, Apakah ini hanya mimpi?
Jika ini mimpi?

Bagaimana jika kalau ku ulang semua dari awal … dan memilih untuk tidak bersamanya.
Bagaimana jika aku tak memilihnya? Akankah dia tetap memilihku?
Bagaimana jika aku tak mendekatinya? Akankah kita tetap bersama?

Ku lewati semua kenangan yang seharusnya kita lalui bersama. 
Kenangan ketika hari dimana aku menyatakan perasaanku.

Bagaimana jika ku buat dia menunggu? Akankah dia menungguku?
Bagaimana jika kita menjalani semuanya sendiri? Bahagiakah dia tanpaku?

Ini tidak seperti yang aku bayangkan.
Bukan keadaan seperti ini yang aku inginkan, aku benci keadaan seperti ini.

Andai aku tau aku akan tersakiti jika bersamanya, akankah aku akan tetap memilih bersamanya?

Aku merasa kosong tanpanya …
Bukankah cinta adalah kuatku untuk bertahan. Bahwa aku tak dapat menyerah begitu saja, bahwa dia telah menjadi bagian hidupku.

Maafkan aku karena aku tak tahu bagaimana mencintaimu.
kini ku tahu rasanya hidup tanpa dirinya.

aku merindukannya… keberadaanya … Aku merindukan dia.

Ini bukan tentang siapa yang salah dan benar. Ini tentang rasa cintaku padanya. Tentang kenganan bahagia kita bersama
Ijinkanlah aku membahagiakanmu lagi ...

“Love is not big thing, but a million small thing matters.” — 050
Ahh ... cinta. Apakah ada hal lain yang terasa begitu luhur?
Like what you read? Give Sandy Sutrisno a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.